Sulit sekali membuka hati untuk memadu rasa. Keraguan yang terbangun karena kegagalan-kegagalan telah menjadikan keangkuhan. Kemampuan untuk bertahan melawan kutukan yang kubuat sendiri mudah terganggu meski kadang terkukuhkan lagi. Dalam hal ini, posisi doa menjadi penting.
Sudah saatnya untuk tidak lagi berharap nikmat.
Saya lelah membuat ulah rusuh pada tubuh. Keputusanku untuk merapikan rambut menuai pro kontra. Ada yang suka dengan kerapian, ada yang merasa ciri khasku hilang dan ada pula yang ngefans pada tampilanku yang berambut acak-acakan.
Tentang ciri khas atau apapun itu. Saya akan membangun ciri khas sendiri. Bukan dalam style, karena style ku tidak bagus dan tidak suka ber style. Saya akan membuat ciri khas dalam berbicara, berorasi, berdebat, menulis dan berpikir. Hal-hal semacam ini membutuhkan latihan yang tak mudah. Yang terpenting lagi adalah waktu. Dialah yang akan membentuk karakter pribadiku melalui proses dialektika yang panjang hingga saya menjadi the real of Rizal Mubit setelah namaku tertulis di batu nisan.
Thursday, April 21, 2011
SELASA, 19 APRIL 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment