Sunday, April 3, 2011

JUMAT, 1 APRIL 2011

NIAT ATAU HASIL?


Konstruk pemikiran umat Islam yang lebih mementingkan niat perlu diubah. Bukannya mengkesampingkan hadis nabi tentang niat, namun umat Islam juga perlu mengetahui ada hadis lain menyatakan bahwa amal itu dinilai dengan hasilnya. Bukankah dalam zakat dan sedekah tidak cukup dinilai dari niatnya melainkan harus terukur dan memiliki dampak yang nyata.
Umat Islam banyak yang terobsesi dengan hadis "niat" sehingga seringkali hasil pekerjaan tidak maksimal. Asalkan sudah berniat untuk melakukan kebaikan, entah terlaksana atau tidak, banyak orang yang sudah merasa sudah mendapat pahala niat dari Tuhan. Saya teringat salah satu temanku.
Beberapa kali saya mengajaknya
"Ayo ikut diskusi"
"Ayo" katanya. Setelah lama ditunggu dia bilang,
"Kamu duluan saja"
Akhirnya saya berangkat diskusi. Ketika diskusi mulai sampai selesai dia tak kunjung datang.
Seringkali saya melakukan hal serupa. Entah mengajaknya ke kampus, ke perpus ke masjid atau ke manapun dia cuma bilang "ya". Namun sama dengan pengalaman sebelumnya. Dia tak datang. Hingga suatu ketika aku tahu alasannya saat mengajaknya pergi.
"Ayo ikut aku..."
"Kemana?" tanya dia.
"Ke perpus."
"Ya."
"Kamu tuch iya-iya terus tapi nggak pernah berangkat."
"Yang penting aku sudah niat. Masalah berangkat atau tidak tergantung nanti. Niatku ke perpus sudah dihitung pahala meski nggak berangkat".
Dari alasannya itu, akhirnya saya tahu betapa dia sudah terobsesi oleh niat. Padahal sudah jelas sekali antara dia berangkat ke perpus untuk belajar atau hanya niat berangkat saja. Dia tak mungkin bisa menambah pengetahuan dari bacaan-bacaan di perpustakaan hanya dengan niat ke pergi saja.
Contoh di atas hanya masalah sepele. Bagaimana jika hal ini dilakukan dalam masalah-masalah besar seperti yang dilakukan oleh pejabat dan pemimpin kita . Sudah berapa kali telinga kita mendengar pemerintah mengatakan "Pemerintah akan berusaha......."
titik-titik itu bisa jadi memberantas kemiskinan atau memajukan pendidikan atau menjadikan pemerintahan yang bersih atau membasmi korupsi.
Kata akan di atas seolah menggambarkan orang yang tidak memiliki komitmen dan konsistensi untuk mendapatkan hasil maksimal. Jangan-jangan pemerintah juga terobsesi oleh niat sehingga merasa sudah mendapat pahala dengan mengatakan "akan" tanpa harus melaksanakan apa yang dikatakan. Lebih parah lagi kalau dengan berkata "akan" pemerintah sudah merasa menggugurkan kewajibannya.

No comments:

Post a Comment