Kuliah Sejarah Peradaban Islam baru membahas masa Khulafaur Rosyidin. Karena tadi ada yang menyinggung politik yang dilakukan para khalifah, saya terpaksa angkat bicara. Saya ingin menyampaikan kesalahpahaman tentang politik yang terjadi di antara kami.
Saya masih ingat apa yang disampaikan oleh Mas Nasih saat Sekolah Politik hari Sabtu kemarin. Politik berasal dari Athena. Asal kata politik adalah police yang berarti nation state (negara bangsa). Secara umum, kata police diartikan para filsuf dengan segala upaya yang dilakukan untuk membangun negara demi kepentingan bersama. Namun terjadi pergeseran makna politik sehingga banyak orang yang jijik dengan politik. Persepsi politik menjadi buruk karena ulah para politisinya yang mempraktekan sesuatu yang salah. Bukan hanya itu, mereka juga mengkambinghitamkan politik agar kompetitornya menurun sehingga mereka bisa seenaknya sendiri tanpa saingan.
Dewasa ini, pergeseran makna politik lebih banyak diyakini masyarakat sebagai makna yang sebenarnya. Bisa dianalogikan bahwa politik seperti pisau dapur, bisa dipakai untuk perbuatan baik dan jahat, tergantung siapa yang menggunakannya.
Pemahaman salah itu perlu diluruskan. Jika tidak, para penjahat akan seenaknya memainkan politik dan orang-orang yang seharusnya berpolitik menjauh dari politik. Orang-orang yang baik dan mempunyai pengetahuan luas untuk membangun negara selama ini termakan oleh propaganda para politisi penjahat. Buktinya bisa dilihat di negara kita, banyak ahli di bidang politik hanya aktif di dunia akademik. Padahal seharusnya mereka mereka juga ikut terjun di dunia politik.
Sepertinya sebagian besar teman-teman salah paham tentang politik. Seolah karena politik menuduh Sahabat Ustman seolah melakukan praktek nepotisme hanya karena politik. Ada juga yang beranggapan bahwa politik lah yang menyebabkan bunuh-membunuh antar sahabat untun perebutan kekuasaan.
Saya benar-benar tak setuju dengan pandangan di atas. Bukan politik yang menyebabkan. Jika terjadi peperangan di antara para sahabat, penyebabnya adalah perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan buka termasuk dalam politik. Politik bersifat membangun bukan memberontak. Perbuatan buruk warga negara atas nama kekuasaan dinamakan monitik, bukan politik. Kalau ada orang, siapapun orangnya, melakukan langkah-langkah demi kepentingan pribadi atau kelompok tapi mengatasnamakan kepentingan negra, adalah monitik. Sekali lagi, politik itu untuk kebaikan bersama. Tidak pantas mengatakan perbuatan buruk politisi dengan nama politik.
Sebelumnya saya juga pernah mendengar bahwa terjadi praktek nepotisme pada masa khalifah Utsman, tapi dari diskusi di atas saya mendapatkan petunjuk bahwa memang banyak pejabat negara pada masa Ustman dipegang oleh kerabat dekat Ustman. Namun perlu diketahui bahwa itu bukan keinginan Ustman, melainkan keinginan orang-orang terdekatnya yang memintanya. Karena kelembutan hatinya, ia tak sampai hati jika menolak permintaan itu.
Saturday, April 2, 2011
KAMIS, 31 MARET 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment