Jumat, 19 September 2015
Saya kembali ke
pesantren Al-Iman Ponorogo, sowan Kiai Zawawi. Dulu pernah ke tempat itu pada
April 2012 dalam rangka mengikuti pelatihan falak. Hari ini saya menghadap
beliau untuk mengantarkan Saddam sambil berharap ada ilmu baru yang disampaikan
padaku.
Dulu aku pernah
dibuatnya terpukau karena apa yang disampaikannya, tentang ilmu yang
didapatkannya dari intuisi. Boleh dikata sebagai ilham. Dalam filsafat islam
disebut dengan metode burhani, pengetahuan yang didapat dari hal-hal gaib. Dalam
Quran memang hal semacam ini ada dan hanya orang-orang tertentu yang bisa
mendapatkannya. Karya tafsir pun ada yang menggunakan pendekat burhani seperti
karya Ibnu ‘Arabi.
Betapa waktu itu aku
ingin meneteskan air mata sebab Kiai Zawawi menyampaikan sesuatu yang sedang
dalam benakku. Apalagi waktu itu aku sedang mengalami masa-masa di mana aku
ingin mengenali Tuhan melalui logika. Sama seperti hari ini. Perbedaannya, saat
ini keingintahuanku dalam masalah ini lebih mendalam karena banyak buku yang
pernah kubaca sebelumnya.
Waktu itu Kiai Zawawi
seperti menguliti caa berpikirku yang sesat sehingga aku bisa kembali lagi. ‘Keimananku’
bisa menjadi seperti semula bahkan jadi lebih mantap. Begitulah, keraguan
adalah awal dari kemantapan jika mendapat jawabannya.
Hari ini saya tak ada
rencana apa-apa selain membantu Saddam. Tak ada persiapan apa-apa walaupun saya
merasakan keraguan lagi dalam beragama. Tepatnya sudah bosan membahas beragama.
Bukan berarti malas beribadah dan mau keluar dari Islam. Saya tetap percaya
Allah ada. Yang menjadikanku kemudian
berpikiran sepert seperti sekarang adalah karena melihat ulah pemeluk agama
yang mulai memuakkan. Background saya yang santri dan sekarang terpaksa dipanggil
ustadz juga menjadi penyebab mengapa aku jadi seperti ini.
Untuk hal-hal seperti
ini mungkin perlu ditulis di lain kesempatan. Kali ini cukup dengan cerita
perjalanan ke Ponorogo. Di pondok Al Iman aku dan Saddam disambut oleh Hasan,
adik kelas dua tahun yang ternyata usianya lebih tua dariku. Saya kembali
mengetahui model pendidikan di pondok selain pesantren-pesantren di Jombang.
Sistem pendidikan
yang diberlakukan seperti di Gontor. Kurikulum bisa diatur sendiri tanpa campur
tangan pemerintah. Begitu juga dalam hal penilaian yang bisa menggunakan
standar sendiri bukan seperti keinginan pemerintah yang mengharap ada mark up
nilai.
Ulah pemerintah tak
bisa dihentikan dengan sesaat. Langkah terbaiknya adalah dengan keberanian
sebagaimana Gontor dan Al Iman kalau menggunakan perpaduan sistem pondok dengan
pemerintah, tentu menjadikan santri susa konsentrasi. Adanya justru akan
membuat mereka menanggung banyak mata pelajaran sesuai keinginan pemerintah dan
pondok.
Kedisipinan yang
ditanamkan kepada santri adalah semacam hasil pemikiran matang mulai dari cara
berpakaian dan hal-hal kecil lain. Semuaya diambil dari Quran, begitu kata Kiai
Zawawi. Sepertinya sampai di sini dulu ceritanya. Aku ngantuk.


No comments:
Post a Comment