Friday, September 18, 2015

SOWAN KE AL IMAN PONOROGO

Jumat, 19 September 2015

Saya kembali ke pesantren Al-Iman Ponorogo, sowan Kiai Zawawi. Dulu pernah ke tempat itu pada April 2012 dalam rangka mengikuti pelatihan falak. Hari ini saya menghadap beliau untuk mengantarkan Saddam sambil berharap ada ilmu baru yang disampaikan padaku.

Dulu aku pernah dibuatnya terpukau karena apa yang disampaikannya, tentang ilmu yang didapatkannya dari intuisi. Boleh dikata sebagai ilham. Dalam filsafat islam disebut dengan metode burhani, pengetahuan yang didapat dari hal-hal gaib. Dalam Quran memang hal semacam ini ada dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya. Karya tafsir pun ada yang menggunakan pendekat burhani seperti karya Ibnu ‘Arabi.

Betapa waktu itu aku ingin meneteskan air mata sebab Kiai Zawawi menyampaikan sesuatu yang sedang dalam benakku. Apalagi waktu itu aku sedang mengalami masa-masa di mana aku ingin mengenali Tuhan melalui logika. Sama seperti hari ini. Perbedaannya, saat ini keingintahuanku dalam masalah ini lebih mendalam karena banyak buku yang pernah kubaca sebelumnya.

Waktu itu Kiai Zawawi seperti menguliti caa berpikirku yang sesat sehingga aku bisa kembali lagi. ‘Keimananku’ bisa menjadi seperti semula bahkan jadi lebih mantap. Begitulah, keraguan adalah awal dari kemantapan jika mendapat jawabannya.

Hari ini saya tak ada rencana apa-apa selain membantu Saddam. Tak ada persiapan apa-apa walaupun saya merasakan keraguan lagi dalam beragama. Tepatnya sudah bosan membahas beragama. Bukan berarti malas beribadah dan mau keluar dari Islam. Saya tetap percaya Allah ada. Yang  menjadikanku kemudian berpikiran sepert seperti sekarang adalah karena melihat ulah pemeluk agama yang mulai memuakkan. Background saya yang santri dan sekarang terpaksa dipanggil ustadz juga menjadi penyebab mengapa aku jadi seperti ini.

Untuk hal-hal seperti ini mungkin perlu ditulis di lain kesempatan. Kali ini cukup dengan cerita perjalanan ke Ponorogo. Di pondok Al Iman aku dan Saddam disambut oleh Hasan, adik kelas dua tahun yang ternyata usianya lebih tua dariku. Saya kembali mengetahui model pendidikan di pondok selain pesantren-pesantren di Jombang.

Sistem pendidikan yang diberlakukan seperti di Gontor. Kurikulum bisa diatur sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Begitu juga dalam hal penilaian yang bisa menggunakan standar sendiri bukan seperti keinginan pemerintah yang mengharap ada mark up nilai.

Ulah pemerintah tak bisa dihentikan dengan sesaat. Langkah terbaiknya adalah dengan keberanian sebagaimana Gontor dan Al Iman kalau menggunakan perpaduan sistem pondok dengan pemerintah, tentu menjadikan santri susa konsentrasi. Adanya justru akan membuat mereka menanggung banyak mata pelajaran sesuai keinginan pemerintah dan pondok.

Kedisipinan yang ditanamkan kepada santri adalah semacam hasil pemikiran matang mulai dari cara berpakaian dan hal-hal kecil lain. Semuaya diambil dari Quran, begitu kata Kiai Zawawi. Sepertinya sampai di sini dulu ceritanya. Aku ngantuk.



 

No comments:

Post a Comment