Senin, 28 September 2015
Sudah banyak yang tahu bahkan hafal di luar kepala apa itu filosofi padi. Tak perlu dipaparkan di sini bagaimana bunyinya. Filosofi ini sudah mengakar di masyarakat Indonesia, sudah mendarah daging sehingga menjadi filosofi yang oleh sebagian orang menjadi kebanggaan dan terus dikampanyekan. Penyebaran ajaran filosofi padi ini secara tidak sadar telah membuat jiwa inlander di Indonesia semakin mengakar, yakni mental rendah diri dan ingin selalu di belakang.
Sudah banyak yang tahu bahkan hafal di luar kepala apa itu filosofi padi. Tak perlu dipaparkan di sini bagaimana bunyinya. Filosofi ini sudah mengakar di masyarakat Indonesia, sudah mendarah daging sehingga menjadi filosofi yang oleh sebagian orang menjadi kebanggaan dan terus dikampanyekan. Penyebaran ajaran filosofi padi ini secara tidak sadar telah membuat jiwa inlander di Indonesia semakin mengakar, yakni mental rendah diri dan ingin selalu di belakang.
Tidak
jelas siapa gerangan yang pertama kali mengemukakan filosofi ini. Sampai sekarang,
ajarannya masih diajarkan bahkan juga dicarikan dalil-dalil agama. Lengkaplah sudah
ketidakpercayaan diri manusia Indonesia di tengah percaturan kehidupan global.
Sebenarnya
tak perlu jauh-jauh sampai membandingkan manusia Indonesia sampai ke ruang
lingkup internasional. Cukup saja melihat bahwa ternyata yang menjadi pimpinan
suatu daerah baik eksekutif maupun legislatif bukan putra terbaiknya melainkan
orang yang kemampuannya setengah-setengah. Banyak orang baik dan lebih
berkualitas malah tersingkir atau bahkan sengaja disingkirkan. Dengan filosofi
padi lalu orang-orang berkualitas ini lalu menganggap dirinya maklum dan
semakin menundukkan diri bukan malah menyeruduk menurunkan medioker yang berada
di pucuk pimpinan.
Mental
rendah diri berbeda dengan rendah hati. Rendah hati memang diperlukan. Dalam masyarakat
demokratis ini, sikap rendah hati biarlah tertanam dalam jiwa. Tidak perlu
ditampakkan. Sebab dengan begitu, orang tidak tahu kemampuan diri sehingga
orang yang sebenarnya tidak mampu tapi percaya diri akan bisa mempengaruhi
masyarakat. Apalagi setelah dibungkus pencitraan yang minus kualitas.
Orang
pandai di negara ini banyak sekali. Penemuan-penemuan teknologi canggih,
kemenangan lomba dan hal-hal positif lain sudah banyak dilakukan orang
Indonesia. Tapi mereka ini tidak muncul di permukaan kalau tidak diumumkan oleh
media massa. Keberadaannya tidak dikenal banyak orang kalau tidak membuat
sesuatu yang menggemparkan. Sementara itu, orang yang tak punya kualitas
memadai, seringkali tampil di layar kaca, di media massa sehingga menjadi
panutan.
Agus
Sunyoto, penulis buku Atlas Walisongo, pernah menyampaikan bahwa sebenarnya
dulu orang Indonesia bermental congkak, sombong sedunia. Menurutnya, apa yang
diucapkan tersebut berdasarkan sebuah buku catatan perjalanan orang luar (saya
lupa namanya) saat berkunjung di Indonesia. Dalam buku tersebut dituliskan,
derajat orang asing dalam sistem kelas yang berlaku saat itu berada di bawah kaum
sudra. Mental orang Indonesia ini ada sebelum negara ini jauh sebelum kedatangan
penjajah.
Dalam
sistem demokrasi, orang pandai harus menampakkan diri. Harus bersaing dalam
kebaikan, ikut dalam kompetisi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Bukan merunduk,
bersembunyi sambil tak mau tahu persoalan yang sedang dihadapi bersama oleh
nagara. Tidak layak jika mereka hanya mengkritisi dari belakang tanpa ada upaya
untuk merebut kekuasaan dari orang-orang medioker yang sudah terlanjur berada
di atas.
Sudah
waktunya menghentikan filosofi padi. Orang yang berkualitas harus berada di
atas agar yang dikira berkemampuan tidak lagi memimpin, tidak lagi menjadi
orang yang dipercaya memegang jabatan baik dalam perusahaan, dalam sebuah desa
dan lebih-lebih dalam sebuah negara. Orang-orang pintar, memiliki kemampuan dan
penuh pengalaman harus bersuara lantang, berbagi ilmu dan ikut berperan
membangun peradaban.
Filosofi
padi akan membuat orang hebat akan dimakan sejarah, disembunyikan oleh hiruk
pikuk keramaian demokrasi yang gaduh. Demokrasi yang tidak sehat yang
mengantarkan orang yang kemampuannya setengah-setengah menjadi seolah hebat. Sebaliknya
orang yang benar-benar hebat malah tersingkir, diasingkan dan dibiarkan ditelan
zaman.
Padi
semakin matang bukan dibiarkan merunduk, namun harus ditumbuk hingga jadi
beras. Lalu dimasak menjadi nasi atau bubur sekalipun asal bisa bermanfaat bagi
orang banyak. Padi yang semakin tua dan berisi tapi dibiarkan saja tidak
dipanen akan dimakan burung atau malah mati karena tua dan layu.

mantab mas. terkadang filosofi mempunyai plus minusnya. hal yang biasa dapat menjadi masalah di waktu yang akan datang. kita harus pandai menganalisanya.
ReplyDelete