Friday, September 25, 2015

ISLAM DALAM KELUARGA (KU)

 Sabtu, 26 September 2015


Sejak kemarin sudah dapat daging Kurban (23/9). Budeku yang sakit-sakitan (semoga sehat dan panjang umur) ikut Muhammadiyah sama dengan almarhum suaminya. Dulu sewaktu kecil saya beberapa kali ikut Pakde jumatan di masjid Muhammadiyah. Kalau waktu kurban, saya dulu juga sering disuruh Bude menukarkan kupon untuk mendapat daging. Karena anaknya masih kecil. Biasanya keluarga Bude dapat kupon dari dua masjid Muhammadiyah. Masjid desa sendiri dan masjid tetangga desa. Dulu mbakku juga waktu MI sekolah di Muhammadiyah. Sekarang kerja di rumah sakit Muhammadiyah walaupun almarhum suaminya pernah jadi ketua MWC NU.

Keluargaku sendiri tidak terlalu fanatik golongan. Kebetulan saja dulu saya nyantri di pondok yang berafiliasi NU. Jadi saya sekarang secara kultural ya NU. Kalau cara berpikir mungkin bisa dibilang tidak seratus persen NU. Sebab dulu waktu kuliah ikut organisasi ekstra kampus yang mengajarkan Islam Indonesia bukan islam yang bergantung organisasi ini atau itu. Saya juga suka baca buku pemikiran orang-orang di luar NU. Saya mengagumi beberapa tokoh NU, kiai-kiai pesantren. Tetapi saya juga mengagumi Ahmad Dahlan, Buya Syafii Maarif dan tokoh Islam yang tidak bergabung dalam NU.

Tak jadi masalah buat saya. Sampai detik ini pun belum pernah bergabung dalam organisasi NU. Kalau ada acara NU ya hanya ikut-ikutan saja. Bapakku, adikku dan semua saudaraku menjadi NU karena lingkungan di desaku. Bukan karena memiliki kartu anggota NU. Malah bapak dan ibuku punya kartu anggota partai.

Dalam hal pemikiran filsafat dan pengetahuan alam, saya kagum pada tokoh-tokoh Syiah seperti Murtadha Muthahhari, Ibnu Sina, Al-Farabi dan lainnya. Ada juga salah satu orang Ahmadiyah yang inspiratif dalam hal pemikiran keislaman-keindonesiaan yang perlu dicontoh yaitu Djohan Efendi. Tokoh-tokoh di luar organisasi masyarakat Islam yang pemikirannya saya kagumi ada Tan Malaka, Nurcholis Madjid dan banyak lainnya. Tokoh-tokoh inilah yang mempengaruhi cara berpikirku. Singkatnya, saya punya pakem sendiri dalam berpikir yang dihasilkan dari banyak aliran dan tokoh yang saya baca.

Organisasi apapun pasti punya kelemahan dan kelebihan. Tidak semuanya buruk dan tidak ada yang sempurna. Setiap orang berhak bergabung dimana saja asal tidak sekedar ikut-ikutan. Harus benar-benar mengetahui ajarannya, amalan yang harus diikuti dan kultur apa yang perlu dilaksanakan. Ini yang banyak tidak diperhatikan. Kemarin saya mengajak sepupuku ziarah kubur. Dia anak Pakdeku yang Muhammadiyah. Sambil menabur kembang di atas pusara, dia bercerita liang kubur bapaknya dulu bersih sekali. Lalu aku bertanya,"Mengapa kamu tabur bunga?" dia menggeleng tak tahu. Saya kira banyak juga yang tak paham tentang ini. Menabur bunga hanya ikut-ikutan saja. Lalu saya terangkan padanya kisah nabi yang berkaitan dengan ini kepada sepupuku.

Keterbukaan berpikir memang sangat perlu. Namun demikian dalam hal tertentu harus punya pegangan. Misalnya dalam fikh, walaupun baca buku-buku Syiah dan Ahmadiyah, saya masih sreg sama fikih empat mazhab. Konsep imamah dan nikah mut'ah dalam Syiah tak saya sepakati sekalipun sudah mencoba memahami dan memaklumi. Tapi saya bangga dengan cara berpikir rasional dalam memahami semesta sehingga orang Syiah di Iran maju dalam teknologi. Konsep kenabian dalam Ahmadiyah juga kurang saya setujui. Namun saya kagum terhadap kesetiaan orang-orang Ahmadiyah terhadap Islam. Mereka dimusuhi, dituduh sesat dan dibuat celaka oleh golongan lain. Dan mereka tak pernah membalasnya. Mereka setia dengan kepercayaan yang diyakini.

Tidak semua orang memang mampu melakukan hal demikian. Banyak orang yang masih merasa perlu berkiblat dengan satu golongan sambil menutup mata kepada golongan lain. Atau malah memang tidak memiliki akses untuk memahami golongan lain. Seperti emakku dan adik pertamaku yang sudah cukup dengan pengetahuan agama yang dimiliki sambil berusaha mengamalkan. Tidak perlu lagi macam-macam karena kesibukan di rumah. Yang seperti ini jumlahnya lebih banyak. Agama cukup untuk dipahami dan diamalkan diri sendiri tanpa perlu mengusik kepercayaan orang lain. Jika ada yang perlu ditanyakan, cukup bertanya kepada ustadz yang dianggap mampu menjawabnya. Justru yang ruwet adalah cara memahami agama sepertiku. Biarlah ini saya sendiri saja yang mengamalkan.



No comments:

Post a Comment