Friday, September 25, 2015

FAQODNA ANDALUSIA, WAJADNA INDONESIA



Yang paling menarik dalam kajian Islam di Andalusia (Spanyol) adalah tentang jumlah umat Islamnya saat ini. Jika dibandingkan dengan Islam di Indonesia, maka jumlahnya jauh lebih sedikit. Padahal dalam sejarah, Islam masuk ke Andalusia lebih dahulu dari pada ke Indonesia. Maka, tidak salah jika ada kalimat yang berbunyi faqodna Andalusia, Wa wajadna Indonesia. Kita kehilangan Andalusia, dan menemukan Indonesia.

Kalimat tersebut muncul sebagai reaksi terhadap jumlah umat Islam di Andalusia yang menyusut dan sebaliknya, kuantitas umat Islam Indonesia semakin banyak. Fakta sejarah tersebut adalah disebabkan oleh metode dakwah Islam yang dilakukan oleh para pelaku sejarah saat itu.

Jasa para wali dalam pengembangan Islam tak perlu dibahas panjang dalam tulisan ini. Titik berat dalam bahasan ini ialah Islam di Andalusia jika dibandingkan dengan konteks  Eropa hari ini. Sebagian penduduknya sedang gencar memprotes keberadaaan Islam.

Agama yang disebarkan dengan pedang, akan diusir dengan pedang. Barangkali kalimat itu memang tepat dijadikan gambaran atas fakta yang terjadi sejak Spanyol. Diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.

Sebelumnya, Umat Islam telah menguasai beberapa wilayah di Afrika Utara. Selanjutnya dari Afrika Utara, umat Islam melakukan perluasan kekuasaan ke wilayah Spanyol.

Terdapat tiga panglima yang berjasa dalam penaklukkan wilayah Spanyol. Pertama, Tharif ibn Malik sebagai perintis dan penyelidik. Dia berhasil memasuki wilayah Spanyol dengan membawa satu pasukan. Kedatangannya tidak mendapat perlawanan yang berarti, sebab pada saat yang sama di wilayah Spanyol sedang terjadi kemelut dalam tubuh kerajaan Visigothic, kerajaan yang berkuasa saat itu.

Atas dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, pada tahun 711 M Musa ibn Nushair mengirim pasukan yang lebih banyak. Sedikitnya 7000 orang datang menyerbu Spanyol dibawa pimpinan Thariq ibn Ziyad.

Dari ketiga tokoh di atas, Thariq ibn Ziyad lebih dikenal sebagai penakluk Spanyol karena jumlah pasukan dan keberhasilannya. Sebagian pasukan yang dibawa olehnya terdiri atas orang-orang dari suku Barbar. Salah satu peninggalan sejarah yang sampai saat ini masih dikenal oleh banyak orang adalah keberadaan Gibraltar (Jabal Thariq), sebuah bukit tempat pertama kali Thariq menyiapkan pasukannya. Dari sinilah dia mulai menguasai wilayah Spanyol lainnya.

Thariq mampu mengalahkan Raja Roderick di sebuah wilayah bernama Bakkah. Kemudian pasukannnya mampu menguasai kota-kota penting seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibukota kerajaan).

Musa ibn Nushair menyusul Thariq dengan membawa pasukan sendiri. Ia berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida. Mereka akhirnya bertemu dengan Thariq di Toledo. Koalisi pasukan tersebut mampu menguasai wilayah yang lebih luas dari Saragosa hingga Navarre.

Gelombang perluasan wilayah dilanjukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz pada 99/717 M. Perluasan wilayah berhasil hingga mencapai sebagian kota di Perancis.

Umat Islam saat itu bisa mudah menaklukkan Spanyol disebabkan oleh pemimpin dan pasukan Islam adalah orang-orang yang memiliki semangat dan rasa percaya diri tinggi. Di samping itu mereka juga memiliki toleransi agama yang tinggi terhadap penganut ajaran agama lain sehingga banyak warga Spanyol yang menyambut kehadiran Islam dengan ramah.

Selain itu juga disebabkan oleh kondisi Spanyol saat itu sedang terpuruk dalam bidang sosial, politik dan ekonomi. Selain itu terjadi konflik internal yang disebabkan oleh penguasa Ghotic yang tidak dapat toleran terhadap penganut ajaran agama minoritas.

Pada periode 711-755 Spanyol berada di bawah kuasa gubernur yang disebut wali. Pemerintahan tersebut masih berada di bawah kuasa dinasti Umayah di Damaskus. Pada saat ini stabilitas politik masih sempurna karena masih tidak banyak gangguan dari dalam dan luar. Dari dalam disebabkan oleh rebutan kekuasaan karena faktor etnis. Gangguan dari luar disebabkan oleh serangan dari penduduk Spanyol yang tak mau tunduk terhadap penguasa Muslim.

Pada periode 755-912, Spanyol di bawah pimpinan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) akan tetapi tidak berada di bawah kuasa khalifah Abbasiyah. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang bergelar Ad-Dakhil. Dia adalah keturuan bani umayah yang lolos dari serangan kejaran pasukan Abbas. Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan masjid di Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar. Hukum ditegakkan oleh Amir Hisyam dan dalam bidang militer dikembangan oleh Hakam. Pada masa Abdurrahman al-Awshat pemikiran filsafat berkembangan pesat. Dia mengundang banyak ilmuwan untuk melakukan kegiatan ilmiah. Khalifah berikutnya, Abdurrahman An Nashir salah seorang penguasa Spanyol mendirikan Universitas Cordova sehingga Spanyol mengalami kejayaan. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku.

Periode 1013-1086, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara-negara kecil yang berpusat di kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Terjadi banyak pertikaian sehingga dimanfaatkan oleh raja-raja Kristen untuk melakukan penyerangan. Pada periode 1086-1248 M umat islam mulai tak berdaya oleh serangan-serangan dari kerajaan Kristen. Pada tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh pada tahun 1248.

Pada masa ini lahir banyak ilmuwan seperti Ibnu Rusyd. Ia mengembangkan pemikiran filsafat Aristoteles. Sayangnya justru pemikiran tersebut diwarisi oleh orang Krtisten Barat untuk menolak kuasa gereja yang membelenggu kebebasan berpikir.

Banyak pemuda Kristen yang belajar dari ilmuwan Muslim di perguruan tinggi seperti Universita Cordova, Seville, Malaga, Granada dan daerah lain. Selama belajar mereka aktif menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Eropa dalam banyak bidang baik kedokteran Ibnu Sina, Filsafat politik Al-Farabi dan Astronomi Ibrahim ibn Yahya, Kimia Abbad ibn Farnas, Geografi ibn Jubair. Setelah mereka berhasil mendapat ilmu, mereka akhirnya pulang dan mendirikan perguruan tinggi seperti Universitas Paris pada tahun 1231 yang merupakan universitas pertama.

Pada periode 1248-1492 M wilayah kekuasaan Islam hanya tinggal di daerah Grananda di bawah dinasti Ahmar. Ilmu pengetahuan kembali dikembangkan walaupun secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Dua penguasa Kristen, Ferdinan dan Isabella mampu mengusir umat Islam di Spanyol hingga mereka lari ke Afrika Utara.

Isabella dan Ferdinand yang berhasil menyatukan dua kerajaan besar dengan perkawinan melakukan pengusiran tersebut dengan alasan sebagai pembalasan atas umat Islam yang menghancurkan kuasa moyangnya.

Pada saat yang sama, Islam berkembang secara luas di Indonesia. Dakwah Walisongo yang melalui jalur pendidikan, ekonomi dan tasawuf telah berhasil mengukuhkan akidah umat Islam di Indonesia hingga saat ini walaupun penjajah baik Belanda maupun Jepang, gencar mempropagandakan ajaran Agama non Islam ke masyarakat Indonesia.

Kendati demikian, umat Islam di Indonesia belum layak untuk belum layak berbangga diri selagi kondisi umat Islam belum bisa mengimbangi kemajuan negara Barat. Sampai saat ini peradaban Islam Indonesia masih jauh tertinggal karena semangat menggali keilmuan Islam yang masih memprihatinkan.

Sementara itu, diakui atau tidak, Islam telah berjasa terhadap Spanyol dan Eropa. Perkembangan berikutnya, pada abad 14 mereka berhasil menguasai lagi ilmu pengetahuan dari ilmuwan Yunani yang pernah terkubur lama. Peristiwa kebangkitan kebudayaan Yunani di Italia (Renaissance), gerakan reformasi pada abad ke-16 M, Rasionalisme pada abad ke-17 M dan pencerahan (aufklarung) pada abad 18 M.

Wajar jika sampai saat ini peradaban Barat jauh lebih maju dari kebanyakan negara Islam. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya semangat dalam menguasai bidang-bidang keilmuan seperti sains, musik, sastra yang saat ini dianggap sebagai ilmu umum. Padahal sebagaamana yang dibuktikan sejarah, semua ilmu dikaji oleh ilmuwan muslim tanpa dikotomi ilmu umum maupun ilmu agama.

Betapa kita bisa belajar bahwa nafsu berkuasalah yang merusak kekuatan besar umat Islam. Sementara yang menjadikan kemajuan sebuah peradaban adalah ilmu pengetahuan dan semangat tinggi dalam beragama tanpa harus melakukan tindakan intoleran apalagi menebarkan Islam dengan pedang. Wa ila Allahi turja’ul umuur.


           

Tulisanku yang dimuat di Majalah Alfikrah Edisi 84 atas nama Maftuh, S.Sos.I, M.Pd.I

No comments:

Post a Comment