Senin, 21 September 2015
Saya kemarin berdiskusi dengan beberapa teman yang
menyinggung tentang kualitas perguruan tinggi. Diskusi saya lakukan tidak
langsung dengan banyak orang tapi satu per satu. Salah satu yang saya ajak
bicara adalah dosen di perguruan tinggi swasta. Diskusi ini saya lakukan sebelum
ada berita tentang perguruan tinggi abal-abal di Jakarta yang melakukan wisuda
secara illegal.
Kata teman,”Saya kira semua mahasiswa dimana pun sama.
Keinginan untuk belajar menurun.”
“Mengapa ini hanya terjadi di Indonesia?” kataku. Dia
diam.
Yang menjadikan saya mengangkat tema ini adalah
setelah saya mengamati beberapa kampus di Indonesia yang secara kualitas tidak
membaik. Sebaliknya semakin mundur. Pastinya ini tidak terjadi di semua
perguruan tinggi. Saya lihat di Gontor, nampaknya semakin maju. Kemarin saya ke
sana, kampus yang dulunya bernama ISID sekarang menjadi Universitas Darussalam
(UNIDA). Bangunannya semakin megah dengan jurusan yang banyak sehingga bisa
mengakomodir para alumni pesantren Gontor.
Kesimpulan ini bukan dari hasi penelitian yang saya
lakukan. Hanya sekedar melihat berita yang berseliweran dan kondisi negara yang
begini-begini saja. Jadi siapapun boleh tidak setuju dengan pendapat saya. Hanya
saja kemarin saya baca di Jakarta Post ada artikel yang menyatakan bahwa
perguruan tinggi di Indonesia tidak masuk 400 besar di Indonesia.
Pada umumnya yang jadi ukuran kemajuan sebuah
perguruan tinggi adalah publikasi jurnal ilmiah. Di Indonesia jumlah publikasi
jurnal internasional masih kalah dari Singapura, negara yang besarnya tak
sebesar dari provinsi Jawa Timur. Selain itu juga ketertiban birokrasi menjadi
ukuran. Jika laporannya bagus, maka kampusnya juga bagus. Padahal belum tentu
begitu sebab sekarang manipulasi laporan administrasi bisa dimanipulasi oleh
pihak-pihak tertentu.
Salah satu yang menjadi alasan saya menyatakan
buruknya kualitas pendidikan tinggi adalah melihat banyak sarjana yang
disorientasi. Banyak yang bekerja yang tidak sesuai dengan jurusannya sewaktu
kuliah. Contohnya tidak perlu jauh-jauh. Saya sendiri misalnya. Sampai sekarang
belum terjun di bidang yang saya dalami selama kuliah.
Kemungkinan ini juga disebabkan oleh proses rekruitmen
mahasiswa baru yang tidak selektif. Ukuran seseorang bisa masuk sebuah
perguruan tinggi bukan diukura dari kemampuan melainkan kemampuan untuk
membayar. Letak kesalahan fatal ada di sini. Akibatnya muncullah ilmuwan
medioker yang mall praktek di bidangnya. Dalam hal ini, menurut saya mall
praktek tidak hanya terjadi dalam hal kedokteran. Sementara itu calon mahasiswa
yang pandai tapi tak berduit tidak mampu untuk melanjutkan kuliah.
Terkadang hal-hal yang sifatnya politis juga masuk di
wilayah perguruan tinggi khususnya dalam hal perebutan jabatan. Baik mulai dari
prodi sampai rektor. Ini yang terjadi di kampus yang pernah saya tempati
belajar. Kelihatannya sepele, dampaknya yang bisa sampai masalah pemilihan
dosen, kurikulum dan sebagainya. Ada semacam nepotisme gaya baru dimana yang
diangkat adalah ‘saudara biologis’ atau saudara organisatoris.
Bukan berarti saya pesimis melihat kenyataan yang ada.
Masih banyak harapan yang bisa dimunculkan untuk kemajuan. Mahasiswa Indonesia
banyak yang berprestasi. Artinya secara individu ada capaian penting yang perlu
diperhatikan agar secara institusi yang masih payah.
Kabar baiknya juga, pemerintah kelihatannya semakin
serius untuk memajukan kualitas perguruan tinggi. Setidaknya dengan membagi
kementerian pendidikan tinggi dan pendidikan menengah. Tinggal bagaimana
keseriusan menjalankannya saja.
Di atas segalanya, seleksi masuk perguruan tinggi
harus diperketat. Jumlah mahasiswa dibatasi dan keseriusan dalam pemberian
beasiswa kepada mahasiswa pintar yang kurang mampu. Yang tidak punya IQ tinggi
walaupun kaya, lebih baik cukup ikut kursus untuk meningkatkan skill dalam
bekerja.

No comments:
Post a Comment