Saturday, September 12, 2015

PERGILAH, AKU RELA

Jumat, 11 September 2015

Seperti bersamanya dulu, di kota ini juga, aku (mungkin juga kamu) akhirnya memantapkan diri untuk menapak jejak sampai di sini, membiarkan yang lalu jadi lembaran tak penting yang sesekali membuat tersenyum jika dikenang.

Kita (mungkin hanya aku) merasa lega untuk melepas segala hingga kau pun pergi dan menikah. Pergilah.

Dari segala jenis makhluk lemah yang suka mengeluh, aku takluk, tiada mampu menahan diri untuk tak berkhianat pada yang maha.

Adalah dosa yang pada suatu ketika menjadi biasa dan tak lagi jadi perkara yang membuat diri merasa susah.

Maafku masih berarti, sebagai pemantap bahwa dialah sang pemaaf, at tawwab, pegampun atas rimbun salah yang tak terhitung. Ini pun bukan berarti yang akhir juga bukan kepahitan hidup yang kelak menjadikanku terhenti.

Membiarkan diri memihak pada bayangan takkan pernah lebih baik dari menepi. Biar pedih selalu berpihak pada orang yang ditinggal pergi.

Aku pernah menantimu, berharap aku berdiri di labuhan asmara setelah melintasi perjalanan usia. Kubawa tahta setia untuk kaukenakan sepanjang masa.

No comments:

Post a Comment