Di dalam beberapa tulisan tentang ramalam bintang, ada salah satu saya ingat sampai sekarang. Diantaranya tentang sifat Cancer yang mudah tersinggung. Saya merasakan sendiri. Mudah tersinggung oleh hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu. Terkadang kalau sudah tersinggung saya memilih mendiamkan. Tidak lantas marah-marah. Penyebabnya bukan karena beda pendapat dalam diskusi. Kalau diskusi sudah biasa beda. Ada penyebab lain yang tak saya tulis di sini.
Biarkan hal-hal
seperti itu menjadi angin lalu. Ada perkara penting lain yang bisa kulakukan
hari ini dan besok. Seperti tentang uang semesteran kuliah yang tak kunjung
kubayar karena belum ada uangnya. Belum juga saya berpikir untuk membayar atau
sekedar mencari hutangan. Sepertinya saya masih asyik dengan petualangan ke
beberapa kota.
Hari ini saya
sampai Jombang, di pondok Tebu Ireng. Akhirnya saya bisa ke sini karena baru
kemarin berkenalan dengan santri Tebu Ireng saat di Jakarta. Pondok ini adalah
pondok terakhir dari empat pondok yang pernah saya kunjungi.
Di pondok ini saya disambut jurnalis. Pimred Majalah Tebuireng, Situs Tebuireng dan Pustaka Tebuireng. Mereka mahasiswa Unhasy dan ada yang di Ma'had Aly. Saya langsung diajak ke kantor redaksi yang luas. Ada tujuh komputer dengan internet aktif. Sepertinya sedang dalam proses desain sehingga yang terlihat aktif di depan komputer. Lainnya sedang santai.

Tadi malam saya diajak berdiskusi dengan teman-teman di warung. Saya senang lingkungan yang terbentuk. Mahasiswa diperbolehkan keluar, boleh membawa laptop dan ada ruang bebas sehingga mereka bisa berkreasi. Dari tema diskusi yang semalam kami bahas, saya lihat pengetahuan mereka cukup luas. Mereka tahu perkembangan sastra di Indonesia, tentang kubu-kubu sastrawan dan bagaimana jurnalis bekerja. Artinya mereka tak ketinggalan. Mereka mengerti 'orang' luar.
Dengan melihat pengetahuan sekilas, mereka terlihat benar-benar jurnalis. Walaupun tampilannya memang sama seperti santri lainnya. Mas Zen dari Madura Pimred Majalah Tebuireng ini juga terlihat luas pengetahuannya. Mas Aldo (Nama lengkapnya Ali Ridho) dari Kalimantan juga begitu. Apalagi Mas Fathur, dia kemarin sempat membuat liputan seputar Gus Mus yang tak dimiliki media lain saat mukatamar. Saat Gus Mus menangis di hadapan pusara Mbah Hasyim.
Tadi aku juga sempat ziarah ke makam Mbah Hasyim, Mbah Wahid dan Gus Dur. Sempat berfoto dengan memakai kaos bergambar php Gus Dur yang dikasih Mas Fathurrohman. Dia santri dari Tangerang. Selain dikasih kaos, saya juga diberi buku dan majalah. Alhamdulillah berkah silaturrahim. Saya juga memberi mereka buku karyaku. Semoga silaturrahim bisa menghasilkan sesuatu yang lebih besar.
Di pondok ini saya disambut jurnalis. Pimred Majalah Tebuireng, Situs Tebuireng dan Pustaka Tebuireng. Mereka mahasiswa Unhasy dan ada yang di Ma'had Aly. Saya langsung diajak ke kantor redaksi yang luas. Ada tujuh komputer dengan internet aktif. Sepertinya sedang dalam proses desain sehingga yang terlihat aktif di depan komputer. Lainnya sedang santai.

Tadi malam saya diajak berdiskusi dengan teman-teman di warung. Saya senang lingkungan yang terbentuk. Mahasiswa diperbolehkan keluar, boleh membawa laptop dan ada ruang bebas sehingga mereka bisa berkreasi. Dari tema diskusi yang semalam kami bahas, saya lihat pengetahuan mereka cukup luas. Mereka tahu perkembangan sastra di Indonesia, tentang kubu-kubu sastrawan dan bagaimana jurnalis bekerja. Artinya mereka tak ketinggalan. Mereka mengerti 'orang' luar.
Dengan melihat pengetahuan sekilas, mereka terlihat benar-benar jurnalis. Walaupun tampilannya memang sama seperti santri lainnya. Mas Zen dari Madura Pimred Majalah Tebuireng ini juga terlihat luas pengetahuannya. Mas Aldo (Nama lengkapnya Ali Ridho) dari Kalimantan juga begitu. Apalagi Mas Fathur, dia kemarin sempat membuat liputan seputar Gus Mus yang tak dimiliki media lain saat mukatamar. Saat Gus Mus menangis di hadapan pusara Mbah Hasyim.
Tadi aku juga sempat ziarah ke makam Mbah Hasyim, Mbah Wahid dan Gus Dur. Sempat berfoto dengan memakai kaos bergambar php Gus Dur yang dikasih Mas Fathurrohman. Dia santri dari Tangerang. Selain dikasih kaos, saya juga diberi buku dan majalah. Alhamdulillah berkah silaturrahim. Saya juga memberi mereka buku karyaku. Semoga silaturrahim bisa menghasilkan sesuatu yang lebih besar.

No comments:
Post a Comment