Friday, September 4, 2015

AKU DAN LAIN-LAIN


Jumat, 4 September 2015



Habis pagi, terbitlah ingatan akan mimpi. Mimpi melihat fotomu sedang mesra dengan seorang yang kaucintai (sambil membohongiku). Masa itu pun kembali lagi, saat ada satu hal yang sangat menyakitkan dan aku berusaha untuk melupakan, melupakanmu dan orang-orang yang pernah berselingkuh denganmu.

Dari semua hal yang pernah kurasakan denganmu, pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa setiap orang punya potensi untuk jadi bajingan, tak terkecuali diriku.
  
Sudah usia 25 tahun. Masih saja aku kekanak-kanakan pada perempuan. Ingat masa lalu, ingat yang telah berlalu. Seharusnya tak perlu begini. Kalau memang harus seperti ini tak apa asal dalam fase ini aku banyak memperoleh kebaikan dari sisi lain kehidupan. Seperti hari-hari ini, aku suka melancong untuk mencari relasi dalam momen-momen penting yang dihadiri orang yang lebih berpengalaman dalam mengarungi hidup tak hanya dari satu sisi saja. Melainkan dari sudut pandang yang berbeda.

Jika tak demikian, menurut suudhonku (yang mungkin suudhon khasanah) aku bisa saja terkungkung dalam satu corak pemikiran dalam pondok. Yang hidupnya begitu-begitu saja hanya, yang menurutku tak banyak menghasilkan manfaat maksimal. Padahal jika dikelola dengan baik semua akan membahagiakan.

Dimulai dari kegiatan di pondok yang terlalu padat. Bagi santri yang pandai hal ini tak masalah. Bangun tahajjud hingga jam setengah sebelas tidur dengan begitu padatnya kegiatan dan pelajaran akan menguras banyak tenaga. Akibatnya justru banyak santri yang kelelahan saat sekolah, tidur waktu ngaji dan becanda saat wiridan. Jumlahnya, menurut hematku lebih banyak dari yang bisa melaksanakan kegiatan dengan baik.

Rasanya perlu diteliti juga. Santri-santri yang dianggap berhasil waktu mondok itu apa yang dilakukan. Mengikuti kegiatan atau benar, mereka dapat barokah? Kalau mendapat barokah berapa jumlah yang mendapatkannya? Yang tidak mendapatkan berapa orang? Lebih banyakkah? Mengapa mereka jadi seperti itu? Autokritik seperti ini perlu biar tak gampang puas.

Konsep pengabdian aku setuju. Di pondok harus ada agar jalannya kegiatan bisa lancar dengan pembagian tugas yang proporsional. Yang perlu dipertimbangkan lagi adalah mewajibkan kuliah di Inkafa. Mewajibkan kuliah bagiku tidaklah benar. Mereka punya masa depan sendiri. Dengan memaksakan kuliah harusnya tak perlu membuat jurusan IPA dan IPS. Kedua jurusan itu potensial dalam kelanjutan studi di luar bidang kajian keislaman. Misal jadi fisikawan atau ekonom.

Kemudian gaji guru-guru di pondok. Santri berjumlah banyak seperti itu, mengapa hanya digaji sedikit saja. Setelah dihitung. Guru di pondok digaji lima ribu tiap kali pertemuan. Pengabdian is oke. Ikhlas is oke. Tapi ngabdi dan ikhlas itu urusan personal dengan Gusti Allah. Urusan pondok dengan guru adalah menggaji yang layak. Bukannya begitu? Saya agak keberatan dengan kebijakan ini. Walaupun hanya bisa menulis. Semoga ada yang membacanya kelak. Betapa tidak dihargainya guru di pondok. Penghargaan kepada guru, muallim, ustadz dan semacamnya bukan hanya dengan tunduk, bicara sopan dan santun. Kalau itu, kepada penjual pentol yang lebih tua pun harus begitu. Penghargaan kepada guru ya dengan menggaji yang layak.

Jika dibandingkan acara di Jakarta kemarin yang diadakan Google. Betapa di sana ada penghargaan tinggi buat pemilik ilmu walauapun ilmunya tak banyak sepertiku ini. Berangkat ke Jakarta dibayari semua mulai tiket pesawat, tiket pulang dengan kereta eksekutif sampai hotelnya juga. Bagiku seperti inilah penghargaan ilmu sehingga agenda bisa maksimal. Tidak lantas tidur dalam forum dan selalu aktif dalam setiap kegiatan walaupun seharian penuh.

Melihat hotel pun pada akhirnya terpikir seandainya pondok bisa sebersih hotel? Mungkinkah bisa atau hanya sekedar harapan utopis. Kata teman, sulit untuk bisa. Tembok saja kadang dicoret sama santri. Aturan klasik dengan mengedepankan kesadaran lalu ditambahi doktrin-doktrin sekarang sudah susah dijalankan kecuali dengan tambahan alat bantu teknologi canggih. Penggosoban sandal yang jadi kebiasaan buruk di beberapa pondok bisa diatasi dengan teknologi. Misal ada kamera cctv atau detector. Ini akan mencegah penggosoban. Ceramah larangan nggosob sudah berkali-kali tapi bagaimana hasilnya? Tidak bisa maksimal.

Ternyata eh ternyata. Tuhan menakdirkanku untuk mengunjungi pondok Darul Ulum. Ceritanya, aku tertidur di kereta hingga terlewat dua stasiun. Aku tak tahu jalan. Sempat tersesat. Jalan keluarnya aku menghubungi Afrizal untuk menjemputku di stasiun Sumobito.

Dulu ada temanku yang mondok di Darul Ulum, masuk kelas internasional sewaktu SMA. Yang satu sekarang jadi pegawai pajak, satunya dokter. Aku juga ingin ke sana dulu. Sayang, tak ada biaya untuk bisa masuk. Kalau kemampuan akademik aku di atas temanku itu. Hanya uang yang tak mendukung.

Melihat pesantren yang sudah mengadopsi modernisasi tanpa harus mencekoki santri dengan ilmu mulai subuh hingga malam. Aku jadi berpikir bahwa seharusnya seperti inilah harusnya di pondokku. Ada sela waktu untuk santri memilih untuk istirahat atau mengikuti kegiatan ekstra.

Aku cukup kagum dengan santri unggulan Darul Ulum. Masih SMA sudah bisa membuat olimpiade dan event-event akademik lainnya. Jelas ini akan menumbuhkan jiwa leadership.

Akhirnya aku juga bisa sowan ke dosenku, Gus Awis (Pak Afifuddin). Orangnya tampan, posturnya tinggi, tampan, kaya, hafal Quran dan lulusan luar negeri. Aku diberinya dua buku karyanya. Buku ulumul Quran berbahasa Arab. Harus diakusi lebih sistematis dari Qawaid Asasiyah fi ulumil Quran karya Abuya Sayyid Maliki. Ini pendapatku. Orang lain boleh berbeda.



No comments:

Post a Comment