Sunday, September 20, 2015

BELAJAR VERIFIKASI BERITA DARI ULAMA HADIS


Sabtu, 19 September 2015




Tiga tahun belakangan, ada kebiasaan baru di dunia maya. Saya mengamati banyak orang dengan begitu percaya dirinya berbagi informasi yang didapat dari status, foto, situs dan lainnya tanpa ada proses klarifikasi. Ada yang menarik, langsung dibagikan. Hal yang sama terjadi di whatssapp dan bbm. Betapa orang dengan tidak kreatif berbagi sesuatu dengan copas bukan buatan sendiri.

Tak ada yang melarang dan sah-sah saja. Yang jadi persoalan adalah dari mana informasi dan siapa yang membuat informasi (sanad)? Apakah yang ada dalam informasi itu (matan) bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Kalau masalah sepele seperti puisi, tak jadi soal. Berbeda kalau masalah agama dan politik yang bisa dijadikan bahan untuk sarana melencengkan paham seseorang atau menjerumuskan lawan politiknya. Sehingga kedua hal ini (selain ini juga banyak) menjadi bahan untuk saling serang yang justru berdampak negatif dan kontra priduktif.

Dalam hal ini, saya ingin menyampaikan bagaimana dulu proses periwayatan hadis hingga jadi tertulis. Jauh-jauh hari, para muhaddisin secara tak langsung memberikan contoh kepada banyak orang bahwa periwayatan sebuah kabar tidak dapat sembarangan. Ada proses transisi yang dilakukan secara empirik sehingga keberadaan hadis secara ilmiah bisa dipercayai keberadaannya. Walaupun ujungnya kembali ke Kanjeng Nabi, sedangkan nabi mendapatkannya melalui wahyu (intuisi).

Yang jadi fokus saya adalah bahwa muhaddisin itu sangat ilmiah. Bahkan tidak memasukkan mimpi menjadi salah satu sarana mendapatkan hadis. Saya pernah tanya tentang kebolehan mimpi bertemu nabi, apakah dawuhnya boleh jadi hadis? Katanya, tidak. Walaupun yang bermimpi adalah sahabat. Mimpi tidak bisa dijadikan hujjah. Begitu katanya ustadzku. Jawabannya berdasarkan kitab yang ditulis oleh gurunya, almarhum Wahbah Zuhaili. Sayang saya lupa nama kitabnya apa. Yang paham ulumul hadis/mustolah hadis pasti banyak tahu tentang hal ini.

Saya berpikir lagi bahwa usaha para imam hadis yang mencatat hadis pada abad kedua hijriah ini tidaklah mudah. Setidaknya sudah ada kurang lebih lima generasi pasca wafat nabi. Mereka inilah yang jadi sumber pengetahuan tentang matan dan sanad hadis untuk kemudian ditulis dalam satu kitab. Yang belakangan dikenal dengan kutub as-sittah.

Di atas saya katakan bahwa para imam hadis menggunakan medio empirik dalam usaha ilmiahnya adalah bahwa matan dan sanad hadis diterima melalui pendengaran (sima') yang disampaikan oleh gurunya. Lalu guru mendapatnya dari guru sebelumnya dan seterusnya hingga sampai nabi. Itu pun tidak serta merta semuanya bisa jadi sumber hujjah. Para ulama berikutnya lalu mengkategorikan mana hadis yang mutawatir (qat'i) mana yang tidak. Dari yang tidak qat'i dibagi lagi jadi shohih, hasan, dhoif, ghorib, masyhur, maudhu dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak riwayat hadis, tidak semua ulama yang bisa membaca semuanya apalagi orang awam. Sehingga dalam mengutip hadis para ulama juga hati-hati. Tidak asal comot dan disampaikan.


No comments:

Post a Comment