Sabtu, 19 September 2015
Tiga tahun belakangan, ada
kebiasaan baru di dunia maya. Saya mengamati banyak orang dengan begitu percaya
dirinya berbagi informasi yang didapat dari status, foto, situs dan lainnya
tanpa ada proses klarifikasi. Ada yang menarik, langsung dibagikan. Hal yang
sama terjadi di whatssapp dan bbm. Betapa orang dengan tidak kreatif berbagi
sesuatu dengan copas bukan buatan sendiri.
Tak ada yang melarang dan sah-sah
saja. Yang jadi persoalan adalah dari mana informasi dan siapa yang membuat
informasi (sanad)? Apakah yang ada dalam informasi itu (matan) bisa
dipertanggungjawabkan kebenarannya?
Kalau masalah sepele seperti
puisi, tak jadi soal. Berbeda kalau masalah agama dan politik yang bisa
dijadikan bahan untuk sarana melencengkan paham seseorang atau menjerumuskan
lawan politiknya. Sehingga kedua hal ini (selain ini juga banyak) menjadi bahan
untuk saling serang yang justru berdampak negatif dan kontra priduktif.
Dalam hal ini, saya ingin
menyampaikan bagaimana dulu proses periwayatan hadis hingga jadi tertulis.
Jauh-jauh hari, para muhaddisin secara tak langsung memberikan contoh kepada
banyak orang bahwa periwayatan sebuah kabar tidak dapat sembarangan. Ada proses
transisi yang dilakukan secara empirik sehingga keberadaan hadis secara ilmiah
bisa dipercayai keberadaannya. Walaupun ujungnya kembali ke Kanjeng Nabi,
sedangkan nabi mendapatkannya melalui wahyu (intuisi).
Yang jadi fokus saya adalah bahwa
muhaddisin itu sangat ilmiah. Bahkan tidak memasukkan mimpi menjadi salah satu
sarana mendapatkan hadis. Saya pernah tanya tentang kebolehan mimpi bertemu
nabi, apakah dawuhnya boleh jadi hadis? Katanya, tidak. Walaupun yang bermimpi adalah
sahabat. Mimpi tidak bisa dijadikan hujjah. Begitu katanya ustadzku. Jawabannya
berdasarkan kitab yang ditulis oleh gurunya, almarhum Wahbah Zuhaili. Sayang
saya lupa nama kitabnya apa. Yang paham ulumul hadis/mustolah hadis pasti
banyak tahu tentang hal ini.
Saya berpikir lagi bahwa usaha
para imam hadis yang mencatat hadis pada abad kedua hijriah ini tidaklah mudah.
Setidaknya sudah ada kurang lebih lima generasi pasca wafat nabi. Mereka inilah
yang jadi sumber pengetahuan tentang matan dan sanad hadis untuk kemudian
ditulis dalam satu kitab. Yang belakangan dikenal dengan kutub as-sittah.
Di atas saya katakan bahwa para
imam hadis menggunakan medio empirik dalam usaha ilmiahnya adalah bahwa matan
dan sanad hadis diterima melalui pendengaran (sima') yang disampaikan oleh
gurunya. Lalu guru mendapatnya dari guru sebelumnya dan seterusnya hingga
sampai nabi. Itu pun tidak serta merta semuanya bisa jadi sumber hujjah. Para
ulama berikutnya lalu mengkategorikan mana hadis yang mutawatir (qat'i) mana
yang tidak. Dari yang tidak qat'i dibagi lagi jadi shohih, hasan, dhoif,
ghorib, masyhur, maudhu dan lain sebagainya.
Dari sekian banyak riwayat hadis,
tidak semua ulama yang bisa membaca semuanya apalagi orang awam. Sehingga dalam
mengutip hadis para ulama juga hati-hati. Tidak asal comot dan disampaikan.

No comments:
Post a Comment