Sunday, December 1, 2013

REHABILITASI

Idealisme. Aku sendiri sudah lama tak mendengar kata-kata itu, membacanya dalam buku ataupun mempraktekkannya dalam kehidupanku. Kehidupan ini berjalan begitu stagnan tanpa variasi. Manusia-manusia yang hidup di sekitarku pun seperti berbeda jalan denganku meski tak sampai berseberangan. Ini jalan hidup. Inilah pengabdian. Sebuah pengabdian di tempat yang kuanggap sebagai lokasi rehabalitasi karena berjumpa dengan banyak anak yang membutuhkan pembinaan secara khusus. Kelihatannya memang normal secara fisik. Tak ada yang cacat satu pun. Namun yang masih menjadi persoalan bagiku adalah perilaku aneh. Di depan manis, di belakang pahit. Orang-orang seperti ini memang jumlahnya banyak. Aku tak bisa mendeteksi satu persatu. Lalu apa aku harus berpikir untuk mengubah mereka? Mengubah diri saja aku masih belum becus. Apalagi anak orang-orang yang tak kuketahui bibitnya. Standar kebaikan yang mereka terapkan juga berbeda dengan yang diharapkan peraturan. Hei, apa ini sama dengan membicarakan diriku sendiri? Wallahu a’lam. Di Semarang aku memang liar. Tapi aku masih punya sesuatu yang bisa kuandalkan. Lalu anak-anak ini bagaimana? Apa yang mereka andalkan. Mungkin benar anggapanku bahwa aku hidup di sini ibarat hidup di awal tahun dua ribu. Cara berpikir dan lingkungan masih ketinggalan. Ini tentang santri, bukan guru ataupun pengasuh. Guru dan pengasuh di sini orang-orang hebat. Aku harus mengakuinya. Saya berpikir para pelajar di sini adalah tempat anak-anak nakal yang diasingkan orang tuanya. Atau mereka tidak diterima sekolah favorit karena nilainya tidak mencukupi. Maka, pilihan yang paling logis adalah memasukkan mereka ke dalam lembaga pendidikan pesantren. Tapi tidak semuanya begitu. Ada juga santri yang belajar memang karena orang tuanya ingin punya anak yang berakhlak mulia diimbangi oleh tingkah laku orang tuanya. Sayangnya, prosentasenya lebih sedikit dibanding kelompok pertama. Jika aku berpikir positif bahwa anak-anak di sini masih lebih baik dibanding pelajar di luar pesantren, itu terlalu berlebihan. Seharusnya yang kujadikan perbandingan adalah para santri yang baik-baik yang ada di pesantren lain bukan dibandingkan dengan orang non pesantren. Bukan berarti aku menganggap yang non pesantren tak lebih baik. Belum tentu juga. Semua tak bisa dipukul rata. Dimana pun pasti ada orang baik dan jahat serta diantara keduanya.

No comments:

Post a Comment