Sunday, December 8, 2013

KEADILAN UNTUK DENI

September 12, 2011 at 8:32pm



Oleh : Rizal Mubit
Malam terakhir Ramadhan, bintang nampak indah berkelip-kelip di langit. Deni merenung sendiri di musholla al Husna samping rumahnya. Tempat dia mengajar ngaji.
Suara Deni lirih mengucap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir,”Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaaha illa Allahu Allau akbar,” suara-suara binatang malam mengiringi keindahan zikirnya. Teduh sekali hati Deni malam itu.
Namun air mata menetes dari tepi kedua mata Deni. Lama-lama pipinya basah. Dia menangis bukan karena nasibnya yang tak kunjung dapat jodoh. Tangisannya bukan karena merindukan seseorang. Air matanya tidaklah untuk  meratapi apapun kecuali karena tak rela meninggalkan bulan yang penuh hikmah.
Menunggu setahun lagi musholla akan ramai dikunjungi jamaah sholat terawih. Tak ada lagi bacaan tadarus Qur'an tiap malam dan usai subuh. Suasana indah itu akan datang tahun depan. Itupun belum pasti akan bisa berjumpa lagi. Musholla akan dirundung kesepian seperti dirinya. Tak kunjung dapat pasangan.
Saat asyik berzikir, gerombolan remaja yang sedang mabuk berkumpul di perempatan jalan depan musholla. Saat itu sudah jam setengah satu malam.
“Sepedaku baru selesai ku-servis. Suaranya mantap, Bro!” kata Umar, ketuanya.
“Greeeeeeeng, greeeeeng, greeeeeeeng,” suara motor mengganggu kesendirian Deni. Dia masih mencoba konsentrasi.
Komplotan pemuda itu berlomba-lomba mengeraskan suara motor. Dengan perbuatannya, mereka merasa menjadi manusia paling hebat bak raja yang bebas melakukan apapun.
Deni mengusap air matanya lalu bangkit dari duduknya, mendekati mereka. Dia memperhatikan kelakuan pemabuk-pemabuk itu, “Ternyata Umar dan kroni-kroninya,” ucapnya.
“Greeeeeeeng, greeeeeng, greeeeeeeng,” mereka semakin menjadi-jadi. Para tetangga terbangun lantaran suara itu. Ada yang mengintip dari jendela kamar, ada pula yang keluar rumah.
Deni semakin mendekat, “Ini kampung, Mas. Kalau mau pamer cari tempat lain saja. Sawah masih luas,” kata Deni. Umar mendekatinya.
Pemuda mabuk itu membusungkan dadanya hingga wajahnya mendekat pada Deni. Nafas pemuda itu beraroma miras. “Astaghfirullah,” gumam Deni.
“Ini sudah malam. Suara sepedamu mengganggu orang,” Deni melanjutkan.
Pemuda itu tersenyum sinis,”Hak asasi saya mau melakukan apapun di sini,”
“Tapi Anda sudah mengganggu ketenangan orang lain,” kata Deni.
“Ahh. Kau banyak bicara.”
“Plak,” muka Deni dipukul Umar.
“Braak,” teman Umar memukul tubuh bagian belakang Deni. Deni dikeroyok. Umar kembali memukul muka Deni.
Setelah puas memukul, mereka lalu menaiki motornya.
“Greeeeeeeng, greeeeeng, greeeeeeeng,” kembali mereka mengeraskan suara motornya. Beberapa detik kemudian mereka kabur.
Para tetangga yang terbangun tak sabar. Mereka mendatangi asal suara dan mengumpat. keluar rumah dan mengumpat. Ada yang mendekati Deni. Terlihat ada bekas pukulan di wajahnya.
“Siapa tadi, Den?”
“Bukan orang sini. Saya kurang tahu,” seseorang memandangi wajah Deni.
“Wajahmu kenapa?”
“Tak apa,” kata Deni.
“Kau dipukul mereka, Den?”
“Tak apa kok, Pak. Saya ke mau musholla,” Deni melanjutkan berkontemplasi sedangkan tetangga masuk ke rumah masing-masing melanjutkan istirahat.
Deni kembali berzikir di dalam musholla hingga sahur tiba.
***
Saat sholat subuh, para jama'ah membincangkan peristiwa singkat semalam. Di wajah Deni masih membekas pukulan. Jama'ah pun bertanya.
“Tadi malam saya mendatangi pemabuk-pemabuk itu. Dan ini akibatnya?” kara Deni.
“Tak kau balas, Den?” tanya pak Rustam.
“Tiada gunanya meladeni orang-orang seperti itu,”
Kabar bahwa Deni dipukul terdengar keluarganya. Wulan, adiknya merasa harga diri keluarganya tercabik-cabik oleh kejadian malam itu. Sebagai mahasiswa hukum, dia merasa terpanggil hatinya untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum.
“Ayo ikut aku, Mas Den!” ajak Wulan.
“Kemana?”
“Ke Rumah Sakit,”
“Buat apa?”
“Visum bekas luka pukulanmu. Sudahlah! Ayo ikut!”
Deni tak tahu apa itu visum. Dikiranya Visum adalah penyembuhan. Maklum pendidikan formal yang pernah diikutinya hanya SD. Deni lebih suka pendidikan diniyah.
Wulan dan Deni mendatangi Rumah Sakit Islam di Babat Lamongan. Hasil visum menunjukkan keterangan adanya pukulan di wajah Deni. Setelah dari rumah sakit, Wulan mengajak Deni ke kantor polsek Babat untuk melaporkan tindakan kekerasan dengan surat keterangan visum dokter.
Deni sempat kaget. Dia tak ingin kasusnya sampai ke polisi. Tapi bagaimana lagi. Sudah terlanjur polisi tahu.
“Siapa yang memukul, Den?” tanya Wulan
“Umar,”
“Alamat?”
“Desa Moropelang,”
“Usia?”
“Mungkin 18 tahun,”
Wulan membuat surat laporan lalu diberikan pada seorang polisi.
“Pak polisi tolong kasus pemukulan ini diusut. Karena mau tak mau ini adalah kekerasan.”
“Kami dari pihak kepolisian akan melaksanakan tugas dengan baik, Bu.” kata polisi.
“Mohon kerjasamanya, Pak!” Wulan dan Deni berpamitan.
Beberapa hari kemudian Wulan mendapat kabar bahwa Umar sudah berhasil ditahan di Rutan di Babat, satu minggu setelah penangkapan langsung diadakan siding di pengadilan negeri Lamongan.
Sejak mengetahui peristiwa yang menimpa Deni, Wulan sudah berniat akan menjadi pendamping Deni dalam penyelesaan masalah ini. Wulan juga dibantu oleh rekannya, advokat di Lembaga Bantuan Hukum. Toni.
Saat persidangan dilaksanakan. Umar tak datang. Tak ada yang tahu kemana dia pergi. Sidang pun harus ditunda. Menurut keterangan polisi, Umar  kabur dari tahanan.
“Sejak kapan Umar kabur, Pak?”
“Kami tak tahu,” kata salah seorang polisi. Benar-benar aneh.
“Sudah dicari, Pak?”
“Kami sedang sibuk mengurusi kasus lain yang lebih penting dari kasus ini. Kami tak bisa melanjutkan kasus ini. Lebih baik kasus Anda diselesaikan dengan cara kekeluargaan.” terang polisi.
Penjelasan polisi membuat Wulan menyerah. Hampir saja dia memilih jalur damai tanpa proses hukum.
“Nampaknya kasus ini berkembang lagi, Lan. Ada praktek suap,” kata Toni sesaat setelah Wulan menyerah.
“Lalu?” tanya Wulan.
“Nanti teman-teman LBH akan menyelidiki kasus ini. Jika polsek Babat sudah tak lagi bisa diandalkan. Kita laporkan saja ke Polres Lamongan. Aku ada kenalan disana.”
“Bagaimana kalau kita kesana sekarang?” ajak Wulan.
“Ok,”
Wulan dan Toni berangkat ke Polres Lamongan. Lokasinya tak jauh dari kantor pengadilan. Sementara Deni langsung pulang. Pihak polres menanggapi positif laporan. Umar masuk dalam daftar buronan.
Polisi Lamongan mengalami kesulitan dalam pencarian. Banyak orang yang bungkam atau lebih tepatnya dibungkam mulutnya oleh ayah Umar. Ayahnya adalah pengusaha kaya yang punya banyak anak buah di kecamatan Babat dan beberapa daerah. Uangnya mampu membungkam mulut banyak orang.
Saat proses pencarian berlangsung, Wulan dan keluarganya sering kali didatangi orang dan diintimidasi. Bahkan pernah diancam rumahnya akan dibakar. Orang tuanya menyuruh Wulan untuk tidak lagi berurusan dengan ayah Umar. Karena orang itu bahaya. Namun dia tak mau perbuatan ini berlarut. Jika dibiarkan, Umar sekeluarga bisa melonjak dan terus mempermainkan hukum.
Baru sebulan setelahnya Umar ketahuan berada di Bojonegoro. Umar ditangkap dan di tahan di polres Bojonegoro. Polsek Babat masih enggan ikut campur kasus. Bahkan polres Lamongan pun sempat ragu untuk menindak Umar. Untungnya Wulan bersama Toni mampu membujuk polisi.
***
Dalam persidangan, Umar nampak santai tanpa beban. Bahkan sesekali terlihat senyum pahitnya. Dia ditemani oleh tiga pengacara sekaligus. Sama seperti Deni, Umar juga memakai kopyah di kepalanya. Entah kenapa dia memakainya. Barangkali untuk simbol untuk mengelabuhi hakim bahwa dia adalah orang salih. Begitulah ulah pendusta agama.
Deni, Wulan dan para saksi kaget bukan kepalang. Tanpa disadari sebelumnya Umar dan anasir-anasirnya berani membuat kebohongan dengan menuding Deni melakukan pemukulan terlebih dahulu. Saksi yang dibawa Umar memberikan keterangan kronologi peristiwa yang dibuat-buat. Keterangannya berbeda namun intinya adalah Deni memukul Umar dahulu. Mereka mengira hakim dan peserta sidang lainnya bodoh sehingga tak tahu bahwa keterangan yang berbeda-beda itu adalah celah.
Saat giliran saksi Deni berbicara. Semuanya memberikan keterangan yang sama persis dengan kejadian malam itu. Wulan juga bicara, “Tak mungkin kakak saya memulai memukul mereka dahulu sebab malam itu adik saya sedang berzikir di musholla sedangkan mereka sedang mabuk. Orang mabuk tak bisa menguasai diri. Sedang orang yang sedang berzikir bisa menguasai diri dengan baik karena dalam kondisi dekat dengan Tuhan,”
“Betul. Pemabuk itu dikuasai setan,” teriak salah seorang peserta sidang. Umar masih bisa tersenyum di tempat duduknya.
“Bohong!” kata saksi Umar.
“Kamu yang bohong.” Seseorang membalas.
“Tok....tok....tok.....tok.....Semuanya harap tenang!” kata hakim.
Pengacara Umar berdiri dan bicara,”Bapak hakim yang terhormat. Bukannya orang yang sadar bisa melakukan apapun dengan kesadarannya? Mohon ini dijadikan dasar.”  Pengacara Umar nampaknya adalah sarjana-sarjana hukum yang baru saja lulus. Kecakapannya masih kurang. Berbeda dengan Wulan dan Toni yang bekerja di LBH.
Sidang pun berlarut lama. Pihak Umar masih bersiteguh menuduh Deni yang memukul Umar dulu. Keterangan dari kedua pihak pun selalu kontradiktif. Hingga akhirnya hakim mengambil keputusan.
“Biar sidang tak berlarut-larut. Kami serahkan semua keputusan kepada bapak hakim ketua,” kata pengacara Umar. Semakin nampak pengacaranya belum begitu paham dengan proses persidangan.
Hakim ketua mulai angkat bicara,“Keterangan saksi dan pembelaan tersangka sudah kami tulis, kami simpulkan dan kami bisa memutuskan,” peserta sidang diam. Tetangga Deni berbisik satu sama lain. Deni sendiri berdoa dalam hati. Sementara Umar terlihat tegang.
“Bahwa saudara Umar dinyatakan bersalah. Dan mendapat sanksi sesuai pasal tentang kekerasan dengan hukuman kurungan selama satu tahun dan atau denda sebesar lima puluh juta,” gemuruh tepuk tangan terdengar menggema dalam ruangan tersebut. Ada juga yang meneriakkan takbir. Umar mulai pucat pasi. Tak lagi dia bisa berkutik. Dia hanya ditemani oleh saksi dan pengacara. Tak ada keluarganya yang ikut. Ayahnya sibuk bekerja.
Senyum Wulan tampak mengembang. Dia lalu mendekati Deni, kakaknya dan memeluknya. Peserta sidang satu-persatu mendekati Deni dan memberi selamat padanya.
Setelah peristiwa itu, Umar dan keluarganya tak lagi berani bermain-main dengan hukum. Apalagi ayah Umar kini sedang diproses atas keterlibatannya atas suap terhadap polsek Babat.

No comments:

Post a Comment