By Rizal Mubit on Wednesday, August 1, 2012 at 2:56pm
Oleh : Rizal Mubit
Nur Hidayat, seorang anggota DPR RI tiap Jumat sore sampai Minggu siang menghabiskan waktu di Semarang untuk mengunjungi istri dan anaknya. Keluarganya tinggal di daerah Ngaliyan.
Minggu Sore, Pak Dayat kembali ke Jakarta karena Senin dia harus sudah di sana. Tiap hari Selasa sampai Kamis, dia rapat di gedung DPR.
Dari Ngaliyan menuju stasiun Poncol Pak Dayat naik bis. Dari dalam bis terlihat suasana kota Semarang yang tidak lebih baik dari Jakarta. Macet, banjir, pengamen jalanan, anak-anak jalanan, polusi udara, kepadatan kota semuanya ada di Semarang.
Bis yang ditumpanginya masih longgar. Tapi rasanya sempit sekali sebab orang di sampingnya sedang merokok. Pak Dayat sangat benci dengan perokok individualis dan egois yang seenaknya sendiri menghirup rokok di tempat umum.
“Uhuk-uhuk.” gara-gara asap rokok itu pak Dayat terbatuk. Tapi perokok di sampingnya tak mau tahu. Dia masih saja tanpa merasa berdosa menikmati asap-asap berpenyakit itu.
Perokok itu masih muda. Dia berbaju hitam dan bercelana hitam dengan sobekan di sekitar lutut. Entah apa maksud sobekan celana itu hingga dia merasa sok jagoan dengan penampilannya.
“Uhuk-uhuk.” pak Dayat terbatuk lagi.
“Mas. Tolong jangan merokok dong! Saya tak kuat asapnya,” kata Pak Dayat.
“Inikan hak saya merokok Pak. Sampean punya hak apa melarangku merokok?” pemuda itu menjawab dengan nada agak tinggi.
Pak Dayat ingin memarahi pemuda sialan itu. Ingin dia mengatakan kepadanya.
“Kurang ajar. Kau tak tahu kalau aku anggota DPR di Jakarta. Aku wakil rakyat. Bisa kutuntut kau!” Tapi dia mengurungkan keinginannya. Tak ada gunanya berbicara dengan pemuda bermasa depan tak jelas sepertinya. Entah berapa jumlah pemuda yang bermental preman sepertinya.
Bis berhenti di stasiun Poncol. Pemuda yang tadi merokok juga ikut turun di stasiun Poncol. Sebelum masuk stasiun, seseorang mendekati Pak Dayat. Mungkin sepatu, baju dan jam tangan yang dipakai pak Dayat menarik perhatian.
“Mau ke Jakarta Pak?”
“Iya,”
“Antriannya panjang, lebih baik sampean beli tiket dari saya saja. Cukup tiga ratus ribu saja.”
“Tiga ratus ribu?? Nggak bisa kurang Mas?” tanya pak Dayat dengan ekspresi orang yang sedang butuh tiket.
“Bisa Pak. Tapi sedikit saja,”
“Seratus ribu saja Mas,”
“Wah. Nggak bisa Pak. Naikkan sedikit lah!”
“Ya sudah kalau nggak mau.” pak Dayat pergi menuju antrian.
Orang itu masih memaksa pak Dayat untuk membeli. Pak Dayat tak peduli.
“Ayolah Pak. Saya sehari belum dapat uang. Saya terpaksa jadi calo juga karena kebutuhan ekonomi, untuk keluarga saya,”
Terserah dia bicara apa. Meski untuk keluarga, untuk anak, untuk istri yang sakit, Pak Dayat tak peduli dengan pekerjaan ilegal seperti itu. Jika dibeli, orang itu akan terus menikmati pekerjaan itu. Kalau memang untuk keluarga kenapa haru jadi calo. Tega sekali dia memberi makan keluarganya dengan uang hasil percaloan.
Karena putus asa, orang itu pergi. Pemuda yang tadi merokok di bis, sudah berada di antrian depan. Dia berhasil menyerobot antrian. Rasanya Pak Dayat ingin mendatanginya dan menceramahinya bahwa yang dilakukannya itu salah. Bahwa tindakan seperti itu tidak boleh dilakukan karena tidak menghormati orang yang sudah lama mengantri.
Tapi memang edan negara ini. Saat pak Dayat memaki dalam hati, terlihat lagi orang menyerobot antrian di depan Pak Dayat saat satpam tak melihat.
“Hoe, Pak. Nggak usah nyerobot. Semua antri yang tertib!” terdengar teriakan dari salah satu penumpang. Orang yang diteriaki pura-pura tuli. Dia berdiri tenang di antrian yang diserobotnya. Melihat pemandangan yang tak mengenakkan itu, Pak Dayat berpikirUndang-undang apa gerangan agar bisa menertibkan orang dalam antrian.
Calo lain mencoba merayu pak Dayat untuk membeli tiket darinya. Pak Dayat menolaknya dengan sopan. Beberapa orang yang tak sabar menunggu berhasil dibujuk oleh calo.
***
Kereta berangkat kurang lebih setengah jam lagi. Pak Dayat duduk di dekat loket setelah membeli tiket. Antrian masih panjang meski tak sepanjang tadi.
“Maaf pak. Tiketnya sudah habis.” tiba-tiba penjaga tiket menghentikan penjualan tiketnya. Tanpa alasan dia bilang tiket habis. Padahal calo masih berkeliaran menjajakan tiketnya. Konspirasi busuk seperti itu ternyata juga dalam penjualan tiket kereta. Pegawai kereta mau diajak kompromi oleh mafia-mafia tiket. Tak ubahnya mereka ini seperti para polisi yang menerima suap dari Gayus atau Nazaruddin yang menerima suap pembangunan wisma atlet di Palembang. Negeri ini benar-benar bermental preman.
Tentunya banyak penumpang yang protes dan memaki-maki penjaga loket. Tapi penjaga loket tak mau tahu dan pergi begitu saja.
Melihat pemandangan yang tak mengenakkan itu, pak Dayat memutuskan masuk ke dalam gerbong. Dia tak mau melihat pertiakaian yang memalukan itu.
Tak disangka, pak Dayat berada dalam satu gerbong dengan pemuda perokok di bis. Untungnya tempat duduknya tidak berdekatan.
***
Kereta berangkat terlambat lima menit dari jadwal yang ditentukan. Dari luar gerbong kembali lagi terjadi insiden memalukan. Penumpang yang kehabisan tiket, bersekongkol dengan belasan penumpang lainnya untuk menerobos pagar stasiun agar bisa ikut kereta. Tiga penjaga bersusah payah mencegah para penumpang yang seperti orang kesurupan. Tapi mereka gagal. Pak Dayat dan beberapa penumpang dalam gerbong hanya bisa gelng-geleng kepala melihat tingkah brutal mereka. Memang negara ini banyak dihuni manusia bermental preman.
Sejak dua bulan yang lalu, pengamen dilarang beroperasi di kereta, jadi perjalanan bisa lebih nyaman. Hanya suara-suara pedagang asongan yang sesekali membuat telinga tak lega. Apalagi pedagang asongan yang menjual barangnya dengan cara paksa.
Pak Dayat duduk di samping seorang pemuda. Dia berharap agar pemuda di sampingnya tidak merokok seperti yang ditemuinya dalam bis tadi. Pak Dayat mengajaknya berkenalan. Nama pemuda itu adalah Tedi. Tak lama berbincang, Tedi mengangkat telpon. Entah telpon dari siapa, dari mimik wajah dan nada bicaranya ditelpon, Tedi seperti orang kebingungan tak tahu arah. Melihat Tedi yang galau, Pak Dayat mengajaknya bicara lagi setelah telpon ditutup.
“Tujuan mana Mas? Jakarta?”
“Nggak Pak. Saya mau ke Brebes,”
“Lagi ada masalah?”
“Iya Pak.”
“Sama pacar?”
“Bukan. Masalah kerja pak. Baru kali ini aku dapat masalah besar. Jadi aku kabur ke Brebes. Mungkin aku mau jual motor untuk melunasi kebangkrutan perusahaan,” jelas Tedi seraya memaksa bibirnya untuk tersenyum.
“Kerja apa?”
“Bangunan.”
“Kok bisa bangkrut bagaimana ceritanya?”
“Saya kerja di Madura. Bos mempercayaiku untuk jadi mandor. Kerjaku hanya mencari pekerja di sektor lapangan dan mengawasi mereka saat bekerja sambil mendata. Pekerjaan itu kukira mudah Pak. Bulan pertama berjalan lancar. Aku mulai percaya pada pekerja. Mereka minta gaji awal bulan. Aku berpikir kalau gaji diberi di awal bulan, mereka bisa lebih semangat. Tapi dugaanku salah. Memasuki bulan kedua, para kuli bangunan itu kabur setelah mendapatkan gaji sedangkan pekerjaan belum selesai. Akhirnya sekarang terbengkalai dan perusahaan dituntut untuk mengganti kerugian karena bangunan tidak selesai sesuai perjanjian.”
Mendengar cerita yang menyedihkan itu, pak Dayat cuma bisa diam. Dia berpikir bahwa janji-janjinya bersama anggota DPR lainnya untuk mensejahterakan rakyat, sampai sekarang belum terpenuhi bahkan jauh dari harapan. Kejadian-kejadian yang dialaminya hari ini cukup menjadi bukti bahwa dirinya tidak becus menjadi wakil rakyat.
***
Sesampai di Pasar Senen Jakarta, Pak Dayat menuju rumah dengan Kopaja, bus kelas ekonomi Jakarta. Jalanan yang dilewati macet panjang. Pak Dayat duduk di depan, di samping sopirnya. Wajah sang sopir sudah tua. Lehernya dikalungi handuk kecil untuk mengusap keringat yang tak henti-hentinya keluar dari wajahnya dan seluruh tubuhnya.
Entah apa sebabnya tanpa ambil pusing karena kemacetan, sopir Kopaja menyerobot jalur Bus Way. Pengalamannya menjadi sopir membuatnya lihai mencari celah jalan hingga dengan mudah bis bisa masuk jalur Bus Way. Pak Dayat tercengang melihat kenekatan sopir itu.
“Kok nyerobot Bang?” Tanya pak Dayat.
“Sudah biasa pak.” Jawab sopir enteng. Pak Dayat tak tahu apa yang dimaksud dengan biasa itu.
Di depan, dua polisi menghadang laju Kopaja. Sopir menghentikan laju bis, mengeluarkan SIM dan STNK lalu kembali meluncur seperti tak ada masalah. Kembali lagi Pak Dayat kaget melihatnya.
“Kok enak sekali bisa begitu Bang?” Tanya Pak Dayat lagi.
“Lha dari pada macet, nanti setorannya kurang. Polisi juga sudah paham kok Pak. Namanya juga usaha. Sopir dan polisi juga sama-sama kerja menghidupi keluarga.”
Tak mungkin Pak Dayat menceramahinya. Dia hanya geleng-geleng kepala. Sopir lebih tua darinya. Lagi pula tindakan nekat yang dilakukannya tak lain karena untuk menghidupi anak istrinya. Sebagai wakil rakyat, Pak Dayat kembali merasa berdosa tak bisa memberikan kerja halal untuk masyarakat yang diwakilinya.
Bus kembali masuk jalur yang benar setelah jalanan tak lagi macet. Sesekali bis berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Ketika sampai di jalan Parung, Jakarta Selatan, seorang penumpang yang naik. Pak Dayat mengenalnya.
“Ap kabar, Pak?”
“Baik. Dari mana?”
“Dari Semarang. Bapak mau kemana kok nggak bawa mobil?”
“Mobilku bannya bocor di jalan. Untungnya bocornya di dekat tukang tambal ban. Sekarang mobilku kutinggal. Daripada terlambat, aku naik bis saja.”
“Itu bukan beruntung pak. Tukang tambal ban itu yang kurang ajar. Mereka memang sengaja memasang paku atau benda tajam lainnya di jalan sekitar tempat dia kerja, agar dia dapat banyak job.” nampaknya penjelasan Pak Dayat tidak terdengar oleh temannya.
***
Hari Selasa Pak Dayat mengikuti sidang paripurna tentang kebijakan menteri keuangan yang dinilai salah oleh salah satu pihak dan dibenarkan oleh kubu lain. Sebelum sidang dimulai, ketua fraksi partai meminta Pak Dayat agar ikut menguatkan argumentasi bahwa kebijakan menteri keuangan tidak salah. Namun Pak Dayat tak menghiraukannya. Dalam hal ini dia tak mau disetir oleh pihak manapun, meskipun oleh ketua fraksinya. Kebenaran harus dinomorsatukan meski harus mengesampingkan kepentingan partai. Kejadian-kejadian kemarin telah menyadarkannya dan menguatkan dirinya untuk tegar membela kebenaran.
Pak Dayat siap akan konsekwensi yang diterimanya akibat pembangkangannya menjadi ketua fraksi. Lebih baik diasingkan dari pada harus tunduk kepada kemunafikan.
Menteri keuangan adalah kader partai, wajar jika partai yang mengusungnya membelanya habis-habisan meski harus berbohong. Jika tidak, nama partai akan tercoreng dan menimbulkan dampak negatif yang besar di skala nasional.
Pukul sepuluh pagi, sidang dimulai. Awalnya masih terjadi debat kusir antara dua kubu yang tidak bisa terselesaikan. Pak Dayat masih santer membela kubu yang menyalahkan kebijakan menteri keuangan agar segera dikasuskan. Terlalu banyak orang yang memiliki kepentigan golongan disana sehingga perdebatan pun tidak terarah untuk mencari kebenaran tapi membela golongan.
Hingga dua jam perdebatan tak kunjung usai. Akhirnya pimpinan sidang memutuskan.
“Karena sidang tidak dapat mencapai kemufakatan, maka kita laksanakan sesuai mekanisme sidang. Keputusan akan diambil dengan cara voting,” kata ketua sidang.
Mendengar keputusan yang penuh intrik politik tersebut, Pak dayat langsung angkat bicara. Dia tak peduli meski pimpinan sidang berasal dari fraksi yang sama
“Pimpinan Sidang! Kenapa harus voting? Semua sudah jelas bahwa kebijakan dilakukan oleh menteri keuangan itu salah dan harus dikasuskan!”
“Interupsi pimpinan sidang!”
“Interupsi pimpinan sidang”
“Interupsi pimpinan sidang!” Apa yang dikatakan oleh pak Dayat tersebut langsung mendapat respon dari peserta sidang lainnya. Banyak yang tak setuju dengan argumennya. Sidang memanas.
“Tok...tok...tok...tok.” empat kali ketukan palu sidang menandakan himbauan agar peserta sidang tenang. Tapi peserta sidang yang sok pintar dan sok benar tak menghiraukan. Diantara mereka masih berceracau menghujat Pak Dayat.
“Pak Dayat yang saya hormati! Anda ini bodoh atau pura-pura tidak tahu. Sejak kemarin kita berdebat tentang salah atau tidaknya kebijakan menteri keuangan. Sampai sekarang tidak menemukan titik temu. Biar tidak berlarut-larut, kita lakukan mekanisme saja. Kita harus hormati pimpinan sidang yang menginginkan voting. Kalau Anda tidak mau mentaati aturan sidang. Anda kelua saja dari forum ini.” seorang peserta sidang yang berasal dari fraksi yang sama dengan pimpinan sidang memperkuat keputusan pimpinan sidang.
Sebenarnya Pak Dayat, pimpinan sidang dan peserta yang tidak sepakat dengan pak Dayat berasal dari fraksi yang sama. Hanya saja Pak Dayat masih tetap bersikukuh dengan pendapatnya demi kebenaran yang dibelanya. Namun sayang, dia tak dapat dukungan dari peserta lainnya. Kebanyakan mereka tunduk kepada kemunafikan atau bersikap apatis terhadap kebenaran karena takut terancam.
Pak Dayat hanya bisa menangis dalam hati lalu memilih untuk diam dari pada dihujat banyak orang dalam persidangan yang mempraktekkan kebohongan. Sidang dilanjutkan dengan voting dan dimenangkan oleh kubu yang menyatakan bahwa menteri keuangan tidak bersalah dalam mengeluarkan kebijakannya.
Sikap Pak Dayat dalam sidang tadi dinilai oleh ketua fraksinya sebagai sikap tak patuh terhadap kode etik sehingga pagi harinya Pak dayat mendapat panggilan dari ketua fraksi.
Pak daya datang ke kantor partai sendirian menghadap ketua fraksinya. Para pengurus partai juga ada di kantor. Kira-kira ada tujuh orang.
“Ada apa pak? Kok memanggil saya? Ini juga kok kumpul-kumpul para pengurus partai.” kata Pak Dayat.
Suasana kantor hening sesaat. Wajah-wajah sinis para pengurus seolah menghakimi Pak Dayat.
“Jadi begini Pak. Anda kan sudah saya suruh untuk mendukung argumen partai, kenapa kemarin malah bersikap begitu? Dan jujur saja, saya tidak suka dengan sikap anda kemarin. Sekarang anda hanya punya dua pilihan. Dipecat jadi kader partai atau kami akan membuat membangun citra keharmonisan partai yang sempat anda rusak kemarin. Entah dengan cara apapun. Pokoknya harus bisa!” jelas ketua fraksi.
Pak Dayat diam. Ia memutar otak. Mengingat keluarga di Semarang. Jika dipecat dia akan kehilangan pendapatannya. Artinya dia harus menelantarkan keluarga. Jika tetap bertahan dalam kebusukan anggota DPR, sama saja dia menafkahi keluarganya dengan barang haram. Sama dengan preman, calo, maling, dan orang-orang yang dilihatnya saat perjalanan kemarin.
Semua berkecamuk dalam otak Pak Dayat.
“Cepat diputuskan. Sekarang juga!” perintah ketua fraksi.
“Saya minta waktu sehari pak!. Saya mohon!”
“Harus hari ini. Kalau tidak, semua media massa akan meliput ketidakharmonisan partai. Dan itu bisa merusak citra partai. Kita bisa kekurangan suara dalam pemilu berikutnya,” Salah seorang pengurus partai ikut berbicara.
“Saya keluar.” jawaban pak Dayat singkat.
Tanpa menunggu waktu yang lama, sekretaris partai mengambil berkas-berkas pernyataan keluar untuk ditandatangai Pak Dayat.
Hari itu juga, Nur Hidayat resmi menjadi warga biasa, bukan wakil rakyat bukan pula kader partai.
Kebenaran akan selalu menjadi korban dan tersingkirkan. Memang begitulah kenyataannya. Jika kemungkaran sudah menjadi kebiasaan, maka kebaikan seakan menjadi suatu yang asing dan menjijikkan. Itulah fenomena nyata yang terjadi dalam negeri bermental preman.
No comments:
Post a Comment