Sunday, December 8, 2013

MEMENJARAKAN KORUPTOR MASA DEPAN

Oleh : Rizal Mubit

Hampir dua tahun aku menjadi pengajar taman pendidikan Quran (TPQ) di masjid at Taqwa di Semarang. Aku merasakan nikmatnya merawat anak-anak orang kaya yang masih mau diajarkan membaca dan menulis al-Quran. Meski gajinya hanya tiga ratus ribu rupiah perbulan aku sudah merasa senang sebab sejak dulu aku memegang prinsip. "Khoirukum man ta'allama al Quran wa 'allamahu". Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang belajar dan mengajar quran.
Pengalaman selama dua tahun itu membuatku mengenal dekat anak-anak kecil itu beserta orang tuanya. Seringkali orang tua mereka mengajakku makan di rumahnya. Bahkan pernah ditawari menikah dengan salah satu pejabat pemerintah kota Semarang. Tapi aku menolaknya karena aku orang tuaku melarangku menikah selama aku masih menjadi mahasiswa. Kalau saja tawaran itu diberikan saat aku sudah lulus, aku pasti menerimanya.
Seperti biasa sore ini aku mengajar di TPQ. Biasanya jam lima sore aku sudah pulang. Tapi kali ini aku terpaksa aku tak bisa pulang karena hujan deras hingga waktu maghrib tiba.
Karena hujan yang semakin deras, aku masuk ke dalam kamar penjaga kebersihan masjid. Aku berbincang-bincang dengan Pak Dendi, penjaga kebersihan masjid. Di saat asyik ngobrol, salah seorang jamaah masjid ikut bergabung dengan kami.
Kami bertiga berbincang-bincang kesana kemari. Ternyata bapak yang mengenalkan dirinya dengan nama Yosi itu adalah salah satu orang tua santri TPQ. Dia sebelumnya tak pernah kesini karena kesibukannya sebagai pejabat kota Semarang.
Pak Yosi memberiku informasi tentang beasiswa yang diberikan khusus kepada pengajar TPQ. Jumlahnya lumayan. Dua juta rupiah per semester. Awalnya aku ragu akan informasi itu. Tidak mungkin pertemuan secara kebetulan itu akhirnya berbuntut dengan informasi yang mengejutkan.
“Jangan-jangan pak Yosi ini koruptor yang sedang menggarap proyek atas nama beasiswa. Mana mungkin ada beasiswa untuk pengajar TPQ. Bukannya ini pengajar Quran selalu disepelekan. Tak ada yang memperhatikannya apalagi pemerintah” batinku. Namun nalarku berkata lain. Sebagai mahasiswa perantauan, aku butuh uang itu. Akhirnya dengan serta-merta sekaligus kecurigaan, informasi itu kuanggap sebagai informasi yang menggiurkan.
“Segera diurus semua persyaratannya. Paling lambat minggu depan. Ini kartu namaku” kata-kata pak Yosi ini membuatku semakin tergiur meski aku masih berhati-hati.
Informasi tadi kuberitahukan kepada teman-teman kampusku yang kebetulan juga ustazd dan ustazdah TPQ yang menyebar di kota Semarang. Karena kami sulit bertemu langsung karena kesibukan masing-masing, kuberikan informasi itu lewat sms. Semua mahasiswa yang kukenal ku-sms. Sebagai antisipasi barangkali aku tak tahu kalau diantara mereka adalah pengajar TPQ.
"Assalamualaikum. Bagi ustazd-ustazdah TPQ se-kota semarang. Ada informasi beasiswa sebesar dua juta rupiah dari pemerintah kota Semarang. Bagi yang bersangkutan harap konfirmasi. Syarat dan ketentuan berlaku." Smsku kukirimkan ke teman-temanku.
Dengan memberikan informasi itu ke banyak orang, nanti bisa jadi saksi yang kuat untuk melaporkan pak Yosi jika dia memang koruptor.
Beberapa menit kemudian, aku dapat jawaban sms. Ada yang tidak percaya, ada yang tanya persyaratannya dan lain sebagainya. Semua sms itu kubalas sama "Lebih baik ke kosku saja, nanti kujelaskan. Kutunggu!!"
Benar. Beberapa teman pergi ke kosku. Dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Kau dapat informasi dari mana Wan?" tanya Firdaus padaku.
"Nanti saja kujelaskan. Kita tunggu semua teman-teman datang. Ini minum dulu. Maaf cuma bisa kasih minum" Jawabku.
Sekitar lima belas menit, dua puluh temanku datang. Yang cewek juga ada. Beberapa memang sudah kuketahui sebagai ustadzah, tapi ada juga yang tidak.
"Kalau masalah uang, mudah sekali mengumpulkan orang" kataku dalam hati.
"Assalamualaikum. Jadi begini teman-teman. Salah satu walisantri di TPQ-ku adalah pejabat kota Semarang. Kata beliau, ada tunjangan untuk pengajar TPQ. Tiap orang dua juta"
"Terus cara dapatnya gimana?" Reza menyela pembicaraanku.
"Sebentar Mas, biar Ikhwan menjelaskan dulu sampai selesai. Kalau tanya nanti saja" Farah menimpali.
Sepertinya mereka tak sabar lagi.
"Ya sudah. Intinya tiap pengajar bisa mendapatkan uang sebesar dua juta. Syaratnya mendapat rekomendasi dari lembaga TPQ tempat kita mengajar, membuat proposal beserta CV lengkap dengan nomor rekening dan potokopi ktp. Sudah itu saja syaratnya"
"CV itu apa Wan? tanya Aji.
Mendengar pertanyaan itu otomatis teman-teman yang lain tertawa merendahkan.
"Walah Ji, mahasiswa kok nggak tahu CV. Gimana sih?" kata Dina sambil tertawa kecil. Aji tersenyum malu.
"CV itu curriculum vitae alias identitas diri" Andra menjawabnya.
"Ada pertanyaan lagi? Semua data-data dikasihkan aku. Paling lambat minggu depan."
Setelah semua clear, teman-temanku bubar. Hanya Rif'an, Khoirul dan Fian yang masih di kosku. Ketiga orang itu memiliki pikiran yang sama denganku. Kami curiga dengan proyek yang diberikan pak Yosi padaku.
Selama ini mereka kukenal sebagai aktifis yang kritis sehingga wajar jika mereka lebih curiga pada pak Yosi dari pada aku. Aku baru tahu kalau ketiga anak itu juga mengajar di TPQ. Kami lama membincangkannya dengan penuh kecurigaan. Intinya kami bertekad akan mengkasuskannya jika ada dugaan korupsi yang dilakukan pak Yosi.
***
Sebelum seminggu semua berkas dari para ustazd kuterima. Jumlahnya dua puluh lima. Lebih banyak dari jumlah teman-temanku yang kemaren ikut ke kosku.
Tanpa kuklarifikasi dan kulihat berkas-berkasnya semua kuserahkan kepada pak Yosi. Saat memberikan informasinya aku masih menaruh curiga padanya.
"Insya Allah paling lambat dua minggu semua uang akan cair ke rekening masing-masing" kata Pak Yosi.
"Iya pak. Terima kasih sebelumnya. Saya pamit ngajar dulu".
"Iya Wan. Ini sudah lengkap kan?" tanya pak Yosi.
"Sepertinya sudah lengkap. Assalamualaikum pak"
"Waalaikumsalam"
Aku berangkat ke musholla tempat kumengajar TPQ seraya berpikir, kira-kira apa yang akan kulakukan dengan uang sebanyak itu. Yang pasti, bayar hutang harus kunomersatukan setelah itu sedekah dan selebihnya untuk kebutuhan lain saja.
Lima hari setelahnya, Aku dapat telpon pak Yosi.
"Assalamualaikum Wan. Uangnya sudah cair"
"Waalaikumsalam. Injih pak. Alhamdulillah.
Terima kasih pak.Matur nuwun"
Kebahagiaan tak terperikan itu kuekspresikan dengan sujud syukur. Terima kasihku pada-Mu ya Allah. Semua teman-teman yang kemarin ikut mengumpulkan berkas kuberitahu semuanya.
Sepulang kuliah, aku langsung mengambilnya di ATM. Kuambil semua uang. Sore hari setelah ngajar TPQ, Aku  pergi ke toko buku besar di Simpang Lima. Aku beli enam buku yang sudah lama ingin kuincar. Hilang sudah kecurigaanku pada pak Yosi karena uang.
Saat itu juga aku ingin nonton film di bioskop. Aku pun langsung ke gedung bioskop yang lokasinya tak jauh dari toko buku. Dan tanpa kusengaja kubertemu Rif'an, Khoirul dan Fian. Aku senang sekali bisa nonton film bersama. Hanya saja ketiga temanku membawa pasangan masing-masing. Sedang aku tidak.
"Nanti setelah nonton ikut kami Wan. Nggak ada acara kan?"
"Ya. Nggak ada. Mau kemana?" tanyaku.
"Nanti kamu tahu sendiri kok. Dijamin senang lah. Kita refreshing. Dimas dan Yanto sudah pergi duluan kesana. Mereka mempersiapkan acara kita" kata Fian.
"Dimas dan Yanto?" tanyaku
"Iya. Mereka kan juga ikut mengajukan beasiswa Wan."
Benar. Setelah nonton bioskop, cewek-cewek mereka pulang. Kami menuju tempat yang telah dipersiapkan Dimas dan Yanto. Lokasinya cukup jauh dari Simpang Lima.
Kelelahanku hari ini menidurkanku dalam bis hingga ku tak tahu kemana aku diajak pergi.
"Wan. Bangun. Kita sudah mau sampai"
Kudengar suara orang membangunkanku. Aku terbangun dengan pandangan kabur. Kubenarkan letak kaca mataku. Masih gelap. Kuambil minum dari tasku. Akhirnya aku sadar.
Bis berhenti di depan sebuah gedung bertuliskan "Fresh Karaoke".
"Ayo turun Wan. Ayo kita nyanyi-nyanyi di sini. Santai saja. Yang bayarin kita kok. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih kita padamu" ajak Rif'an.
"Iya. Terima kasih" Aku tak bisa mengelak ajakan itu. Terpaksa aku harus ikut masuk ke dalam.
"Aku tahu kok kamu hobi nyanyi. Makanya kami ngajak kamu kesini" Fian menambahi.
Kulihat kasir penjaga karaoke cantik dan seksi. Usianya dua puluh lima tahunan.
"Selamat datang bapak-bapak. Mau pesan kamar mana?" Kami dipanggil bapak-bapak olehnya. Ya biarlah. Memang tampang kami kelihatan tua.
"Kami sudah pesan kok mbak. Tempatnya Dimas dan Yanto."
"Oh. Iya. Ada di lantai dua. Kamar B3" kata gadis itu. Sepertinya dia sudah kenal dengan Dimas dan Yanto.
Aku tertarik kecantikan penjaga kasir itu.  Namun kasihan sekali dia dieksploitasi dengan kerja malam hari.
Kami masuk kamar B3. Astaghfirullah. Kulihat diantara Dimas dan Yanto ada wanita duduk dipeluk mereka berdua.  Di mejanya ada minuman keras. Tangan Dimas juga menggenggam satu botol.
"Betapa biadabnya orang-orang ini. Uang beasiswa dipakainya untuk melakukan perbuatan yang sangat menjijikkan" batinku.
Tak lama, keluar wanita lagi dari kamar mandi. Perempuan itu langsung mendekati kami. Aku ingin marah tapi tak bisa. Entah apa yang ada di otak mereka. Aku berharap bahwa yang kulihat ini hanya mimpi. Dua dari kami langsung menyergap perempuan lonte itu.
Aku berdiri diam.
"Santai saja Wan. Kita juga butuh bersenang-senang. Tak baik kan kalau kita hidup dengan buku-buku, diskusi, kerjakan tugas kuliah. Ada saatnya untuk senang-senang" Kata mereka lalu tertawa.
"Iya Mas. Pasti puas kok." Pelacur itu ikut bicara. Aku masih membisu. Ingin marah tapi tak bisa. Aku syok melihat teman-temanku yang sering bersama mendiskusikan agama, moral bangsa dan lainnya.
Lalu datang pelacur lagi dari luar.
"Wah ketinggalan nih aku" kata pelacur itu. Mereka berpakaian minim sekali. Lama-lama disana aku bisa tergoda.
"Maaf teman-teman. Aku tak bisa. Aku pulang dulu. Kalian nikmati sendiri saja. Terima kasih tawarannya." Aku keluar kamar setengah lari. Melihat kelakuan para bajingan itu aku benar-benar syok.
Aku tak tahu harus kemana. Aku terus saja berjalan sambil memikirkan apa yang baru saja kulihat. Mulutku tak berhenti mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dari Allah. Kenapa mereka membohongi diri mereka sendiri. Mereka paling hebat berbicara tentang moralitas sosial. Tapi tak melihat perilaku diri sendiri. Apa benar mereka pengajar di TPQ? Aku baru teringat saat aku kirim sms tanpa berpikir panjang. Bahkan semua teman ku sms.
Di jalan aku menjumpai masjid. Kuputuskan untuk sejenak sujud disana. Sujud memohon ampunan atas khilafku yang menimbulkan bencana besar atas teman-temanku. Mereka menyalahgunakan uangnya. Uang yang didapat dari bantuan negara. Maafkan aku Tuhan. Aku bersujud hingga tertidur.
***
Empat hari setelah kejadian malam itu, aku disuruh ke rumah pak Yosi. Entah ada apa gerangan, sepertinya penting.
Sesampai di rumah pak Yosi, aku dimarahinya.
"Kau ini bagaimana Wan? Mau belajar jadi koruptor? Penampilanmu saja kayak ustadz, tapi kelakuanku bejat. Munafik. Tak pantas kau jadi ustazd!" Kulihat kemarahan pak Yosi tak main-main. Awalnya aku hanya diam. Tak tahu apa maksudnya.
"Maksudnya apa Pak? Saya tak terima kalau dibilang munafik Pak. Ngomong baik-baik Pak." kataku.
Pak Yosi masih geram. Tapi dia mencoba menenangkan diri. Diambilnya rokok dari sakunya. Mungkin itulah caranya untuk menenangkan diri.
"Maafkan aku Wan. Ini kami di kantor mendapatkan ada lima dokumen palsu. Dokumen dari nama-nama ini. Surat rekomendasi dari TPQ palsu semua. Bahkan TPQ nya fiktif" pak Yosi agak tenang.
"Boleh kulihat pak?"
Kuamati satu persatu berkas-berkas palsu itu. Subhanallah. Rif'an, Khoirul dan Fian, Yanto dan Dimas. Ternyata benar dugaanku. Bajingan-bajingan itu bukan ustazd. Aku ikut marah sebab merasa dibohongi oleh penjahat-penjahat kelamin itu.
Aku mencoba memberanikan diri. Kuutarakan semuanya pada pak Yosi. Siapa saja mereka. Dan bagaimana kronologinya hingga mereka bisa ikut mengajukan beasiswa. Tapi aku tak bercerita peristiwa malam itu. Biar aku saja yang tahu kelakuan bejat mereka.
"Maafkan aku pak. Gara-gara aku terlalu senang dan butuh uang hingga kuterburu-buru menginformasikan pada orang yang salah" kataku. Air mataku tak terbendung.
"Astaghfirullah. Kalau begitu bukan salahmu Wan. Mereka yang perlu dikasih pelajaran. Biar mereka tahu kalau anggaran negara tak bisa digunakan seenaknya"
Pak Yosi mengeluarkan hp.
"Halo pak Selamat sore. Ternyata benar. Lima dokumen itu palsu. Besok kita gerebek saja mereka"
"Nelpon siapa Pak?" tanyaku
"Temanku di polrestabes Semarang"
Langkah yang bagus. Aku juga tak rela jika uang yang diperoleh dengan cara yang haram dipakai untuk untuk perbuatan haram apalagi sampai mau menjerumuskanku juga.
Hari berikutnya pak Yosi menelponku. Ia memintaku untuk menunjukkan para polisi di mana kos koruptor-koruptor masa depan itu. Awalnya aku sempat ragu. Mana mungkin aku rela membiarkan teman-temanku ditangkap polisi. Benar-benar dilematis.
Sempat kuberpikir lama sebelum memutuskan untuk membantu pak Yosi. Saat kumengingat-ingat kebersamaanku dengan mereka dalam sebuah forum diskusi, dalam seminar, saat bermain bersama, aku tak tega membantu pak Yosi. Baru setelah memori-memori otakku memutar rekaman kejadian malam itu, aku akhirnya mengiyakan permintaan pak Yosi.
Aku langsung beranjak ke rumah pak Yosi lalu mengantarkan polisi ke tempat kos kelima temanku. Agak sulit mencarinya sebab mereka tidak tinggal satu kos. Dengan informasi yang kudapatkan dari teman-teman kosku, akhirnya polisi berhasil menciduk mereka saat masih tertidur dalam kos.
Mereka akhirnya divonis penjara selama setahun setengah atas tindakannya memalsukan data. Otomatis hukuman neraka juga menunggu pezina dan pemabuk yang berkedok menjadi aktifis yang kritis dan idealis. Itu jika mereka tak juga bertobat hingga ajal. Semoga kalian diberi petunjuk Allah. Bertobatlah sahabat-sahabatku. Jangan sampai kalian menjadi koruptor masa depan.

No comments:

Post a Comment