Tuesday, December 3, 2013

ADILKAH INI (55)

Oleh: Rizal Mubit Kemarin Firzia bahagia karena sudah membeli baju untuk pernikahan. Rencananya, ia akan memamerkan pada sang kekasih minggu depan tepat hari ulang tahun sekaligus untuk memastikan bahwa dirinya siap untuk dinikahi. Sudah lama Firzia tak kunjung mengiyakan ajakan Jordan untuk menikah. Sementara, selama ini mereka menjalin hubungan jarak jauh dengan sangat hangat dan romantis sekalipun rintangan tak henti menghadang. Namun hari ini, kebahagiaan itu sirna sudah. Firzia memarahi dan mencaci dirinya yang terlalu lama mengulur waktu. Sedang dia tak tahu bahwa Jordan terus didesak orang tua dan orang-orang terdekatnya untuk segera menikah. Jordan baru saja menelpon Firzia bahwa ternyata orang tuanya diam-diam mencarikan jodoh. “Apa kau tak bisa menolaknya, Mas?” “Tak bisa, Firzia. Tak mungkin kumenolaknya. Lagi pula kamu terus mengulur waktu dan aku. . . “ belum selesai bicara, Firzia memotong. “Mas! Selama ini kita bisa melewati segala rintangan, Mas. Kenapa kali ini kau begitu mudah menyudahi semua?” “Fir. Tolong jangan emosi dulu, Fir. Sebenarnya ada sebab lain kenapa akhirnya kumemilih jalan ini. . .” Tuuuut tuuuut tuuuut. Telpon dimatikan Firzia. Prang. . . . Firzia melempar ponselnya ke arah cermin di depannya hingga cermin itu retak. Kemarahan, kebencian, penyesalan dan semuanya berkecamuk dalam pikiran. Namun dia tak bisa menyalahkan kekasihnya. Harus disadari, sedikit banyak Firzia sendiri yang menyebabkan semuanya terjadi. Sejak dulu, Jordan mengajaknya menikah mulai awal menjalin hubungan, tapi dia sendiri menolaknya dengan berbagai alasan. Mulai dari usia, mental, keinginan untuk belajar dan macam-macam alasan. Untungnya Jordan selalu bersabar menunggu. Hanya saja kali ini entah apa yang terjadi, Jordan memilih untuk berpisah. Firzia mengambil buku harian yang dulu diberi Jordan. Buku itu adalah saksi bahwa keduanya pernah menjalin hubungan jarak jauh. Dengan buku itu, Jordan dan Firzia menulis surat yang dikirim lewat pos secara bergiliran. Dan sejak setahun lalu, surat itu terhenti karena Firzia merasa bosan menulis. Kini Firzia membaca semua lukisan hati yang ditulis sang kekasih. Air matanya meleleh. Dalam kegalauan, ia menulis. Apa ini? Jelaskan padaku. Kupikir hampir jadi. Masih saja salah langkahku. Kini impianku hancur di depan mata masih saja kutunggu. Kubertahan. Haruskah kuakhiri, aku tak tahu apakah ini nyata atau tak nyata. Tak ingin kuhindari sanggupkah aku terus melangkah atau kupergi saja. Mau atau tak mau, suka atau tak suka kan kucari jalan sendiri. . . Memang, hubungan jarak jauh bukanlah pilihan terbaik bagi sepasang kekasih yang belum memiliki kedewasaan dan masih dikuasai keegoan. Butuh komitmen yang kuat antara keduanya. Jordan menelpon lagi lewat ponsel ibu Firzia yang tak tahu peristiwa yang dialami anaknya. “Maafkan aku, Fir. Aku sudah didesak orang tua untuk segera menikah. Dan mereka mencarikan calon yang tak bisa kutolak.” Ibu Firzia sudah menerka telah terjadi sesuatu dengan anaknya dan Jordan. Akan tetapi dia tak mau ikut campur dan melanjutkan lagi bersih-bersih rumah. Saat itu ayah Firzia masih bekerja. “Maksudmu apa, Mas? Apa dia lebih cantik? Lebih kaya? Lebih muda, heh?” Firzia tak kuat lagi menahan kesedihan. Di hadapan patung Yesus yang terpajang di dinding, ia berdoa dalam hati agar diberi ketenangan dan ketegaran dalam menghadapi ujian yang dialaminya. “Bukan itu. Bukan. Kau tahu, bapak menginginkanku untuk melanjutkan karirnya menjadi anggota dewan. Dan yang dijodohkanku ini anak seorang pejabat kota kelahiranku di Garut.” Jordan mengelak sambil masih mencari-cari alasan agar Firzia mau menerima kenyataan. “Hanya karena jabatan, Mas. Begitu rendahnya dirimu. Kau rela memilih jabatan dari pada aku. “ “Fir. . . Bukan hanya itu, Fir. Orang tuaku berubah pikiran.” Jordan memelankan suara, mengatur tempo bicara dengan baik. “Maksudmu?” “Perbedaan kita, Fir. Perbedaan kita sudah tak dapat terjembatani. Ibu tak mau punya menantu yang berbeda keyakinan. Aku sudah membujuknya berkali-kali. Tapi ibu masih ngotot. Ibu sampai menangis, Fir. Bahkan aku sudah menyampaikan argmen dari sudut pandang fikih dan kitabku. Tapi masih saja ibu bersikukuh.” Tubuh Firzia lemas. Ia tiba-tiba duduk dan menghapus air matanya. Ia jadi lebih tegar. “Kalau alasanmu karena itu. Baiklah, Mas. Aku bisa terima.” Firzia mengambil patung Yesus lalu dipeluknya sambil menangis. Hening. Jordan dan Firzia saling diam. Sesekali terdengar isakan tangis Firzia. “Cantikku. . . . Aku masih sayang kamu. Tak ada yang bisa merubah perasaanku, Fir. Kau tetap terindah meski kita tak mungkin bersatu.” “Mas . . .” “Apa, Fir?” “Kau selalu ada di langkahku, Mas. Selalu.” Sesak di dada Jordan tak dapat tertahann. Dia ikut menangis. Jarak yang begitu jauh, memaksa mereka berpisah lewat telpon. Ya, hanya lewat telpon. Baju pengantin yang sudah dibeli Firzia digunting-gunting. Matanya masih mengeluarkan tangisan yang kedengarannya sangat menyedihkan. Ia mengingat masa lalunya. Masa lalu yang membuat ia sangat menyesal. “Tolong lah, Mas. Aku masih ingin kuliah. Kalau sudah lulus baru kita menikah. Aku tak ingin konsentrasiku terganggu. Kita jalani hubungan kita apa adanya.” Sebenarnya kata-kata itulah yang membuat Jordan bimbang, apakah benar dia adalah kekasih yang diinginkan Firzia. Dan Jordan sendiri akhirnya pergi karena mungkin sudah lelah menanti dan mencintai seorang gadis yang tak kunjung meyakinkan dirinya. “Nanti akan sangat membantumu, Dek. Yakinlah bahwa pernikahan kita akan memperbaiki kehidupan. Bukan malah menganggu. Aku akan membantu tugas-tugas kuliahmu.” “Pokoknya aku belum siap. Titik. Apa Mas sudah nggak sabar menunggguku?” “Nggak tahu. Orang tua sudah mendesak, Dek.” “Kalau begitu, terserah, Mas. Mas sudah dewasa. Tentukan pilihanmu sendiri, Mas.” Jordan menganggapnya sebagai lampu hijau untuk mencari perempuan lain. Dan ujungnya, dia dipertemukan oleh bapaknya dengan anak gadis seorang pejabat kota yang jelita. Pejabat itu tahu kapasitas dan kredibilitas Jordan yang cerdas dan memiliki jaringan luas sehingga pejabat itu mau memuluskan keinginan Jordan menjadi anggota dewan asal dia mau menikah dengan anaknya. Firzia yang tegar mencoba berpikir bahwa tak ada gunanya menyesali semua. Ia datang pada acara pernikahan Jordan. Melihat sang kekasih bersanding di pelaminan, Firzia mampu bertahan. Hanya saja ia tak mampu bicara. Ia cuma bisa menyalami dan terpaksa senyum di depan Jordan dan istrinya. Dalam hati dia menangis sambil membatin. Kita telah memutuskan tak lagi bersama karena rintangan yang ada tak henti menghadang. Haruskah kumenepis resah ini? Salahkah aku atas perasaan ini yang tak mampu menutupi aku masih cinta kamu. Biarkan aku pilih jalan tuk sendiri tanpa harus ada lagi cinta selain dirimu. Mengapa harus keyakinan memisah cinta kita. Meski cintamu agung. Kau tetap terindah meski tak mungkin bersatu. Keyakinan yang memisahkan kita buat kubertanya. Adilkah ini?

No comments:

Post a Comment