Tuesday, December 3, 2013

KECEWA

Kekecewaan ini punya alasan. Setelah berbulan-bulan aku memberikan ilmu dasar tentang menulis ternyata masih banyak yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan. Aku sampai bosan mengingatkan. Harus berapa kali aku menyalahkan dan membenarkan. Akhirnya kesimpulan yang dapat kuambil adalah bahwa majalah terancam gagal terbit. Sekalipun berhasil terbit itu pun bukan karya mereka. Padahal aku sudah mewanti-wanti bahwa majalah ini harus murni karya santri. Bukan kuambil dari tulisan teman-temanku. Kekecewaanku membumbung tinggi jika mengingat ternyata justru computer yang harusnya dijadikan fasilitas untuk menulis malah dibuat untuk main-main. Internet digunakan untuk download video game, download music, buka komik. Dalam kondisi seperti ini aku sudah layak untuk marah-marah. Tapi aku cukup membiarkan. Kubiarkan otak mereka digunakan. Bahwa apa yang dilakukan itu tidak layak. Kalau ini kubiarkan terus menerus, maka lebih baik aku diam saja. Akan kujadikan kamar ini sebagai kamar pribadiku. Biar majalah kuurus sendiri. Aku mampu melakukannya sendiri tanpa anak-anak. Egois dan individualis? Biar saja demikian. Dari pada harus makan hati dengan memberikan ilmu tapi tidak digunakan dengan maksimal. Sia-sia bukan? Kenapa aku tak menemukan orang-orang great seperti yang ada di Farabi Institute? Memang secara kemampuan dan cara berpikir orang-orang di Farabi tidak patut dibandingkan dengan anak-anak ini. Yang tak kutemukan justru poin terpenting yang bias dimiliki semua orang tak peduli usia atau kemampuan. Dialah semangat. Kalau saja anak-anak ini punya semangat, pasti ada banyak cara yang bisa dijadikan modal untuk menjadi penulis, untuk menjadi seorang jurnalis pondok. Anak-anak ini tak punya. Bahkan buku dan majalah sudah kufasilitasi untuk meningkatkan kualitas tulisan. Tapi apa yang terjadi? Majalah itu jadi benda usang. Lama-lama bisa jadi fosil. Kemarin aku sempat dibuat kesal ketika ada seorang anak merasa bosan dengan penulisan artikel. Apa sebenarnya yang mereka inginkan. Tentu dalam jurnalis majalah, posisi artikel jauh lebih penting dari tulisan lain seperti cerpen atau berita. Lebih dari lima puluh persen isi majalah adalah artikel meski dengan berbagai macam rubric. Kalau sudah bosan, lalu mau diapakan majalahnya? 3 NOVEMBER 2013

No comments:

Post a Comment