Dua hari ini aku menceritakan kepada siswa tentang perjalanan hidupku. Bukan untuk menyombongkan diri, hanya ingin berbagi agar bisa jadi inspirasi. Aku ingin mereka tahu bahwa aku terlahir dari keluarga yang boleh jadi tak lebih baik dari santri baik dari segi perkonomian maupun pendidikan. Tapi satu hal yang berbeda, semangat dalam menuntut ilmu. Aku melihat rasa ingin tahu para santri masih di bawahku saat aku masih seusia mereka. Selama perjalananku menempuh pendidikan, aku tampak lurus berada dalam jalur yang tidak controversial dan macam-macam. Aku harus mensyukurinya. Sempat aku menginginkan melihat sosokku yang mungkin saja bisa kutemukan di antara ratusan santri yang ada di sini. Dan sampai sekarang aku belum menemukannya. Ada sebuah kendala yang kualami dalam proses pendidikan yakni penyesuaian diriku di hadapan mereka. Aku masih menggunakan standar belajar yangdulu pernah kupakai saat aku masih di bangku sekolah. Tentu saja, standarku akan terasa berat bagi kebanyakan santri. Hanya satu dua yang bisa mengikuti. Yang jadi masalah, aku juga sempat berpikir kalau missal aku harus menurunkan standar, bukankah ini malah menghambat kemajuan. Tak hanya kemajuan mereka tapi aku juga. Untuk poin ini aku masih mencari standar dengan memilih jalan tengah. Aku harus mengalah meski sesekali aku juga perlu menerapkan standarku. Prinsipku, jika aku muda berproses pada awal tahun dua ribuan. Mengapa mereka yang hidup pada tahun 2013 tak bisa? Seharusnya malah lebih bisa dariku.
No comments:
Post a Comment