Tuesday, December 3, 2013

DIAKAH JODOHKU? (60)

Oleh: Rizal Mubit Aku heran dengan hujan sore ini. Ia datang tiba-tiba, tak menghiraukan matahari yang bersinar cerah. Bukan apa-apa, masalahnya genting kamarku yang bocor belum kuperbaiki. Kalau hujan deras, alamat nanti malam aku tidur ngungsi ke musholla. Sebelum air turun dari langit, karpet hijau yang kujadikan alas tidur langsung kulipat, bantal kusembunyikan di kolong meja belajar. Titik-titik bocor kutadahi dengan ember-ember bekas kondangan. Sesaat kemudian, hujan menderas disertai angin kencang. Tak dapat dihindari, kebocoran semakin menjadi. Beginilah nasib bujang saat hujan. Di sela kesibukanku bertarung dengan hujan, ponselku berdering. Sebuah sms masuk. “Assalamualaikum. Apa kabar, Om?” Kulihat pengirimnya, Zila, teman facebook yang lama tak ada kontak. “Waalaikumsalam. Kabar baik. Sampean gimana?” jawabku singkat. Awalnya aku ingin menceritakan keadaanku sebenarnya. Keadaan seorang bujang yang menderita karena ketenangan sorenya direnggut oleh hujan. Tapi tak ada guna. Seandainya diberi tahu ia juga tak bisa membantu. Kuurungkan niatku. Pasti ada sesuatu yang membuat Zila mengirim sms. Tak mungkin tiba-tiba teman lama menanyai kabar tanpa ada maksud lain. Ada tujuan yang kemungkinan dianggapnya penting. Hanya saja perlu semacam basa-basi sebelum menyampaikan tujuan sebenarnya. Kutunggu balasan dengan menata ember warna warni di lantai kamar. Tiga menit kemudian sms balasan masuk. “Alhamdulillah, Om. Aku sekarang lagi di Tingkir Salatiga. Di pondok penghafal Qur'an. Raudlatul Qur’an.” Zila sudah lama memanggilku akrab dengan sebutan 'om’. Om Amrullah. Ia mulai memanggilku demikian sejak pertama chatting di facebook. Namun aku tidak memanggilnya 'tante'. Aku cukup memanggil namanya saja. “Ada apa disana, Zil? Jauh amat!” balasku. “Aku nyambangi sepupuku, Om. Ini sama bibi dan ibuku. Anaknya mau kenalan. Dia juga punya hobby yang sama denganmu, Om. Suka potografi. Ia ingin berbagi kisah. Dia cantik loh. Hafal quran lagi. Bulan depan ia diwisuda.” Nah. Saya kira tujuan Zila sudah dapat ditebak. Ia ingin mengenalkanku dengan sepupunya. Tapi apa hanya sekedar mengenalkan? Tidak. Pasti lebih dari itu. Jujur, ada semacam ketukan yang rasanya seperti tusukan ke hati ketika membaca sms dari Zila 'Dia cantik loh. Hafal quran lagi!'. Kamar bocor pun tak lagi kuhiraukan. Biar dalam kamar sekalian basah oleh hujan. Yang penting buku, kamera dan barang-barangku sudah aman. Semoga hujannya tak lama. “Belum punya calon kan, Om???” belum aku menjawab sms, Zila mengirim sms lagi. Jariku memencet tuts ponsel cepat. Perkenalan dengan gadis penghafal Qur’an pasti menarik. Apalagi kalau sampai dekat dengannya. “Belum ada yang pasti.” jawabku singkat. Semakin terbaca tujuan sms Zila sore berhujan ini. Semoga seperti yang kudambakan. “Tapi kenalannya nanti saja ya. Kalau anaknya sudah liburan Ruwah,” sms Zila lagi. Ruwah atau Sya’ban kurang tiga puluh hari. Bagiku itu waktu yang terlalu lama untuk menunggu dan mengenal gadis penghafal Qur'an itu. Dan aku tak tahu sebabnya, ada rasa yang datang tiba-tiba seperti datangnya hujan sore ini. Rasa yang menantang kehampaan hati seorang bujang. “Yah. Sekarang tak bisa? Aku telpon yah!” sms balasanku. Agak lama Zila tak membalas. Hitungan kasarku, lebih dari sepuluh menit. Barangkali sedang mendiskusikan dengan sepupunya, apakah mau ditelpon atau tidak. Sambil menunggu balasan, kuperhatikan kamarku. Banyak genting bocor yang meneteskan air. Lantai hampir rata dipenuhi air. Ember yang kupasang tak tepat sasaran. Kuambil pel untuk mengelap sementara hujan tak sederas tadi. Mungkin sebentar lagi akan berhenti. “Oke.” sms masuk. Aku menelpon Zila. Awalnya Zila yang mengangkat. Aku kenal suara cemprengnya meski sudah tak mendengar selama hampir tiga bulan. Di belakang Zila terdengar suara riuh rendah para santri. Bayanganku, ia sedang berada di kamar bersama santri lain. Selang beberapa waktu, tak ada yang bicara. Gadis penghafal Quran itu mungkin sedang ragu atau entahlah. Semua teori khayalku tak berlaku setelah mengucap salam. ”Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” spontan aku menjawab lengkap salam itu. Suara beningnya mengalun lembut menggetarkan, menghentikan akal sehatku. Aku terduduk di lantai basah, tak peduli sarungku terkena air.. Suara perempuan yang bibirnya telah laacnar dengan ayat-ayat Quran begitu lembut. Apa mungkin dia meniru cara bicara bidadari surga? “Aku manggilnya apa ini? Mas? Kang? Gus atau bagaimana?” dia menyapaku yang masih diam terpaku. “Namamu siapa?” bukannya menjawab tanya, tiba-tiba aku seperti anak remaja belasan tahun yang dungu. Berkenalan dengan menanyakan nama secara langsung tanpa basa-basi. Gadis penghafal Qur'an itu diam selama beberapa detik. Kuulangi tanyaku. “Hah? Apa? aku ndak dengar suaramu.” Ujar gadis itu. Kusisir rambutku dengan jari. Sampai segitukah aku hingga tak mampu mengeluarkan suara. Padahal aku rasanya sudah menanyakan hal serupa tiga kali namun. Kulihat layar ponselku, sinyalnya penuh. Tak mungkin ini karena masalah jaringan. “Bicara apa? Aku ndak dengar?” suara lembut itu terulang. Kuambil nafas dalam-dalam. “Namamu siapa?” “Oh. Aku Li'illiyyina. . .” “Apa?” tanyaku memastikan. “Namaku Li'illiyyina. Biasa dipanggil Yina. Aku tak tahu artinya tapi aku menemukannya di maulid Dziba'. Mungkin orang tuaku mengambilnya dari sana.” suaranya beningnya mendesirkan hati dan mengukuhkannya. Singkat cerita, aku juga mengenalkan diri. Namaku Amrullah biasa dipanggil Aam. Usiaku dan Yina hanya terpaut bulan. Aku lahir pada bulan ketujuh sedang ia pada bulan ke dua belas. Ia berasal dari Boyolali Jawa Tengah, wajar jika logatnya halus sebab dekat dengan Solo. Jadi anggapanku salah. Dia tidak meniru cara bicara bidadari surga. Yina bercerita, mulai nyantri sejak keluar SMP sampai sekarang untuk memenuhi keinginan orang tuanya. Sudah lebih dari tujuh tahun dia nyantri. Sementara ia sudah hafal Quran sejak tiga tahun lalu. Selain menghafal Qur’an, ia juga memperdalam kajian tafsir dan terus memperbaiki bacaannya sampai bertahun-tahun. Dan baru tahun ini ia diwisuda sebagai penghafal. Kabarnya sebagai penghafal terbaik. “Sampean anak pertama?” tanya Yina. “Ya. Kamu juga?” “Ya. Dan aku pernah terpaksa harus bekerja di pabrik dekat pondok saat ekonomi keluargaku carut marut. Kalau tidak, aku tak bisa bayar uang syahriah pondok. Untungnya tak menganggu hafalanku. Waktu itu, hampir saja aku boyong.” “Subhanallah. Lalu bagaimana sekarang?” tanyaku. “Sejak dua tahun lalu, adikku yang tertua sudah bekerja. Lumayan bisa menghidupi adikku lainnya.” cerita Yina. Begitu mulianya keinginannya menjadi penghafal Quran. Perkenalan singkat itu terasa indah menyenangkan. Aku tertawan olehnya. *** Sebulan kemudian aku menghadiri pesta pernikahan temanku di Tuntang Salatiga. Tanpa sengaja pesta itu dilaksanakan sehari sebelum Yina diwisuda. Jarak antara Tuntang dan Tingkir tak jauh. Tak ada salahnya kalau aku menghadiri acara wisuda Yina. Barangkali jodoh. Kuhubungi Khamdani, temanku yang dari Salatiga juga. Aku minta ia mengantarkanku ke pesantren Raudlatul Quran. Malam hari, Khamdani menjemputku di tempat pesta pernikahan. Aku menginap di rumahnya. Kulihat istri Khamdani sedang hamil. Ia menikah setahun lalu dengan teman kuliah. Malam itu aku, Khamdani dan Nur aini istrinya berbagi cerita dan bernostalgia. “Pesantren Raudlatul Qur’an itu milik pakdeku, Am. Istri pengasuhnya itu mbaknya abahku.” jelas Hafizah. “Kebetulan nanti kita sekalian sowan ke baliau.” kataku. “Hei, ada apa memangnya kamu ke Radlatul Quran? Punya saudara?” tanya Khamdani. Aku menggeleng. “Lalu?” “Menurutmu?” tanyaku. Tiba-tiba Khamdani tertawa. Hafizah menatap heran suaminya. “Jangan dikira aku lupa obsesimu, Am. Aku tahu kau tak menikah sampai usiamu setua ini karena ingin punya istri penghafal Quran, kan? Hei, aku masih ingat dulu waktu kuliah bahkan kau nekat ikut mondok di pesantren Tahfidzul Quran di Semarang hanya karena ingin berkenalan dengan santri putri hingga kau malah diusir pengurus dari sana karena ketahuan main mata dengan santri. Obsesimu masih tersimpan sampai hari ini, Am?” Kupukul lengan Khamdani,”Stop!” Kuharap keredupan lampu mampu menyembunyikan warna merah mukaku karena malu. “Lalu kau akhirnya tak pernah ke sana lagi kan?” lanjut Khamdani. Hafizah tak pernah tahu sejarah kelam yang pernah kualami waktu itu. Hanya Khamdani yang tahu kisah memalukan ini. Tapi kini, Hafizah juga tahu. Ia senyum-senyum nyengir melihatku. “Hei. Apa salahnya dengan obsesiku? Aku sekarang lebih siap untuk mendapat istri penghafal Quran.” “Nah! Ngaku kan? Sebaiknya kau cerita saja, Am. Istriku bisa membantu asal….” “Asal apa?” tanyaku penasaran. “Asal kau belum kedahuluan orang lain. Biasanya, santri putri penghafal Quran sudah diminta jodoh.” Hafizah berujar santai seperti tak menghiraukan kekhawatiranku. Aku sering dengar kabar itu. kabar tentang banyaknya lelaki yang ingin menikahi santri penghafal Quran. Yang ingin menikahi bukan orang-orang sembarangan. Anak kiai, pejabat, konglomerat muda dan orang-orang yang status sosialnya tinggi punya ketertarikan pada istri shalihah yang hafal Qur’an. Sementara aku hanya petani dan guru TPQ. Jika kabar itu benar, hancurlah harapanku. Wisudawan terbaik pasti sudah diincar banyak orang. “Siapa incaranmu, Am?” tanya Hafizah. “Wisudawan terbaik tahun ini.” Jawabku pesimis. “Wow. Seleramu memang great! Tapi, hei, apa tak terlambat? Sejauh mana kau kenal dia?” Kuceritakan perkenalanku dengan Yina yang hanya lewat sms dan telpon. Tak ada pengalaman special yang bisa dijadikan landasan untuk bisa mendapatkan Yina. Aku semakin pesimistis. Dia pasti sudah dilamar pria lain. *** Pada saat hari wisuda tiba, aku datang bersama Khamdani. Ketika aku datang, suasana masih lengang. Aku dan Khamdani langsung sowan ke tempat Kiai. Kiai sudah tua. Wajahnya teduh menenteramkan. Kulitnya putih bersih. Sorot matanya tajam. Damai rasanya berada di dekat Kiai Warson. Aku dan Khamdani bertanya banyak hal. Dan dari keterangan Kiai, ternyata wisuda dilakukan malam hari. Sedang aku sudah datang terlalu pagi. Aku tak berani bertanya tentang santrinya. Khamdani juga tak menanyakan itu. Tapi malah kiai yang bertanya padaku. “Sudah berkeluarga?” “Dereng, Kiai. Belum.” “Oh. Mugi-mugi angsal jodoh ingkang sholihah.” Doa Kiai tulus. Aku dan Khamdani mengamini. Aku melihat-lihat kondisi pesantren yang sejuk karena letaknya di dataran tinggi Salatiga. Lokasinya jauh dari keramaian. Di setiap tempat bisa dijumpai santri yang menghafal Quran. Ada yang sendirian ada pula yang dua orang. Satu santri bagian menyimak, satunya menghafal. Rata-rata santri masih seusia anak-anak SMP dan SMA. Benar-benar remaja yang hebat. Di tengah kerusakan moral generasi muda, ternyata masih ada sekelompokanak muda yang masih mau menghabiskan waktu untuk menghafal Quran, ngaji, belajar tanpa harus mengeluh karena tak ada fasilitas seperti ponsel maupun laptop. Sore hari, wali santri mulai berdatangan. Aku sengaja berada di tempat penerimaan tamu menunggu kedatangan orang tua Yina. Dan usahaku tak sia-sia, kira-kira pukul setengah lima, bapak dan ibu Yina datang. Aku menyalami beliau dan mengantarkan ke tempat tamu, sok akrab. “Orang tuanya Yina, Pak?” “Nggeh, Tadz.” jawabnya dengan wajah bersahabat. Sepertinya aku dianggap guru oleh orang tua Yina. “Pareng asmo sinten, Pak?” tanyaku. “Kholik. Jenengan sinten?” “Kulo Amrullah, Pak.” “Oh ustadz Amrullah yang diceritakan Kiai Warson tadi.” Aku tak tahu maksudnya. Tapi karena aku sudah terlanjur sok akrab, tak mungkin aku menjawab tidak. “Injih, Pak.” “Subhanallah. Memang sudah jodoh, Nak. Nanti setelah ini langsung ke Boyolali langsung.” Aku semakin bingung. Aku hanya mengangguk sambil senyum. Sepertinya orang ini salah orang. *** Wisuda selesai. Aku dari tadi duduk di samping orang tua Yina tanpa banyak bicara karena masing-masing kami seksama menyaksikan prosesi wisuda. Mataku yang minus tak dapat melihat jelas wajah Yina waktu naik panggung. Pak Kholik terlihat berkaca-kaca saat tahu anaknya jadi yang terbaik. Bahkan ibunya tak bisa menahan air mata. Suasana yang menyenangkan. Aku hanya bertepuk tangan. Menepuki rasa pesimisku karena harapan yang kecil tak bisa mendapatkannya. Kiai Warson mengajak keluarga wisudawan terbaik untuk menikmati jamuan di ndalem. Akhirnya aku sendiri duduk sendirian di tengah orang-orang yang meluapkan kegembiraannya karena anaknya sudah berhasil menghafal Quran tiga puluh juz. Kubuka ponselku, sms masuk dari Khamdani. “Kutunggu di ndalem. Ayo ikut makan!” “Aku di sini saja.” Jawabku. Khamdani menelponku, memaksaku datang. “Hei, kau mau diusir seperti dulu karena disangka mencurigakan, heh? Kesinilah! Istriku juga disini.” Aku datang ke ndalem saat semua orang di dalam sedang makan. Kulihat Kiai Warson juga di sana, duduk di samping Pak Kholik. Ada beberapa santri juga di sana. Aku tak tahu Yina di sebelah mana. “Monggo Mas Amrullah,”ucap Kiai Warson,”Ini Loh Pak Kholik. Mas Amrullah datang jauh dari Jawa Timur. Ia ingin ta’aruf dengan putrimu.” Semakin membingungkan. Apa maksudnya Kiai Warson dengan ta’aruf. Tapi aku tahu ini pasti kelakuan Hafizah dan Khamdani. Kulirik mereka berdua. Dengan kompak mereka mengedipkan mata. “Nah. Sebaiknya ta’arufnya di sini saja. Sekalian kalau memang cocok, tentukan hari dan tanggalnya.” ujar Kiai Warson. Ia begitu bijaksana. Rasa-rasanya hal seperti ini sudah biasa terjadi di pesantren ini. Kiai Warson menunjukkan Yina. Malam itu ia memakai jilbab merah cerah dan warna baju yang sama. Kulirik dia, kuperhatikan selama beberapa detik. Alis tebalnya, mata sendunya, hidungnya dan bibir tipisnya merangkai harmoni keindahan yang cantik mempesona. Cara duduknya begitu anggun. Dalam waktu yang sama, Khamdani duduk di sampingku, membisiku. “Kau iyakan saja. Yina dan orang tuanya pasti mau. Kau beruntung, tak ada lelaki yang punya mental melamarnya. Maklum, perhiasan mahal.” “Bagaimana, Ustadz Amrullah?” tanya Kiai Warson. “Insya Allah, Kiai. Bismillah.” Kataku sambil mengangguk mantap. Kurasakan ada air hangat yang dikirim dari hati. “Pripun, Pak Kholik?” “Kulo insya Allah, Kiai. Kalau Kiai menghendaki, saya menghendaki.” Allahu akbar. Kuusap air mataku sebelum jatuh ke pipi. Khamdani menyalamiku dan memelukku. Ia berkata pelan.”Hei, aku kasihan melihat wajahmu yang semakin menua tapi tak laku-laku. Aku dan Hafizah yang merencanakan ini. Kau harus berterima kasih pada kami, Kawan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mantapkan hatimu!” Aku mengangguk. Kiai Warson tersenyum senang. Yina mengulum senyuman manja. Ia malu-malu melirikku. “Silakan kalian tentukan Nanti kita laksanakan akad nikah di sini. Semua biaya konsumsi dan akomodasi, saya yang tanggung sebagai hadiah wisudawan terbaik.” Aku segera menelpon orang tuaku. Kukabari kejadian yang kualami. Mereka senang bukan kepalang. Kudengar emakku mengucap hamdalah kegirangan. Sedang Bapak menyerahkan semuanya padaku. Hari, tanggal dan semua keperluan kutanggung sendiri. Pernikahan dilakukan dua minggu setelahnya, persiapan sudah ditanggung Kiai Warson. Aku hanya menyiapkan mahar dan transportasi keluarga. Yina hanya butuh memantapkan hati. Zila juga hadir di sana. Ia bahkan jadi MC acara. Sejarah hidupku terukir indah di pesantren Raudlatul Quran. Para Kiai, Ustadz, ustadzah dan ratusan santri serta para undangan turut menyaksikan akad nikah yang terlaksana dengan seksama. Mereka mendoakan kami dipimpin Kiai Warson.

No comments:

Post a Comment