Sunday, December 8, 2013

DOSEN KIAI? (46)

November 14, 2012 at 10:21am
Oleh: Rizal Mubit
Aku bersyukur lantaran seorang dosen bergelar doktor mempercayaiku. Seolah aku menjadi staff sekaligus sekretaris pribadinya. Ya, meski tak ada surat tugas langsung dari fakultas. Apalagi dosen yang dekat denganku ini selalu memudahkan urusannya mahasiswa yang dekat dengannya. Apapun urusannya baik masalah perkuliahan maupun di luar kuliah.

Hampir tiap hari kudiajaknya pergi. Tapi itu tak sesering nasihat-nasihatnya yang kerap terlontar saat aku mulai tak benar. Hingga bertambah hari, aku semakin dekat. Semua perintahnya kutaati, semua keinginan kuturuti sekalipun tak ada balasan berupa materi. Aku melakukan semua pintanya dengan senang hati.

Aku tahu semua tentangnya baik di kampus atau di pesantren mahasiswa yang baru saja dirintisnya. Pada prinsipnya semua perintahnya adalah wujud dari pengabdianku padanya. Dan pengabdian adalah ibadah.

Hari ini kuliah pulang sampai sore. Di jalan, kubuka ponsel. Sms baru masuk dari pak dosen,“Nanti malam tidur di rumahku, Mas!”
Orang-orang memanggilnya Pak Sameer. Tapi aku memanggilnya Kiai Sameer. Bagiku, dia memang pantas dipanggil Kiai. Dan dia juga sangat suka saat kupanggil dengan sebutan Kiai. Wajahnya berubah cerah oleh senyuman tiap kali kupanggil dengan gelar masyarakat itu.

Sepulang kuliah, aku mampir di warung langgananku. Mahasiswa menyebutnya Warung Pak Pri karena pemiliknya akrab dipanggil Pak Pri. Kulihat teman-temanku juga sedang menyantap makanan dengan wajah kelelahan.

“Wuih. Pada kumpul nih!” sapaku.

“Monggo, Mas Syarif!” jawab salah satu temanku. kulihat Pak Pri sudah siap mendengar pesananku,.

“Makan, Pak!! Sepaleh, mawon!!” ucapku.

“Minumnya apa, Mas?”

“Petak, Pak. Air putih!

“Lauknya?”

“Gorengan.” jawabku singkat. Tak lama, air putih tersaji.

Kulihat wajah mahasiswa yang sedang makan satu-satu. Tak semuanya kukenal. Warung sederhana dan sempit itu membuat semua perbincangan dapat terdengar. Karena tak ada yang akrab, aku memilih untuk diam dan mendengarkan percakapan.

“Sibuk, Om? Lama ndak ketemu?” tanya Hafidz, mahasiswa asal Bali berhidung mancung itu.

“Biasa lah. Ngurusi seminar.” jawab Khotib.

“Seminar aja bingung,” Ivan menimpali.

“Bukan seminarnya yang buatku bingung. Itu pak Sameer mbulet saja.”

“Haha. Sudah dari dulu, Om.”

Aku mendengarkan percapakan itu. Mereka sepertinya mulai ngerasani dosen Kiaiku.

“Mbuletnya gimana sih? Bagi-bagi donk!” tanya Ivan.

“Begini,”Khotib memperbaiki tempat duduknya seperti sedang berbicara dengan para pejabat yang akan menentukan anggaran negara,”sebelum seminar kan sebenarnya kita tak melibatkan dia.

“Dia siapa maksudmu?” tanya Ivan.

“Ya si Sameer lah, Om.”

“Tahu sendiri lah. Dia itu seperti apa. Tapi dia seperti merengek ke ketua panitia agar dijadikan moderator. Padahal kita sudah milih dosen lain. Kebetulan saja dosen yang mau kita jadikan moderator berhalangan. Mau tak mau kita milih si Sameer jadi moderator. Orangnya maksa juga sih.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Dia ngakunya belum dapat surat mandat dari moderator. Padahal ketua panitia sudah ngasih dua hari lalu. Nah, teman-teman masih ragu juga sama ketua panitia. Aku lah yang kena. Soalnya aku bagian Humas. Ketua panitia sudah sumpah kalau undangan sudah diberi. Tapi teman-teman tak percaya.”

“Ini Mas, makannya!” Pak Pri mengagetkanku.

“Akhirnya kita biarkan si Sameer dengan sikapnya. Ketua panitia mau menguji siapa sebenarnya yang bohong.”

“Lalu?” tanya Khotib.

“Lalu sehari sebelumnya dia menyerah. Dia bersedia jadi moderator juga meski tak diberi undangan lagi.”

“Hahaha. Minta uang biasanya.” sela Ivan

“Kayaknya juga begitu. Soalnya dia bikin ulah lagi. Selesai seminar, dia masuk kelas. Kebetulan aku bolos. Muak lihat wajahnya. Kata teman-teman, si Sameer itu dengan bahasa sindiran minta gaji jadi moderator. Tuh, aku lagi kan yang kena.”

“Haha. Santai, Om.” ucap Ivan.

“Sudah dibiarkan saja. Aku sudah empat tahun kuliah di sini, aku tahu siapa dia. Kalian baru dua tahun.” Indra yang dari tadi diam ikut bicara.
Kuhabiskan makanku, bayar dan keluar. Aku tak banyak menghiraukan omongan teman-teman. Sehari sebelumnya aku juga mendengar gunjingan negatif tentang pak Sameer termasuk isu yang menggegerkan fakultas yakni nikah sirri dan poligaminya dengan kakak kelasku. Sampai saat ini tak ada yang tahu kebenarannya. Pak Sameer sendiri selalu menampik semua anggapan itu dengan tegas. Dan semua itu kuanggap semua itu hanya fitnah. Ya, memang orang baik dan memiliki integritas yang baik akan banyak difitnah. Kiai Sameer termasuk korbannya. Suatu saat semua akan terbongkar siapa yang memfitnah dan difitnah atau yang bohong dan dibohongi. Kalau di dunia tak bisa, maka di akhirat tak bisa dihindari.

Malam hari kudatangi rumah Kiai Sameer. Kukira ada apa, ternyata ia memintaku memijitnya karena lelah. Saat memijit, pak Sameer sedang menulis sesuatu di laptop. Tak jelas apa yang sedang dibuatnya.

“Saya tahu di fakultas banyak yang tak suka padaku. Tak hanya mahasiswa, dosen juga banyak.” cerita Kiai Sameer. Aku masih konsentrasi memijit punggungnya.

“Biarlah orang-orang menebar fitnah. Nanti sejarah akan membuktikan. Kurasa mereka iri dengan kesuksesanku.” lanjutnya.

“Injih, Pak Kiai.”

“Syarif belum ngantuk?”

“Dereng.”

Tak sampai setengah jam, Kiai Sameer sudah terlelap. Laptopnya masih dalam kondisi terbuka. Kucoba melihat apa saja yang ada dalam laptopnya. Barangkali ada banyak hal inspiratif yang bisa kocopy.

Kubuka semua folder satu persatu hingga berjam-berjam. Entah aku tak ngantuk malam itu meski tubuh terasa lelah. Kuambil flashdisk untuk mengambil beberapa e-book, data-data perkuliahan dan foto-fotonya.

Pak Sameer masih lelap. Terlihat wajahnya kelelahan. Aku masih menelusuri semua isi laptopnya. Aku ingin tahu rahasia suksesnya. Usianya masih tergolong muda tapi capaiannya luar biasa. Semua orang tahu ia menguasai ilmu falak yang sangat langka. Di usianya yang masih muda, Kiai Sameer sudah melalang buana ke nusantara untuk mengajarkan ilmu falak. Bahkan pernah sampai ke Singapura untuk meneliti arah kiblat sebuah masjid dengan teori dan praktek pengukuran arah kiblat yang ditemukannya. Aku ingin sepertinya. Sungguh.

Tak cukup dengan membuka folder yang sudah ada, kucoba membuka folder yang hidden (tersembunyi). Kemungkinan rahasia kesuksesannya tersimpan di sana. Memang aku tak sopan sudah membuka banyak file di laptopnya. Tapi kurasa ini ada baiknya untuk masa depanku.

Pandanganku terhenti, gerakan tanganku di atas mouse berhenti saat kulihat hidden folder bernama wedding. Entah kenapa anganku tiba-tiba berlari menuju anggapan bahwa folder itu berisi foto-foto dan dokumen nikah sirri Kiai Sameer. Tapi nalarku mengatakan tidak. Tak mungkin Kiai Sameer bohong. Jika bohong, berarti selama ini dia membohongi banyak orang. Dan bagiku, kebohongan adalah suatu hal yang keji. Orang yang berbohong tak mungkin hanya sekali. Bohong bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Cursor mengarah pada folder itu. Ada keraguan saat telunjukku menekan klik dua kali. Astaga. Folder itu berisi foto-foto. Nafasku tercekat tapi tanganku terus bergerak mengklik salah satu foto lalu memencet tombol arah. Tanpa kusadari Pak Sameer mengigau. Bukan. Bukan mengigau, dia terbangun saat aku masih membuka ‘folder rahasia’ itu.

PLAKKKK. Tahu-tahu tangannya menamparku. Kekagetannya akan perbuatanku telah membangunkan kesadarannya lebih cepat dari orang yang terbangun dengan normal.

“Apa-apaan, Mas. Buka laptop orang tak izin. Tak sopan.” Nafasnya memburu. Suaranya keras. Dia lalu merebut laptopnya dari tanganku.

“Maaf, Pak.” kataku. “Maaf-maaf. Anda itu tak sopan! Membuka rahasia orang!” dia marah dengan suara agak dipelankan takut membangunkan orang.

Dia mencoba memukulku lagi, kutangkis tangannya. Lalu aku berdiri dan lari keluar. Kupacu motorku dan pulang ke rumah kos.

Aku syok berat. Kukira inilah syok terhebat yang pernah kualami. Selama ini aku tak percaya ternyata gosip yang beredar. Apapun yang terjadi, aku lebih percaya dengan Pak Sameer. Tapi foto tadi telah merobohkan kepercayaanku padanya. Folder yang kubuka tadi berisi foto-foto pernikahannya dengan kakak kelasku telah membuka semuanya. Foto itu sangat jelas. Aku kenal siapa gadis di sampingnya.

Foto itu cukup membuktikan bahwa dia memang pembohong seperti yang dikatakan teman-temanku. Tentang poligaminya, tentang kasus seminar kemarin.

***

Pagi harinya, aku bertemu teman-teman di warung Pak Pri. Merekalah yang cocok untuk kucurhati.

“Dia sudah tak bisa dibiarkan. Kita harus bertindak. Kita laporkan ke fakultas.” ujar Hafidz seraya memegangi hidung mancungnya.

“Tapi kita harus punya bukti yang kuat. Apa kau sempat mengkopinya foto-foto itu?” tanya Ivan.

“Kalau memang kita mau melapor. Jangan hanya masalah poligaminya. Aku pernah mendengar penggelapan dana bantuan pesantren dari pemerintah dan institut. Ya, kurasa penggelapan itu benar adanya. Tak mungkin dia bisa beli mobil baru hanya dari gaji dosen dan mengisi seminar. Mobil itu pasti dari dana
pemerintah yang nilainya ratusan juta. Aku pernah mendengarnya dari seorang dosen.” jelas Hafidz.

Diskusi pagi memutuskan untuk melapor apa yang kulihat semalam ke pihak fakultas. Poligaminya jelas melanggar aturan sebab Pegawai Negeri di Indonesia dilarang untuk poligami, jika melakukan akan dikeluarkan statusnya dari Pegawai.

Informasiku kepada fakultas ditindaklanjuti dengan memeriksa laptop Pak Sameer. Sebelumnya kuminta kepada dekanat fakultas agar merahasiakan namaku dan teman-temanku yang melapor.

Sepulang kuliah aku dan teman-teman menemui pejabat fakultas yang kuberi laporan. Tak hanya menemui foto-foto poligami ternyata dalam laptop itu juga terdapat data bantuan dari pejabat pemerintah untuk diklarifikasi kebenarannya.

“Saya berterima kasih, Mas Syarif. Saya akan segera membuat laporan pelanggaran ini. Secepatnya akan ada pengaduan kepada pihak yang berwenang agar Pak Sameer diproses secepatnya.” kata Pak Imam.

“Terserah, Pak. Bagi saya sudah cukup mengetahui semua ini. Saya tak ingin terlibat lebih jauh. Bapak sudah punya bukti. Silakan diproses dengan baik. Saya minta tolong agar tak melibatkan saya dan teman-teman. Kami ingin konsentrasi menghadapi ujian.” kataku. Kami pamit.

Kejadian itu memberiku pelajaran dan menghajarku untuk tak mudah percaya dengan siapa pun. Bahkan pada pejabat fakultas yang kulapori tadi. Karena bisa jadi dia juga punya kepentingan lain. Dan ternyata tak ada yang lebih sakit dari pada dikecewakan karena kebohongan orang yang sangat dikagumi. Aku menyesal telah memanggilnya Kiai. 

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, tokoh atau karakter itu hanya kebetulan yang bisa jadi memang disengaja. hehe

No comments:

Post a Comment