November
14, 2012 at 10:21am
Oleh:
Rizal Mubit
Aku
bersyukur lantaran seorang dosen bergelar doktor mempercayaiku. Seolah aku
menjadi staff sekaligus sekretaris pribadinya. Ya, meski tak ada surat tugas
langsung dari fakultas. Apalagi dosen yang dekat denganku ini selalu memudahkan
urusannya mahasiswa yang dekat dengannya. Apapun urusannya baik masalah
perkuliahan maupun di luar kuliah.
Hampir
tiap hari kudiajaknya pergi. Tapi itu tak sesering nasihat-nasihatnya yang
kerap terlontar saat aku mulai tak benar. Hingga bertambah hari, aku semakin
dekat. Semua perintahnya kutaati, semua keinginan kuturuti sekalipun tak ada
balasan berupa materi. Aku melakukan semua pintanya dengan senang hati.
Aku
tahu semua tentangnya baik di kampus atau di pesantren mahasiswa yang baru saja
dirintisnya. Pada prinsipnya semua perintahnya adalah wujud dari pengabdianku
padanya. Dan pengabdian adalah ibadah.
Hari
ini kuliah pulang sampai sore. Di jalan, kubuka ponsel. Sms baru masuk dari pak
dosen,“Nanti malam tidur di rumahku, Mas!”
Orang-orang
memanggilnya Pak Sameer. Tapi aku memanggilnya Kiai Sameer. Bagiku, dia memang
pantas dipanggil Kiai. Dan dia juga sangat suka saat kupanggil dengan sebutan
Kiai. Wajahnya berubah cerah oleh senyuman tiap kali kupanggil dengan gelar
masyarakat itu.
Sepulang
kuliah, aku mampir di warung langgananku. Mahasiswa menyebutnya Warung Pak Pri
karena pemiliknya akrab dipanggil Pak Pri. Kulihat teman-temanku juga sedang
menyantap makanan dengan wajah kelelahan.
“Wuih.
Pada kumpul nih!” sapaku.
“Monggo,
Mas Syarif!” jawab salah satu temanku. kulihat Pak Pri sudah siap mendengar
pesananku,.
“Makan,
Pak!! Sepaleh, mawon!!” ucapku.
“Minumnya
apa, Mas?”
“Petak,
Pak. Air putih!
“Lauknya?”
“Gorengan.”
jawabku singkat. Tak lama, air putih tersaji.
Kulihat
wajah mahasiswa yang sedang makan satu-satu. Tak semuanya kukenal. Warung
sederhana dan sempit itu membuat semua perbincangan dapat terdengar. Karena tak
ada yang akrab, aku memilih untuk diam dan mendengarkan percakapan.
“Sibuk,
Om? Lama ndak ketemu?” tanya Hafidz, mahasiswa asal Bali berhidung mancung itu.
“Biasa
lah. Ngurusi seminar.” jawab Khotib.
“Seminar
aja bingung,” Ivan menimpali.
“Bukan
seminarnya yang buatku bingung. Itu pak Sameer mbulet saja.”
“Haha.
Sudah dari dulu, Om.”
Aku
mendengarkan percapakan itu. Mereka sepertinya mulai ngerasani dosen Kiaiku.
“Mbuletnya
gimana sih? Bagi-bagi donk!” tanya Ivan.
“Begini,”Khotib
memperbaiki tempat duduknya seperti sedang berbicara dengan para pejabat yang
akan menentukan anggaran negara,”sebelum seminar kan sebenarnya kita tak
melibatkan dia.
“Dia
siapa maksudmu?” tanya Ivan.
“Ya
si Sameer lah, Om.”
“Tahu
sendiri lah. Dia itu seperti apa. Tapi dia seperti merengek ke ketua panitia
agar dijadikan moderator. Padahal kita sudah milih dosen lain. Kebetulan saja
dosen yang mau kita jadikan moderator berhalangan. Mau tak mau kita milih si
Sameer jadi moderator. Orangnya maksa juga sih.”
“Lalu
apa masalahnya?”
“Dia
ngakunya belum dapat surat mandat dari moderator. Padahal ketua panitia sudah
ngasih dua hari lalu. Nah, teman-teman masih ragu juga sama ketua panitia. Aku
lah yang kena. Soalnya aku bagian Humas. Ketua panitia sudah sumpah kalau
undangan sudah diberi. Tapi teman-teman tak percaya.”
“Ini
Mas, makannya!” Pak Pri mengagetkanku.
“Akhirnya
kita biarkan si Sameer dengan sikapnya. Ketua panitia mau menguji siapa
sebenarnya yang bohong.”
“Lalu?”
tanya Khotib.
“Lalu
sehari sebelumnya dia menyerah. Dia bersedia jadi moderator juga meski tak
diberi undangan lagi.”
“Hahaha.
Minta uang biasanya.” sela Ivan
“Kayaknya
juga begitu. Soalnya dia bikin ulah lagi. Selesai seminar, dia masuk kelas.
Kebetulan aku bolos. Muak lihat wajahnya. Kata teman-teman, si Sameer itu
dengan bahasa sindiran minta gaji jadi moderator. Tuh, aku lagi kan yang kena.”
“Haha.
Santai, Om.” ucap Ivan.
“Sudah
dibiarkan saja. Aku sudah empat tahun kuliah di sini, aku tahu siapa dia.
Kalian baru dua tahun.” Indra yang dari tadi diam ikut bicara.
Kuhabiskan
makanku, bayar dan keluar. Aku tak banyak menghiraukan omongan teman-teman.
Sehari sebelumnya aku juga mendengar gunjingan negatif tentang pak Sameer
termasuk isu yang menggegerkan fakultas yakni nikah sirri dan poligaminya
dengan kakak kelasku. Sampai saat ini tak ada yang tahu kebenarannya. Pak
Sameer sendiri selalu menampik semua anggapan itu dengan tegas. Dan semua itu
kuanggap semua itu hanya fitnah. Ya, memang orang baik dan memiliki integritas
yang baik akan banyak difitnah. Kiai Sameer termasuk korbannya. Suatu saat
semua akan terbongkar siapa yang memfitnah dan difitnah atau yang bohong dan
dibohongi. Kalau di dunia tak bisa, maka di akhirat tak bisa dihindari.
Malam
hari kudatangi rumah Kiai Sameer. Kukira ada apa, ternyata ia memintaku
memijitnya karena lelah. Saat memijit, pak Sameer sedang menulis sesuatu di
laptop. Tak jelas apa yang sedang dibuatnya.
“Saya
tahu di fakultas banyak yang tak suka padaku. Tak hanya mahasiswa, dosen juga
banyak.” cerita Kiai Sameer. Aku masih konsentrasi memijit punggungnya.
“Biarlah
orang-orang menebar fitnah. Nanti sejarah akan membuktikan. Kurasa mereka iri
dengan kesuksesanku.” lanjutnya.
“Injih,
Pak Kiai.”
“Syarif
belum ngantuk?”
“Dereng.”
Tak
sampai setengah jam, Kiai Sameer sudah terlelap. Laptopnya masih dalam kondisi
terbuka. Kucoba melihat apa saja yang ada dalam laptopnya. Barangkali ada
banyak hal inspiratif yang bisa kocopy.
Kubuka
semua folder satu persatu hingga berjam-berjam. Entah aku tak ngantuk malam itu
meski tubuh terasa lelah. Kuambil flashdisk untuk mengambil beberapa e-book,
data-data perkuliahan dan foto-fotonya.
Pak
Sameer masih lelap. Terlihat wajahnya kelelahan. Aku masih menelusuri semua isi
laptopnya. Aku ingin tahu rahasia suksesnya. Usianya masih tergolong muda tapi
capaiannya luar biasa. Semua orang tahu ia menguasai ilmu falak yang sangat
langka. Di usianya yang masih muda, Kiai Sameer sudah melalang buana ke
nusantara untuk mengajarkan ilmu falak. Bahkan pernah sampai ke Singapura untuk
meneliti arah kiblat sebuah masjid dengan teori dan praktek pengukuran arah
kiblat yang ditemukannya. Aku ingin sepertinya. Sungguh.
Tak
cukup dengan membuka folder yang sudah ada, kucoba membuka folder yang hidden
(tersembunyi). Kemungkinan rahasia kesuksesannya tersimpan di sana. Memang aku
tak sopan sudah membuka banyak file di laptopnya. Tapi kurasa ini ada baiknya
untuk masa depanku.
Pandanganku
terhenti, gerakan tanganku di atas mouse berhenti saat kulihat hidden folder
bernama wedding. Entah kenapa anganku tiba-tiba berlari menuju anggapan bahwa
folder itu berisi foto-foto dan dokumen nikah sirri Kiai Sameer. Tapi nalarku
mengatakan tidak. Tak mungkin Kiai Sameer bohong. Jika bohong, berarti selama
ini dia membohongi banyak orang. Dan bagiku, kebohongan adalah suatu hal yang
keji. Orang yang berbohong tak mungkin hanya sekali. Bohong bisa menjadi sebuah
kebiasaan.
Cursor
mengarah pada folder itu. Ada keraguan saat telunjukku menekan klik dua kali.
Astaga. Folder itu berisi foto-foto. Nafasku tercekat tapi tanganku terus
bergerak mengklik salah satu foto lalu memencet tombol arah. Tanpa kusadari Pak
Sameer mengigau. Bukan. Bukan mengigau, dia terbangun saat aku masih membuka
‘folder rahasia’ itu.
PLAKKKK.
Tahu-tahu tangannya menamparku. Kekagetannya akan perbuatanku telah membangunkan
kesadarannya lebih cepat dari orang yang terbangun dengan normal.
“Apa-apaan,
Mas. Buka laptop orang tak izin. Tak sopan.” Nafasnya memburu. Suaranya keras.
Dia lalu merebut laptopnya dari tanganku.
“Maaf,
Pak.” kataku. “Maaf-maaf. Anda itu tak sopan! Membuka rahasia orang!” dia marah
dengan suara agak dipelankan takut membangunkan orang.
Dia
mencoba memukulku lagi, kutangkis tangannya. Lalu aku berdiri dan lari keluar.
Kupacu motorku dan pulang ke rumah kos.
Aku
syok berat. Kukira inilah syok terhebat yang pernah kualami. Selama ini aku tak
percaya ternyata gosip yang beredar. Apapun yang terjadi, aku lebih percaya
dengan Pak Sameer. Tapi foto tadi telah merobohkan kepercayaanku padanya.
Folder yang kubuka tadi berisi foto-foto pernikahannya dengan kakak kelasku
telah membuka semuanya. Foto itu sangat jelas. Aku kenal siapa gadis di
sampingnya.
Foto
itu cukup membuktikan bahwa dia memang pembohong seperti yang dikatakan
teman-temanku. Tentang poligaminya, tentang kasus seminar kemarin.
***
Pagi
harinya, aku bertemu teman-teman di warung Pak Pri. Merekalah yang cocok untuk
kucurhati.
“Dia
sudah tak bisa dibiarkan. Kita harus bertindak. Kita laporkan ke fakultas.”
ujar Hafidz seraya memegangi hidung mancungnya.
“Tapi
kita harus punya bukti yang kuat. Apa kau sempat mengkopinya foto-foto itu?”
tanya Ivan.
“Kalau
memang kita mau melapor. Jangan hanya masalah poligaminya. Aku pernah mendengar
penggelapan dana bantuan pesantren dari pemerintah dan institut. Ya, kurasa
penggelapan itu benar adanya. Tak mungkin dia bisa beli mobil baru hanya dari
gaji dosen dan mengisi seminar. Mobil itu pasti dari dana
pemerintah
yang nilainya ratusan juta. Aku pernah mendengarnya dari seorang dosen.” jelas
Hafidz.
Diskusi
pagi memutuskan untuk melapor apa yang kulihat semalam ke pihak fakultas.
Poligaminya jelas melanggar aturan sebab Pegawai Negeri di Indonesia dilarang
untuk poligami, jika melakukan akan dikeluarkan statusnya dari Pegawai.
Informasiku
kepada fakultas ditindaklanjuti dengan memeriksa laptop Pak Sameer. Sebelumnya
kuminta kepada dekanat fakultas agar merahasiakan namaku dan teman-temanku yang
melapor.
Sepulang
kuliah aku dan teman-teman menemui pejabat fakultas yang kuberi laporan. Tak
hanya menemui foto-foto poligami ternyata dalam laptop itu juga terdapat data
bantuan dari pejabat pemerintah untuk diklarifikasi kebenarannya.
“Saya
berterima kasih, Mas Syarif. Saya akan segera membuat laporan pelanggaran ini.
Secepatnya akan ada pengaduan kepada pihak yang berwenang agar Pak Sameer diproses
secepatnya.” kata Pak Imam.
“Terserah,
Pak. Bagi saya sudah cukup mengetahui semua ini. Saya tak ingin terlibat lebih
jauh. Bapak sudah punya bukti. Silakan diproses dengan baik. Saya minta tolong
agar tak melibatkan saya dan teman-teman. Kami ingin konsentrasi menghadapi
ujian.” kataku. Kami pamit.
Kejadian
itu memberiku pelajaran dan menghajarku untuk tak mudah percaya dengan siapa
pun. Bahkan pada pejabat fakultas yang kulapori tadi. Karena bisa jadi dia juga
punya kepentingan lain. Dan ternyata tak ada yang lebih sakit dari pada
dikecewakan karena kebohongan orang yang sangat dikagumi. Aku menyesal telah
memanggilnya Kiai.
Cerita
ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, tokoh atau karakter itu
hanya kebetulan yang bisa jadi memang disengaja. hehe
No comments:
Post a Comment