Monday, June 29, 2015

SUATU HARI RAMADAN DI SEMARANG

Selasa, 30 Juni 2015

Selama tinggal di Semarang, Koran yang paling sering saya baca adalah Suara Merdeka dan Kompas. Dalam salah satu isi Suara Merdeka biasanya ada info agenda kota. Pada Ramadhan 2011 ada agenda seminar penulisan skripsi di salah satu kampus swasta di Semarang. Ada di dekat Taman Budaya Raden Saleh. Dalam jadwal, agendanya dimulai pada jam empat sore. Seingat saya begitu.

Saya berangkat dengan Dayat, teman asal Kalsel yang pintar dan lugu. Terkadang konyol. Dia juga suka mendatangi agenda seminar dan pelatihan. Olehnya saya mengajaknya. Pasti dia mau. Setelah ashar kami berangkat. Kami lupa kalau butuh waktu satu jam setengah untuk sampai ke sana. Sehingga jika sampai lokasi pasti terlambat. Sebab bus ke sana juga jarang. Beda dengan bus ke arah pasar Johar atau Terboyo.

Di dalam bis, Dayat bilang lupa bawa dompet. Saya hanya bawa uang enam belas ribu. Waktu itu untuk naik bis satu orang empat ribu rupiah. Tak masalah. Sebab aku yakin ini akan jadi pengalaman seru. Bagaimana nanti berbuka dengan uang pas-pasan dan bisa kembali pulang ke pondok.

Dayat sama denganku, mahasiswa penerima beasiswa dari Menteri Agama. Alhamdulillah. Di dalam bis, selalu diskusi seru walau pasti ada yang saya sepakati dan tidak disepakati. Tapi kami tak pernah berselisih. Selalu jadi teman baik.

Sampailah di dekat jalan Kartini (kalau tak salah). Kami cari lokasi dan tidak ketemu. Sampai waktu buka tiba. Sementara uang tinggal delapan ribu. Setelah diskusi sebentar akhirnya aku ambil uang dua ribu. Seribu untuk beli es teh segelas untuk berdua. Dan beli dua gorengan. Nanti pulang bisa jalan kaki.

Takjil sederhana selesai lalu lanjut cari masjid buat sholat. Rejeki pun datang.jamaah masjid baik hati, menunjukkan lokasi wudhu dan memberi kami banyak gorengan (kalau tak salah dulu tahu bakso) dan teh manis. Kenyang sudah perut walau tak makan nasi.

Setelah buka, kami jalan kaki cari tempat pulang. Uang tinggal enam ribu. Di tengah perjalanan, adzan Isya berkumandang. Masjid terdekat berada di kawasan Undip Pleburan. Melihat jadwal imam Tarawih sepertinya bagus. Penceramahnya bergelar Lc.

Ceramah dilakukan sebelum terawih. Mendengar materinya, aku dan Dayat langsung kabur. Bukannya mengajak untuk berbuat kebaikan di bulan Ramadan malah mengkampanyekan Jihad dalam pengertian sempit yakni ajakan perang. Benih-benih radikalisme seperti ini banyak di kampus-kampus umum.

Perjalanan berlanjut dengan jalan kaki. Banyak tema yang didiskusikan sampai lupa kalau jalan yang ditempuh salah. Bukannya berjalan mendekati pondok malah jauh menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Baru sadar kalau salah arah setelah melihat menara Agung. Kaki sudah lelah. Perut belum terisi nasi. Aku sisihkan uang seribu untuk beli es the satu plastik di sebuah angkringan yang kami lewati. Uang tersisa lima ribu untuk berdua.

Diskusi sudah ngalor-ngidul membahas banyak hal, mulai dari dunia aktivis mahasiswa yang saya geluti, politik, agama dan macam-macam. Tak ada habisnya berdiskusi dengan Dayat. Dan kami balik ke pondok setelah pengajian selesai setelah ada angkot yang bisa dibayar dengan dana dua ribu per orang.

 

No comments:

Post a Comment