Selasa, 30 Juni 2015
Selama
tinggal di Semarang, Koran yang paling sering saya baca adalah Suara Merdeka
dan Kompas. Dalam salah satu isi Suara Merdeka biasanya ada info agenda kota.
Pada Ramadhan 2011 ada agenda seminar penulisan skripsi di salah satu kampus
swasta di Semarang. Ada di dekat Taman Budaya Raden Saleh. Dalam jadwal,
agendanya dimulai pada jam empat sore. Seingat saya begitu.
Saya
berangkat dengan Dayat, teman asal Kalsel yang pintar dan lugu. Terkadang
konyol. Dia juga suka mendatangi agenda seminar dan pelatihan. Olehnya saya
mengajaknya. Pasti dia mau. Setelah ashar kami berangkat. Kami lupa kalau butuh
waktu satu jam setengah untuk sampai ke sana. Sehingga jika sampai lokasi pasti
terlambat. Sebab bus ke sana juga jarang. Beda dengan bus ke arah pasar Johar atau
Terboyo.
Di
dalam bis, Dayat bilang lupa bawa dompet. Saya hanya bawa uang enam belas ribu.
Waktu itu untuk naik bis satu orang empat ribu rupiah. Tak masalah. Sebab aku
yakin ini akan jadi pengalaman seru. Bagaimana nanti berbuka dengan uang
pas-pasan dan bisa kembali pulang ke pondok.
Dayat
sama denganku, mahasiswa penerima beasiswa dari Menteri Agama. Alhamdulillah.
Di dalam bis, selalu diskusi seru walau pasti ada yang saya sepakati dan tidak
disepakati. Tapi kami tak pernah berselisih. Selalu jadi teman baik.
Sampailah
di dekat jalan Kartini (kalau tak salah). Kami cari lokasi dan tidak ketemu.
Sampai waktu buka tiba. Sementara uang tinggal delapan ribu. Setelah diskusi
sebentar akhirnya aku ambil uang dua ribu. Seribu untuk beli es teh segelas untuk
berdua. Dan beli dua gorengan. Nanti pulang bisa jalan kaki.
Takjil
sederhana selesai lalu lanjut cari masjid buat sholat. Rejeki pun datang.jamaah
masjid baik hati, menunjukkan lokasi wudhu dan memberi kami banyak gorengan
(kalau tak salah dulu tahu bakso) dan teh manis. Kenyang sudah perut walau tak
makan nasi.
Setelah
buka, kami jalan kaki cari tempat pulang. Uang tinggal enam ribu. Di tengah
perjalanan, adzan Isya berkumandang. Masjid terdekat berada di kawasan Undip
Pleburan. Melihat jadwal imam Tarawih sepertinya bagus. Penceramahnya bergelar
Lc.
Ceramah
dilakukan sebelum terawih. Mendengar materinya, aku dan Dayat langsung kabur.
Bukannya mengajak untuk berbuat kebaikan di bulan Ramadan malah mengkampanyekan
Jihad dalam pengertian sempit yakni ajakan perang. Benih-benih radikalisme
seperti ini banyak di kampus-kampus umum.
Perjalanan
berlanjut dengan jalan kaki. Banyak tema yang didiskusikan sampai lupa kalau
jalan yang ditempuh salah. Bukannya berjalan mendekati pondok malah jauh menuju
Masjid Agung Jawa Tengah. Baru sadar kalau salah arah setelah melihat menara
Agung. Kaki sudah lelah. Perut belum terisi nasi. Aku sisihkan uang seribu
untuk beli es the satu plastik di sebuah angkringan yang kami lewati. Uang
tersisa lima ribu untuk berdua.
Diskusi
sudah ngalor-ngidul membahas banyak hal, mulai dari dunia aktivis mahasiswa
yang saya geluti, politik, agama dan macam-macam. Tak ada habisnya berdiskusi
dengan Dayat. Dan kami balik ke pondok setelah pengajian selesai setelah ada
angkot yang bisa dibayar dengan dana dua ribu per orang.
No comments:
Post a Comment