Wednesday, July 1, 2015

TENTANG KEMARAHAN


Rabu, 1 Juli 2015
Bapak adalah orang yang pertama memarahiku, membentakku, menghardikku, memukulku, membantingku di atas kamar tidur dan segala jenis kekerasan lainnya. Semua dilakukan untuk mendidikku. Kemudian emakku, beliau juga mendidikku dengan kekerasan fisik. Biasanya yang menolong adalah mbokku.

Pendidikan tersebut berdampak pada diriku sampai sekarang. Aku tak suka dimarahi dan tak suka melihat orang marah. Oleh karena itulah sebisa mungkin aku tak marah. Tak pernah aku memaki orang. Kecuali akting dalam drama waktu aliyah dan waktu kuliah.

Lalu dulu ada dosen yang memakiku karena kesalahn sepele sampai mengatakan aku munafik, aku mahasiswa tak tahu diuntung dan lain sebagainya. Kejadian itu terjadi kira-kira awal tahun 2009. Dan saya merasa seperti anak kecil yang dimarahi bapak. Untung aku bisa bersikap tenang.

Beberapa hari lalu, keponakanku sampai bilang. Kok malah aku yang diomelin adikku. Ya, adikku malah mengomeliku untuk sebuah kesalahan yang aku sendiri tak tahu apa. Dan saya kira itu hanya guyonan saja. Dan caranya mengingatkanku atas kekeliruanku. Lagi pula wajar juga karena yang mengomel adalah adik perempuanku. Adik yang kuingat dulu waktu kecil dekat denganku. Ketika usianya tiga tahun dia lebih ikut aku dari pada adik lelakiku jika aku sedang bertengkar. Semoga dia sukses kuliah dan kerjanya. Aku menyayangi adik-adikku dengan diam.

Namun ini adalah sebuah keanehan. Ada orang, yang dalam struktur organisasi, dia adalah bawahanku walaupun aku tak suka menganggap siapa pun sebagai bawahan. Secara umur dia juga jauh di bawahku. Aku tak perlu menyebut namanya. Kalau dia membaca, aku bersyukur. Aku menulisnya tidak dalam keadaan marah. Biasa saja sekalipun sebetulnya aku merasa sedikit terluka dengan bentakannya yang tidak pantas sebagai bawahan dan orang yang lebih muda.

Beberapa kali aku dimarahi untuk kesalahan yang menurutku sepele. Sampai aku sendiri heran dan terkejut dengan sikap tersebut. Aku masih terbawa dengan masa kecilku, trauma jika ada orang yang marah apalagi memarahiku.

Aku merasa ada yang salah dengan orang itu sampai aku mencari alasan agar aku menganggap sikapnya wajar sampai aku menemukan sebuah bacaan bahwa orang yang bersifat seperti itu memang dalam ilmu psikologi adalah tipe orang tak normal sebagaimana umumnya. Aku sendiri merasa demikian. Suatu ketika dia wajar tapi terkadang emosinya meledak, terkadang menyuruh-nyuruhku, kadang suka becanda yang tak tepat, berkata-kata yang tak pantas dan macam-macam. Aku bersikap wajar. Stay cool. Selalu stay cool tak membalas bentakannya.

Aku selalu diam. Kalaupun aku menjawab kemarahannya. Aku menanggapi dengan santai. Lalu mendiamkan saja. Seharusnya aku punya banyak alasan untuk memarahinya, aku tidak melakukan. Hanya berkata-kata yang wajar. Itupun berbentuk retorika saja. Bukan terang-terangan menyalahkan kekeliruan. Alhamdulillah aku bisa seperti ini. Tidak mudah marah dan selalu stay cool atas segala persoalan. Tak perlu berdalil dalam masalah ini. Terlalu banyak dalil yang meminta orang untuk tidak marah.

Kelak kalau Gusti Allah menakdirkanku berumur panjang sampai punya anak, aku tak ingin mendidik anakku dengan bentakan, kemarahan dan sejenis kekerasan baik fisik maupun psikis. Mudah-mudahan aku, istriku, adik-adikku dan anak-anakku kelak tak ada yang suka marah-marah. Semua menghadapi persoalan dengan stay cool dan mencari solusi yang terukur.

Jika menghadapi kemarahan semoga juga bisa sama denganku. Dengan gaya stay cool saja. Semua pasti ada solusinya tanpa perlu marah-marah. Betapa bahagianya bisa hidup seperti itu. Tenang, damai dan tenteram tanpa ada yang mengusik.

Cuma terkadang aku berpikir, untuk hidup demikian apa memang harus menjadi orang yang individualis? Hubungan dengan teman sebatas pertemanan, relasi kerja atau lainnya tanpa ikut campur urusan orang lain. Hidupmu hidupmu, hidupku ya hidupku. Tak perlu mengusik kecuali dimintai saran atau nasihat. Sebab saya melihat mengusik hidup orang akan berujung rasan-rasan. Dan aku tak suka rasan-rasan. Walau terkadang tak bisa dihindari seperti ini tadi saat aku dibentak dan aku menjawab dengan stay cool. Tamuku yang tahu sampai berkomentar, ikut ngerasani orang yang bicara dengan nada tinggi tadi. Aku menjelaskan kepada tamuku. Memang begitu karakternya. Ndak apa-apa aku biasa saja. Dalam ilmu psikologi memang ada orang yang berkarakter demikian. Tak usah diambil pusing. Dalam hati memang aku jelas terluka. Tak masalah juga. Biar itu jadi urusanku sendiri.

No comments:

Post a Comment