Saturday, June 20, 2015

MENJADI GURU TAFSIR

21 Juni 2015

Pelajaran favorit sejak awal mondok adalah Ushul Fikih dan Ulumul Quran. Bisa dibilang saya cinta buta dengan dua mata pelajaran itu. Saking senangnya, dengan keterbatasan dana, saya beli buku khusus dua mta pelajran itu. Keduanya kubaca sampai khatam. Walaupun di kelas cuma tidur saja. Nilai asli ujian semester 100 untuk Ushul Fikh. Tanpa nyontek. Sejak dulu tak suka dengan nyontek. Mending nilai jelek dari pada nyontek. Sebenarnya ada satu lagi yang kusuka, Ilmu Hadis. Waktu itu nilai ilmu hadis dapat 98.

Biasanya saat ujian di pondok ada jam belajar bersama. Saya tak pernah serius belajar kalau waktu jam belajar begitu. Mending nyanyi-nyanyi sama teman. Soalnya hari-hari biasa sudah baca. Agak meremehkan memang.

Buku Ulumul Quran yang kubeli terjemahan mabahist fi ulum al-Quran karya Syaikh Manna’ al-Qattan. Di kelas pelajaran ulumul Quran dikaji selama tiga tahun. Dengan membaca sendiri saya hanya butuh waktu beberapa minggu untuk menyelesaikan. Jadi kalaupun di kelas hanya tidur saja, saya tak risau. Waktu ujian pasti bisa.  Sayangnya buku itu dipenjam mahasiswa. Lalu dipinjamkan ke teman lainnya sampai hilang. Tak ada yang bertanggung jawab untuk mengganti. Saya ikhlaskan saja.

Sampai suatu ketika punya keinginan ingin kuliah jurusan tafsir fakultas Ushuluddin. Namun keinginan tak terwujud. Karena beasiswa, aku masuk jurusan falak. Singkat cerita aku pernah punya keinginan untuk membuat buku falak yang merupakan edisi revisi dan adaptasi dari karya ustadz di pondok. Ternyata terwujud juga keinginanku itu. Bisa kuliah jurusan falak dan skripsiku meneliti kitab ustadzku.

Selama kuliah, buku yang kubaca tidak melulu falak. Banyak buku mahasiswa Ushuluddin yang kubaca. Jadi ketika melanjutkan jurusan S2 aku tak keberatan dengan mata pelajaran yang ada dalam program studi Tafsir.

Kemarin saya mendapat SK ngajar. Pelajaran yang diberikan oleh kepala madrasah adalah Ulumul Quran dan Ushul Fikih. Kebetulankah? Sudah diatur Allah. Saya tentu menerima dengan bahagia. Walaupun nanti tantangannya adalah bagaimana menjadi pengajar siswa yang sebagian besar tidur tak mendengarkanku. Tidur saat pelajaran bukan hal tabu di pondok ini. Sama sejak dulu waktu aku masih aliyah. Jumlah murid yang tidur lebih banyak dari pada yang bangun.

5 comments:

  1. hehehe.... tidur saat jam pelaran, saya juga termasuk golongan itu. saya juga suka dengan pelajaran Ushul Fiqihtapi tidak suka ulumul qur'an malah suka sejarah, meski nilai di mapel itu tidak pernah sempurna (100). dan karena kesukaan itu perna berkeinginan untuk kuliah di syari'ah jurusan AS, sayang tidak terealisasikan.
    Semoga antum tidak hanya sukses sebagai pelajar di pelajaran kesukaan antum tapi juga sukses menjadi pengajarnya.... amin
    Saya sekarang terjebak tidak di Ushul Fiqih atau pun sejarah tp bahasa, yang dulu adalah pelajaran paling tidak disuka)

    ReplyDelete
  2. Saya juga suka sejarah. Suka sekali.

    ReplyDelete
  3. oh ya? segala macam sejarah atau sejarah tertentu?

    ReplyDelete