Lamongan kota ruwet. Banyak calo di sana sini. Mulai pembuatan SIM
sampai soal PNS. Dan semuanya dianggap wajar oleh warganya walaupun di Lamongan
banyak orang pintar dan katanya religius. Keruwetan itu sudah menjamur mendarah
daging. Tidak bisa dibiarkan terus-terusan begitu. Kasihan daerah-daerah yang
potensial tapi diabaikan oleh pemerintah.
Babat jadi salah satu kecamatan yang menurutku termaju di Lamongan.
Perikanan, pertanian, perdaganan, pendidikan, social keagamaan lebih maju dari
daerah lain. Jumlah lembaga pendidikan yang menjamur, merupakan titik tolak
bahwa masa depannya cerah apalagi jika terpisah dari Lamongan dan membentuk
pemerintahan daerah sendiri.
Dari segi wilayah, nanti kecamatan Modo, Ngimbang, Kedungpring,
Bluluk, Sukorame dan beberapa kecamatan sekitar bisa jadi wilayah Babat. Atau tak
perlu banyak cukup enam kecamatan di atas saja. Beberapa wilayah itu sangat
jauh dari Lamongan sehingga secara administrasi menjadi sebuah kendala sendiri.
Dan daerah-daerah itu masih belum maju jika dibandingkan Babat.
Letak Babat yang dekat dengan Bojonegoro, Tuban dan Jombang adalah
nilai positif sendiri. Secara ekonomi, tentu akan sangat menguntungkan sebab
akan banyak daerah yang melakukan transaksi jual beli di wilayah Babat sehingga
bisa jadi pemasukan daerah.
Babat kota rame lebih dari Lamongan. Bisa dilihat pasar dan lembaga
pendidikannya. Cukup itu saja bisa jadi potret. Secara kemampuan, di Babat
banyak orang pintar. Yang jadi tokoh nasional juga banyak. Selain itu lembaga
pendidikan pesantren juga tak kalah dengan Lamongan secara umum. Jadi jika
Babat masih bergabung dengan Lamongan, madharatnya lebih banyak khususnya bagi
wilayah Lamongan selatan yang jauh dari pusat ibukota.
Rumah sakit di Babat sendiri ada beberapa tempat. Jika Ngimbang
bergabung dengan Babat, rumah Sakit daerah Ngimbang bisa jadi salah satu rumah
sakit rujukan selain rumah sakit Babat sendiri. Tentu nanti lembaga
pendidikan yang masih banyak berpusat di Babat harus dibagi juga ke wilayah
Bluluk, Sukorame dan Modo. Melihat daerah-daerah tersebut sepertinya pendidikan
yang merupakan pondasi membentuk peradaban masih sangat menyedihkan. Jika ini
yang mengelola adalah kota Babat, tentu bisa lebih baik. Guru-guru yang
ada di Babat bisa dikerahkan ke wilayah tersebut dengan jaminan financial yang
baik pula tentunya untuk para guru.
Bagaimanapun syarat peradaban adalah pendidikan. Selain itu juga
perpustakaan. Anggaran pendapatan harus banyak dikelola untuk membuat
perpustakaan, membeli banyak buku dan memberi dana yang memadai bagi para
pelajar, guru dan dosen yang ingin membuat penelitian. Semua itu bisa dilakukan
jika memang berpisah dari Lamongan yang sudah terlalu banyak calo.
Minimarket harus dicabut izinnya. Berikan tambahan modal pada industry
kreatif agar dagangannya berkualitas. Minimarket ganti dengan toko biasa. Pasar
tradisional sekarang sudah cukup bersih dan banyak masukan tidak hanya dari
Lamongan sendiri tapi dari luar daerah.
Tentu masih ada yang perlu jadi PR yakni perguruan tinggi yang
belum ada. Saya yakin SDM sudah ada. Hanya karena anggaran untuk mendirikan
perguruan tinggi saja yang belum. Ini yang akan jadi salah satu prioritas. Mendirikan
perguruan tinggi. Tak perlu besar yang penting fasilitas penelitian baik dan
yang boleh jadi mahasiswa adalah orang-orang yang memang ber IQ tinggi. Selain itu
cukup pendidikan setaraf SMK atau diploma dengan jaminan ketrampilan yang tepat
guna.
Sementara itu dulu. Ide ini akan terus berlanjut dan disempurnakan. Sekian.
Sementara itu dulu. Ide ini akan terus berlanjut dan disempurnakan. Sekian.
4 JUNI 2015
No comments:
Post a Comment