Wednesday, June 3, 2015

BABAT HARUS BERPISAH DARI LAMONGAN


Lamongan kota ruwet. Banyak calo di sana sini. Mulai pembuatan SIM sampai soal PNS. Dan semuanya dianggap wajar oleh warganya walaupun di Lamongan banyak orang pintar dan katanya religius. Keruwetan itu sudah menjamur mendarah daging. Tidak bisa dibiarkan terus-terusan begitu. Kasihan daerah-daerah yang potensial tapi diabaikan oleh pemerintah.

Babat jadi salah satu kecamatan yang menurutku termaju di Lamongan. Perikanan, pertanian, perdaganan, pendidikan, social keagamaan lebih maju dari daerah lain. Jumlah lembaga pendidikan yang menjamur, merupakan titik tolak bahwa masa depannya cerah apalagi jika terpisah dari Lamongan dan membentuk pemerintahan daerah sendiri.

Dari segi wilayah, nanti kecamatan Modo, Ngimbang, Kedungpring, Bluluk, Sukorame dan beberapa kecamatan sekitar bisa jadi wilayah Babat. Atau tak perlu banyak cukup enam kecamatan di atas saja. Beberapa wilayah itu sangat jauh dari Lamongan sehingga secara administrasi menjadi sebuah kendala sendiri. Dan daerah-daerah itu masih belum maju jika dibandingkan Babat.

Letak Babat yang dekat dengan Bojonegoro, Tuban dan Jombang adalah nilai positif sendiri. Secara ekonomi, tentu akan sangat menguntungkan sebab akan banyak daerah yang melakukan transaksi jual beli di wilayah Babat sehingga bisa jadi pemasukan daerah.

Babat kota rame lebih dari Lamongan. Bisa dilihat pasar dan lembaga pendidikannya. Cukup itu saja bisa jadi potret. Secara kemampuan, di Babat banyak orang pintar. Yang jadi tokoh nasional juga banyak. Selain itu lembaga pendidikan pesantren juga tak kalah dengan Lamongan secara umum. Jadi jika Babat masih bergabung dengan Lamongan, madharatnya lebih banyak khususnya bagi wilayah Lamongan selatan yang jauh dari pusat ibukota.

Rumah sakit di Babat sendiri ada beberapa tempat. Jika Ngimbang bergabung dengan Babat, rumah Sakit daerah Ngimbang bisa jadi salah satu rumah sakit rujukan selain rumah sakit Babat sendiri. Tentu nanti lembaga pendidikan yang masih banyak berpusat di Babat harus dibagi juga ke wilayah Bluluk, Sukorame dan Modo. Melihat daerah-daerah tersebut sepertinya pendidikan yang merupakan pondasi membentuk peradaban masih sangat menyedihkan. Jika ini yang mengelola adalah kota Babat, tentu bisa lebih baik. Guru-guru yang ada di Babat bisa dikerahkan ke wilayah tersebut dengan jaminan financial yang baik pula tentunya untuk para guru.

Bagaimanapun syarat peradaban adalah pendidikan. Selain itu juga perpustakaan. Anggaran pendapatan harus banyak dikelola untuk membuat perpustakaan, membeli banyak buku dan memberi dana yang memadai bagi para pelajar, guru dan dosen yang ingin membuat penelitian. Semua itu bisa dilakukan jika memang berpisah dari Lamongan yang sudah terlalu banyak calo.

Minimarket harus dicabut izinnya. Berikan tambahan modal pada industry kreatif agar dagangannya berkualitas. Minimarket ganti dengan toko biasa. Pasar tradisional sekarang sudah cukup bersih dan banyak masukan tidak hanya dari Lamongan sendiri tapi dari luar daerah.

Tentu masih ada yang perlu jadi PR yakni perguruan tinggi yang belum ada. Saya yakin SDM sudah ada. Hanya karena anggaran untuk mendirikan perguruan tinggi saja yang belum. Ini yang akan jadi salah satu prioritas. Mendirikan perguruan tinggi. Tak perlu besar yang penting fasilitas penelitian baik dan yang boleh jadi mahasiswa adalah orang-orang yang memang ber IQ tinggi. Selain itu cukup pendidikan setaraf SMK atau diploma dengan jaminan ketrampilan yang tepat guna. 

Sementara itu dulu. Ide ini akan terus berlanjut dan disempurnakan. Sekian.

4 JUNI 2015

No comments:

Post a Comment