Sabtu, 30 Mei 2015
Pulang kuliah jam empat sore.
Awalnya saya ragu untuk pergi ke Malang atau tidak. Tapi saya akhirnya
memutuskan untuk pergi walau dalam keadaan bimbang. Sebelum naik bis aku ke pom
bensin, mandi dan sholat Ashar.
Sebenarnya aku sudah menghubungi
salah satu temanku agar bisa menjemputku. Oh iya, aku ke Malang untuk
menghadiri acara pelantikan Malang. Yai dijadwalkan menghadiri acara tersebut.
Jadi aku bisa mengambi tausiah untuk dimasukkan dalam majalah.
Dalam bis aku membaca naskah
kumpulan cerpen santri MBS Blitar untuk kukoreksi. Kreatifitas mereka cukup
membahagiakanku walaupun masih ada banyak salah yang perlu diperbaiki, terutama
dalam tanda baca dan pengetikan.
Sampailah aku di Arjosari dalam
keadaan yang tidak jelas sama sekali. Tapi itulah aku selalu bisa menikmati
ketidakjelasan itu dengan menulis ini. Teman yang rencananya mau menjemputku
ternyata tidak ada kabarnya. Smsku tak dijawab sampai aku hampir saja
memutuskan pulang jika saja tak ada ide untuk duduk menunggu sambil menulis.
Untung saja Pak Hilal membalas smsku
sehingga aku merasa sedikit lega. Sebelumnya aku sudah terpikir untuk pulang
saja naik bis jurusan Surabaya. Banyak pikiran macam-macam yang membuatku
terpikir untuk pulang.
Aku sendiri tak yakin nanti ada yai
yang tausiah. Sebab dalam beberapa acara yang kuikuti, yai tak pernah tausiah.
Lagi pula, Bagus yang rencananya diajak diskusi soal majalah juga tak bisa
hadir.
Ada tujuan lain mengapa aku mau
datang ke Malang. Hari senin aku ingin nonton Payung Teduh di UMM. Sudah lama
aku ingin menikmati musiknya secara langsung. Dan menurutku momen ini sangat
tepat.
Tadi sempat aku terpikir pulang
salah satu alasan konyolku adalah bajuku yang kotor semua. Aku juga sudah lelah
karena kuliah sejak jam delapan pagi. Tentunya, mendatangi acara yang tak jelas
juntrungnya ini bisa membuatku frustasi. Terlebih ada kenangan-kenangan di
Arjosari. Sudah setahun aku tak kesini. Setahun lebih. Terakhir kesini bersama Khilya
(Nama Panggilan Khusus) pada November 2013.
Sebenarnya aku mulai tak nyaman
dengan keberadaanku dengan 'profesiku' saat ini. Ya, aku mulai berada dalam
lingkungan baru dan dengan orang-orang baru. Boleh jadi karena aku belum
adaptasi atau memang karena aku sudah tahu bagaimana kerja orang-orang yang tak
sesuai dengan prinsipku.
Terutama tentang manajemen numpuk
asal tunjuk. Model seperti itu ada dalam tradisi pesantren. Akibatnya setiap
program tak bisa berjalan maksimal.
Boleh jadi fase hidup ini memang
harus kulewati untuk sesuatu di depan yang bakal kuhadapi. Atau ini hanya
semacam azab sebelum aku benar-benar mati di usia dini.
Apapun itu hidupku lebih baik dari
pada pak sopir angkot yang bekerja hingga dini hari. Dia tadi sampai
marah-marah karena penumpang yang tak sabar untuk segera beranjak sedang pak
sopir masih memikirkan untung rugi jika berangkat dengan penumpang yang
jumlahnya bisa dihitung jari.
manajemen numpuk asal tunjuk, tertera begitu banyak nama dan hanya satu yang bekerja. sering kali mengalami hal ini, bahkan di dunia pesantren kecil yang ku tempati yang bahkan tidak ada apa2 nya jika dibandingkan dengan MBS...
ReplyDeletenah. harus diubah
ReplyDeletekeinginan untuk merubah itu ada, tapi terlalu banyak faktor yang tidak mendukung mulai dari atasan, rekan bahkan bawahan... hmmmm mau mengajak mereka berjalan bersama aja susah, mereka ingin berjalan sendiri2 dan mengamankan posisi. apakah seperti potret dari yayasan yang dimiliki oleh perorangan? ah... entahlah mungkin usahaku yang kurang, maaf kalau harus membaca keluhan ini.
ReplyDelete