Suci, 6 Juni 2015
Maaf, Ril. Untuk
kesekian kali aku harus menyebutmu dalam tulisanku ini. Kita sudah tak lagi
intens ngobrol seperti dulu. Akun facebookmu hilang, whatssappmu sepertinya
juga ada kabar. Sekali dua kali saja kita smsan. Memberitahumu tentang tulisan
baruku di blog lalu memintamu untuk mengkritisi dengan gayamu dan pola pikirmu
yang jarang kutemui dari banyak perempuan yang kukenal.
Sebentar lagi
Ramadhan, aku senang dengan mushaf baru yang kauberi untukku. Saya kira banyak manusia
suka dengan barang baru dan suka menggunakannya. Seperti anak kecil yang punya
mainan baru. Seperti yang kukatakan padamu kemarin, aku akan membacanya dengan
langgam Jawa. Sebetulnya sudah lama aku membaca Quran dengan langgam Jawa. Aku merasa
lebih menikmati disbanding dengan car abaca sebelumnya. Hal ini tidak
bisa dirasakan semua orang. Tiap orang punya pengalaman sendiri dalam membaca Quran.
Langgam Jawa tiba-tiba jadi bahan perdebatan beberapa bulan setelah aku mulai bisa
menguasainya. Awalnya aku tak ingin ikut
campur dengan persoalan itu. Walau pada akhirnya aku gemes juga dan akhirnya
ikut memberi komentar.
Aku akan
tetap memakai langgam Jawa dan tetap berusaha meresapi makna. Soal tajwid dan
makhraj, aku sudah belajar sejak kecil. Justru aku ragu sama tajwid beberapa
orang yang menolaknya. Seperti suatu ketika ada seorang yang tiba-tiba jadi
muballigh di suatu musholla. Dia menyampaikan pengajian dengan bacaan Quran
yang kacau. Memakai terjemahan tanpa tahu ilmu tafsir. Bagaimana tahu tafsir
yang sangat luas jika bacaan Quran masih kacau sementara kitab tafsir banyak
yang berbahasa Arab.
Sekarang banyak
orang begitu. Belum banyak ilmu tapi berani menyalahkan orang.muballigh tadi
itu juga sempat bilang, katanya santri pondok tak akan bisa menyampaikan isi
kandungan Quran sebagaimana yang dia sampaikan. Aku senyum-senyum dalam hati saja. Orang saya
jadi pendengar di situ. Dan dia jadi pemateri .
Aku lebih
suka diam saja. Soal agama mending jadi urusan pribadi saja menurutku. Kecuali
kalau memang ada yang bertanya dan mengajak diskusi, perlu untuk berbagi. Toh, Tujuan
sama agar mendapat ridho dan kelak bisa masuk surga. Tak perlu berebut dan
saling menyenggol.
Buku yang lain akan kubaca nanti. Aku baru beli buku baru sebelum bukumu di tanganku. Tentang Gerakan Ahmadiyah di Indonesia. Seperti biasa, aku tak suka membaca sesuatu yang kontroversi hanya dari satu sisi. Buku ini bagus, memberiku banyak informasi baik dari orang yang setuju atau tidak. Kesimpulannya, aku belum bisa menerima keyakinan Ahmadiyah. Tentunya aku juga tak setuju kalau mereka dihalangi beribadah. Biarkan mereka beribadah dan hidup di Indonesia. Jika ada yang tak setuju dengannya, perlu diajak diskusi bukan dengan kekerasan. Kayak preman saja.
Mudah-mudahan ketiga bukumu selesai semua kubaca selama Ramadhan. Terima Kasih, Ril. Maaf belum bisa membalas.
tujuan yang sama dengan jalan berbeda, tidak semua orang dapat mengerti atau mau menghormati dan menghargai...
ReplyDeletebegitulah
ReplyDeleteJadi, sudah sampai mana kajian bacaannya?
ReplyDeletemau khatam yang sastra itu. tapi ketinggalan di rumah kemarin.
ReplyDeleteMbak Cyda suka sastra juga, mbak?
ReplyDeletembak cyda ini jg rutin baca tulisanlu di blog, ril.
ReplyDeleteIya, tau ..
ReplyDelete