Saturday, June 13, 2015

TERIMA KASIH, NURIL

Suci, 6 Juni 2015

Maaf, Ril. Untuk kesekian kali aku harus menyebutmu dalam tulisanku ini. Kita sudah tak lagi intens ngobrol seperti dulu. Akun facebookmu hilang, whatssappmu sepertinya juga ada kabar. Sekali dua kali saja kita smsan. Memberitahumu tentang tulisan baruku di blog lalu memintamu untuk mengkritisi dengan gayamu dan pola pikirmu yang jarang kutemui dari banyak perempuan yang kukenal.

Sebentar lagi Ramadhan, aku senang dengan mushaf baru yang kauberi untukku. Saya kira banyak manusia suka dengan barang baru dan suka menggunakannya. Seperti anak kecil yang punya mainan baru. Seperti yang kukatakan padamu kemarin, aku akan membacanya dengan langgam Jawa. Sebetulnya sudah lama aku membaca Quran dengan langgam Jawa. Aku merasa lebih menikmati disbanding dengan car abaca sebelumnya. Hal ini tidak bisa dirasakan semua orang. Tiap orang punya pengalaman sendiri dalam membaca Quran.

Langgam Jawa tiba-tiba jadi bahan perdebatan beberapa bulan setelah aku mulai bisa menguasainya. Awalnya aku tak ingin ikut campur dengan persoalan itu. Walau pada akhirnya aku gemes juga dan akhirnya ikut memberi komentar.

Aku akan tetap memakai langgam Jawa dan tetap berusaha meresapi makna. Soal tajwid dan makhraj, aku sudah belajar sejak kecil. Justru aku ragu sama tajwid beberapa orang yang menolaknya. Seperti suatu ketika ada seorang yang tiba-tiba jadi muballigh di suatu musholla. Dia menyampaikan pengajian dengan bacaan Quran yang kacau. Memakai terjemahan tanpa tahu ilmu tafsir. Bagaimana tahu tafsir yang sangat luas jika bacaan Quran masih kacau sementara kitab tafsir banyak yang berbahasa Arab.

Sekarang banyak orang begitu. Belum banyak ilmu tapi berani menyalahkan orang.muballigh tadi itu juga sempat bilang, katanya santri pondok tak akan bisa menyampaikan isi kandungan Quran sebagaimana yang dia sampaikan.  Aku senyum-senyum dalam hati saja. Orang saya jadi pendengar di situ. Dan dia jadi pemateri .

Aku lebih suka diam saja. Soal agama mending jadi urusan pribadi saja menurutku. Kecuali kalau memang ada yang bertanya dan mengajak diskusi, perlu untuk berbagi. Toh, Tujuan sama agar mendapat ridho dan kelak bisa masuk surga. Tak perlu berebut dan saling menyenggol. 

Buku yang lain akan kubaca nanti. Aku baru beli buku baru sebelum bukumu di tanganku. Tentang Gerakan Ahmadiyah di Indonesia. Seperti biasa, aku tak suka membaca sesuatu yang kontroversi hanya dari satu sisi. Buku ini bagus, memberiku banyak informasi baik dari orang yang setuju atau tidak. Kesimpulannya, aku belum bisa menerima keyakinan Ahmadiyah. Tentunya aku juga tak setuju kalau mereka dihalangi beribadah. Biarkan mereka beribadah dan hidup di Indonesia. Jika ada yang tak setuju dengannya, perlu diajak diskusi bukan dengan kekerasan. Kayak preman saja.

Mudah-mudahan ketiga bukumu selesai semua kubaca selama Ramadhan. Terima Kasih, Ril. Maaf belum bisa membalas.

7 comments:

  1. tujuan yang sama dengan jalan berbeda, tidak semua orang dapat mengerti atau mau menghormati dan menghargai...

    ReplyDelete
  2. Jadi, sudah sampai mana kajian bacaannya?

    ReplyDelete
  3. mau khatam yang sastra itu. tapi ketinggalan di rumah kemarin.

    ReplyDelete
  4. Mbak Cyda suka sastra juga, mbak?

    ReplyDelete
  5. mbak cyda ini jg rutin baca tulisanlu di blog, ril.

    ReplyDelete