Selasa, 16 Juni 2015
Bertemu dengan seorang teman yang selama
ini kuanggap sebagai Masku. Dia sedang liburan kuliah sama sepertiku. Cuma dia
kuliahnya di luar negeri. Tepatnya di Sudan, salah satu negara di Afrika
Selatan. Tadi malam sudah bertemu. Karena dia dengan istrinya, kami tak dapat
lama berbincang. Padahal aku dan dia sudah seperti saudara sejak dulu sewaktu
aku masih kelas satu aliyah.
Yang menjadi pembahasan dalam perbincangan
kawan lama tadi seputar konflik di Timur Tengah. Sebagai salah satu orang yang
tinggal di sana, tentu lebih tahu soal apa yang terjadi di sana. Sorotan
utamnya adalah tentang Syiria yang tak kunjung usai berpolemik sehingga
warganya banyak yang mengungsi di Sudan. Mengapa di Sudan? Karena negara itu
paling mudah dimasuki imigran.
Sudan adalah negara miskin. Termiskin di
Afrika Selatan. Cuacanya ekstrim. Kondisi itu tak lebih parah dari negara yang
masih berkonflik seperti Syiria. Penduduk yang menjadi korban konflik tak dapat
hidup normal dan pergi ke negeri Sudan untuk mengemis, meminta belas kasih kepada penduduk yang negaranya miskin.
Beruntungnya ada Sudan yang mau menerima.
Turki yang dipimpin oleh Erdogan, salah satu anggota partai AKP, kata orang
PKS-nya Turki malah mengusir penduduk Syiria. Di Asean, kejadian tersebut
dialami oleh orang Myanmar yang tak nyaman hidup di negaranya. Orang-orang
Islam yang berada di Rohingya diintimidasi oleh mayoritas agama Budha. Yang
menerima imigran tersebut adalah orang Indonesia.
Saya sepenuhnya yakin perang saudara di Yaman
disebabkan oleh politik walaupun sekarang juga membawa nama agama. Terlebih
masih banyak orang di TImur Tengah sana masih suka menyulut perselisihan antar
sekte.
Melihat
kedua kelompok yang sedang mengalami pengusiran dari tanah kelahiran tersebut
penyebabnya adalah minimnya jiwa humanism sehingga perbedaan yang seharusnya
adalah suatu hal yang niscaya menjadi sumber kejahatan.
Opini yang mencuat di kalangan dunia adalah
bahwa konflik itu disebabkan oleh Agama. Seolah agamalah yang menjadi sumber
bencana. Sama dengan kejadian yang lalu-lalu sepertinya adanya perang salib dan
peperangan lain.
Tentu asumsi itu banyak yang menolak dengan
dalih bahwa agama tak pernah salah. Manusianya yang tak bisa memahami agama
dengan baik. Jika pun alasan penolakan ini benar, mengapa orang- yang paham
agama tak bisa menyelesaikan konflik tersebut. Di Syiria misalnya, ada banyak
ulama dengan karya yang bermutu tinggi seperti Wahbah Zuhaili dan doktor Buthi
yang wafat karena jadi korban konflik. Atau di Yaman sana banyak habaib yang
sholih dan berilmu luas. Semuanya tak mampu meredam konflik.
Jangan sampai hal itu terjadi di Indonesia.
sampai saat ini, perbedaan etnis tak sampai menjadi penyebab perang saudara.
Kalau sekedar tawuran antar warga karena konflik sepakbola atau keluarga
seperti di Papua. Itu soal lain.
Di Indonesia perbedaan sangat banyak. Dan
dari sekian banyak perbedaan, agama terkadang jadi salah satu sumber kekerasan.
Seperti yang dialami oleh Ahmadiyah. Jika masalah ini dibiarkan, suatu saat
jika pemerintah tak tegas, orang-orang Ahmadiyah bisa saja akan bernasib
seperti orang Syiria dan Rohingya. Maka, dalam hal ini, sesama ciptaan Allah harus saling menghormati. Tak perlu menyakiti.
itulah yang sebagian besar dari kita harapkan, sayangnya politik sering memanfaatkan untuk kepantingan mereka tanpa rasa iba atau lainnya... wallahua'alam... semoga kadamain akan perbedaan senantiasa berjalan di negara kita... amin
ReplyDelete