Kamis, 4 Juni 2015
Tadi menghadiri akad nikah teman. Dia alumni pondok Mambaus
Sholihin Blitar. Saya bisa kenal dan jadi dekat karena ternyata dia juga
aktivis HMI Batam. Tapi bukan soal itu yang akan kubahas di sini. Saya ingin
menuliskan tentang apa yang kulihat selama beberapa hari terakhir.
Ada banyak orang yang tiba-tiba menjadi tua seperti ayah temanku,
tetanggaku dan kemungkinan juga orang tuaku. Orang-orang seuisiku saat ini
sudah memiliki anak. Ada yang berusia setahun, dua tahun bahkan sudah masuk TK.
Bapakku dulu waktu aku masih TK usianya masih tiga puluhan. Pada waktu
iu aku masih ingat bahwa aku yang sudah berusia dua puluh lima ini hanyalah
anak desa yang mbetik. Begitu kata orang-orang dalam menyebut anak kecil
yang banyak ulah. Aku termasuk anak yang begitu.
Beberapa kejadian sewaktu
masih TK masih bisa kuingat. Pernah berak di celana, pernah menangis karena
ditinggal teman pulang dan pernah mencuri buah srikaya sepulang sekolah. Aku melakukan aktifitas itu bersama beberapa temanku. Sebut saja
Rudi, Ajik, Sugeng, Rois, Ismail, Rozi dan lainnya. Kami tumbuh bersama, bermai
bersama walau kadang juga berselisih hingga bertengkar fisik. Pernah waktu di
kelas terjadi insiden ‘tawuran’ di mana aku jadi pemenang. Pada waktu TK juga
aku sudah mengenal perempuan dan sempat naksir kepada salah satu teman yang
kuanggap tercantik di kelas.
Masih banyak kenangan yang terselip dalam memori sewaktu TK. Beranjak
SD, hingga SMP dan sampai sekarang, ada banyak yang terlewati hingga membentuk
pribadi yang berbeda dengan teman-teman kecilku. Kini mereka telah berkeluarga
dan ada yang sudah memiliki anak. Dan aku yang paling berbeda. Diantara kami,
hanya aku yang masih melanjutkan pendidikan sampai pascasarjana. Memang sejak
SD aku selalu juara kelas. Orang yang berjasa membuatku bisa membaca adalah
Mbak Erna, kakakku yang mengajariku dengan sabar.
Kini teman-temanku telah menjadi bapak dan ayah dari teman-temanku
telah menjadi kakek, begitu pula bapakku telah menjadi kakek. Lalu semuanya
akan menjadi tua lalu mati. Seperti pakde yang telah mendahului. Kini Budeku
yang dulu segar bugar mulai sakit-sakitan. Adik-adikku yang dulu adalah
anak-anak kecil telah menjadi dewasa. Semua begitu dalam kehidupan manusia.
Yang menciptakan manusia adalah Allah. Yang memisahkan juga Allah. Perpisahan
itu pasti dan perpisahan yang hakiki adalah melalui mati. Seperti teman-teman
yang mendahuluiku atau tetangga yang usianya lebih muda dariku.
Pada saat berpikir seperti itu yang muncul dalam pikiranku adalah
tentang hakikat hidup. Jawabannya memang ada di alam yang luas ini namun aku
jadi lebih nyaman jika mencarinya dalam buku-buku dan dalam kitab-kitab yang
kubaca. Benar kata Gie, makhluk kecil kembalilah dari tiada yang ke tiada. Ya,
sebenarnya manusia adalah tiada. Dalam ketiadaan yang fana, manusia pun
dituntut untuk meninggalkan kebaikan. Sebab yang telah terlewati akan dikenang
atau langsung dilupakan seperti air hujan yang lama dirundukan dalam kemarau
panjang.
Bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan, ditunggu orang tuanya dalam
kebahagiaan walau si bayi akan terlahir dalam tangisan. Lalu bayi itu tumbuh
dewasa dan mati. Semua orang mengalami hal yang sama. Dalam agama, dunia
dikenalkan sebagai alam fana yang sifatnya sementara. Sedang yang abadi adalah surga
dan neraka. Tentu saat terlahir bayi tak tahu apa itu sampai orang tuanya
memberitahunya. Bahwa surga itu tempat manusia akan dimanaj sedang neraka
adalah tempat dimana manusia akan disiksa.
Manusia akan begitu semua. Akan mati semua tak terkecuali aku yang
pernah kuperdiksi bakal mati di usia dua puluh tujuh. Aku ingin mati dalam
keadaan mencari ilmu biar nanti syahid. Janji Tuhan begitu kepada mahkluk kecil
bernama manusia. Semoga bisa syahid atau paling tidak khusnul khatimah.
termasuk yang berbeda-kah anda?
ReplyDeletebeda apanya?
ReplyDeleteberbeda dari orang-orang yang tersebut diatas lah...
ReplyDeleteiya berbeda. Sangat berbeda.
ReplyDelete