Wednesday, June 3, 2015

BEGITULAH FASE KEHIDUPAN

Kamis, 4 Juni 2015
 

Tadi menghadiri akad nikah teman. Dia alumni pondok Mambaus Sholihin Blitar. Saya bisa kenal dan jadi dekat karena ternyata dia juga aktivis HMI Batam. Tapi bukan soal itu yang akan kubahas di sini. Saya ingin menuliskan tentang apa yang kulihat selama beberapa hari terakhir.

Ada banyak orang yang tiba-tiba menjadi tua seperti ayah temanku, tetanggaku dan kemungkinan juga orang tuaku. Orang-orang seuisiku saat ini sudah memiliki anak. Ada yang berusia setahun, dua tahun bahkan sudah masuk TK.

Bapakku dulu waktu aku masih TK usianya masih tiga puluhan. Pada waktu iu aku masih ingat bahwa aku yang sudah berusia dua puluh lima ini hanyalah anak desa yang mbetik. Begitu kata orang-orang dalam menyebut anak kecil yang banyak ulah. Aku termasuk anak yang begitu. 

Beberapa kejadian sewaktu masih TK masih bisa kuingat. Pernah berak di celana, pernah menangis karena ditinggal teman pulang dan pernah mencuri buah srikaya sepulang sekolah. Aku melakukan aktifitas itu bersama beberapa temanku. Sebut saja Rudi, Ajik, Sugeng, Rois, Ismail, Rozi dan lainnya. Kami tumbuh bersama, bermai bersama walau kadang juga berselisih hingga bertengkar fisik. Pernah waktu di kelas terjadi insiden ‘tawuran’ di mana aku jadi pemenang. Pada waktu TK juga aku sudah mengenal perempuan dan sempat naksir kepada salah satu teman yang kuanggap tercantik di kelas.

Masih banyak kenangan yang terselip dalam memori sewaktu TK. Beranjak SD, hingga SMP dan sampai sekarang, ada banyak yang terlewati hingga membentuk pribadi yang berbeda dengan teman-teman kecilku. Kini mereka telah berkeluarga dan ada yang sudah memiliki anak. Dan aku yang paling berbeda. Diantara kami, hanya aku yang masih melanjutkan pendidikan sampai pascasarjana. Memang sejak SD aku selalu juara kelas. Orang yang berjasa membuatku bisa membaca adalah Mbak Erna, kakakku yang mengajariku dengan sabar.

Kini teman-temanku telah menjadi bapak dan ayah dari teman-temanku telah menjadi kakek, begitu pula bapakku telah menjadi kakek. Lalu semuanya akan menjadi tua lalu mati. Seperti pakde yang telah mendahului. Kini Budeku yang dulu segar bugar mulai sakit-sakitan. Adik-adikku yang dulu adalah anak-anak kecil telah menjadi dewasa. Semua begitu dalam kehidupan manusia.

Yang menciptakan manusia adalah Allah. Yang memisahkan juga Allah. Perpisahan itu pasti dan perpisahan yang hakiki adalah melalui mati. Seperti teman-teman yang mendahuluiku atau tetangga yang usianya lebih muda dariku.

Pada saat berpikir seperti itu yang muncul dalam pikiranku adalah tentang hakikat hidup. Jawabannya memang ada di alam yang luas ini namun aku jadi lebih nyaman jika mencarinya dalam buku-buku dan dalam kitab-kitab yang kubaca. Benar kata Gie, makhluk kecil kembalilah dari tiada yang ke tiada. Ya, sebenarnya manusia adalah tiada. Dalam ketiadaan yang fana, manusia pun dituntut untuk meninggalkan kebaikan. Sebab yang telah terlewati akan dikenang atau langsung dilupakan seperti air hujan yang lama dirundukan dalam kemarau panjang.  

Bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan, ditunggu orang tuanya dalam kebahagiaan walau si bayi akan terlahir dalam tangisan. Lalu bayi itu tumbuh dewasa dan mati. Semua orang mengalami hal yang sama. Dalam agama, dunia dikenalkan sebagai alam fana yang sifatnya sementara. Sedang yang abadi adalah surga dan neraka. Tentu saat terlahir bayi tak tahu apa itu sampai orang tuanya memberitahunya. Bahwa surga itu tempat manusia akan dimanaj sedang neraka adalah tempat dimana manusia akan disiksa.

Manusia akan begitu semua. Akan mati semua tak terkecuali aku yang pernah kuperdiksi bakal mati di usia dua puluh tujuh. Aku ingin mati dalam keadaan mencari ilmu biar nanti syahid. Janji Tuhan begitu kepada mahkluk kecil bernama manusia. Semoga bisa syahid atau paling tidak khusnul khatimah.





  

4 comments: