Selasa, 28 Oktober 2014
Bagaimana jika dalam dunia akademisi pun kejujuran harganya juga
sangat mahal? Ya, jangan mengharap akan ada kemajuan keilmuan. Kebohongan sudah
sangat menggurita dan dianggap biasa-biasa saja tanpa merasa berdosa. Ah apa
itu dosa. Bukan urusan dosa pula. Ini juga masalah integritas dan komitmen
seseorang yang berilmu.
Kemarin aku mengantarkan anak-anakku mengikuti lomba karya tulis
ilmiah. Jelas dalam perlombaan tersebut terdapat larangan plagiat. Semua guru
pasti tahu aturan ini. Namun kenyataannya, tak sedikit yang judulnya mengambil
dari penelitian orang. Judul yang dipresentasikan dapat kuakses di internet.
Yang paling kasihan adalah anak-anakku yang harus menangis. Dia tak
terima ketika melihat para pemenang adalah pemilik karya yang berasal dari
internet. Aku hanya bisa mengatakan tak perlu kaget jika kejujuran di negara
ini sudah menjadi barang mahal. Tuhan
sedang memperlihatkanmu contoh kehidupan yang jangan kau tiru. Akan ada banyak
kebohongan dengan berbagai varian. Tinggal kamu nanti bisa berhatan dengan
prinsipmu atau tidak. Jika kau jujur, siap-siaplah diasingkan.
Barangkali seperti aku, tersisih dari kerumunan. Seperti kata Nuril
Maghfiroh semalam. Menurutnya, tulisanku di blog lebih bernas dibanding
cerpen-cerpen yang kubukukan. Namun faktanya banyak yang lebih suka tulisan
ringan cinta-cintaan dari pada pemikiran serius tentang agama dan sosial.
Ah apa itu. Baru saja terpikirkan lagi bahwa jelas-jelas Tuhan
membebaskan hamba-Nya untuk melakukan apapun. Mau sholat mau tidak, mau puasa
atau tidak, mau ngaji atau tidak, mau belajar atau tidak. Terserah. Tuhan
biarkan. Walaupun Tuhan memerintahkan malaikat untuk merekap semua kegiatan
yang dilakukan manusia. Hukumannya nanti ketika sudah berada di akhirat.
Ya, bagi orang Islam memang begitu. Orang yang percaya Tuhan harus
percaya dengan akhirat. Hari pembalasan. Tak perlu lah memaksa-maksa meminta
ini itu kepada orang lain agar bisa menjadi baik. Orang sekarang sudah pintar
tahu mana baik mana buruk. Urusan mau melakukan kebaikan atau tidak. Terserah.
Ah sudahlah. Belajar filsafat lagi. Jalan tasawuf, jalan akhlak dan
jalan fikih tak bisa memperbaiki kondisi sekitar. Semua teori usang yang tak
bisa mengatasi persoalan masyarakat kebanyakan.
No comments:
Post a Comment