Saturday, November 1, 2014

KEBOHONGAN AKADEMISI

Selasa, 28 Oktober 2014
Bagaimana jika dalam dunia akademisi pun kejujuran harganya juga sangat mahal? Ya, jangan mengharap akan ada kemajuan keilmuan. Kebohongan sudah sangat menggurita dan dianggap biasa-biasa saja tanpa merasa berdosa. Ah apa itu dosa. Bukan urusan dosa pula. Ini juga masalah integritas dan komitmen seseorang yang berilmu.
Kemarin aku mengantarkan anak-anakku mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Jelas dalam perlombaan tersebut terdapat larangan plagiat. Semua guru pasti tahu aturan ini. Namun kenyataannya, tak sedikit yang judulnya mengambil dari penelitian orang. Judul yang dipresentasikan dapat kuakses di internet.
Yang paling kasihan adalah anak-anakku yang harus menangis. Dia tak terima ketika melihat para pemenang adalah pemilik karya yang berasal dari internet. Aku hanya bisa mengatakan tak perlu kaget jika kejujuran di negara ini  sudah menjadi barang mahal. Tuhan sedang memperlihatkanmu contoh kehidupan yang jangan kau tiru. Akan ada banyak kebohongan dengan berbagai varian. Tinggal kamu nanti bisa berhatan dengan prinsipmu atau tidak. Jika kau jujur, siap-siaplah diasingkan.
Barangkali seperti aku, tersisih dari kerumunan. Seperti kata Nuril Maghfiroh semalam. Menurutnya, tulisanku di blog lebih bernas dibanding cerpen-cerpen yang kubukukan. Namun faktanya banyak yang lebih suka tulisan ringan cinta-cintaan dari pada pemikiran serius tentang agama dan sosial.
Ah apa itu. Baru saja terpikirkan lagi bahwa jelas-jelas Tuhan membebaskan hamba-Nya untuk melakukan apapun. Mau sholat mau tidak, mau puasa atau tidak, mau ngaji atau tidak, mau belajar atau tidak. Terserah. Tuhan biarkan. Walaupun Tuhan memerintahkan malaikat untuk merekap semua kegiatan yang dilakukan manusia. Hukumannya nanti ketika sudah berada di akhirat.
Ya, bagi orang Islam memang begitu. Orang yang percaya Tuhan harus percaya dengan akhirat. Hari pembalasan. Tak perlu lah memaksa-maksa meminta ini itu kepada orang lain agar bisa menjadi baik. Orang sekarang sudah pintar tahu mana baik mana buruk. Urusan mau melakukan kebaikan atau tidak. Terserah.
Ah sudahlah. Belajar filsafat lagi. Jalan tasawuf, jalan akhlak dan jalan fikih tak bisa memperbaiki kondisi sekitar. Semua teori usang yang tak bisa mengatasi persoalan masyarakat kebanyakan.



No comments:

Post a Comment