Senin, 3 November 2014
Sudah tanggal 10 Muharram. Pada hari ini disunnahkan bagi
umat Islam untuk puasa seperti hari kemarin. Ganjaran puasa hari ini adalah
diampuni dosanya selama setahun ke depan. Kalau kemarin adalah dosa selama
setahun lalu. Oh betapa istimewa umat nabi Muhammad.
Tuhan tak pernah mengingkari janji. Dosaku menumpuk selama
setahun lalu. Begitu juga tahun-tahun ke depan. Aku tak mampu menjamin bisa
mengurangi jumlah dosa yang kulakukan. Janji ini menggiurkan bagi umat Islam.
Kalau demikian adanya, maka apalah lagi yang kemudian harus
dilakukan kalau bukan terus memupuk kebaikan, mengepul ilmu sebanyak-banyaknya.
Yang kedua inilah yang akan kupilih. Perlu memperbanyak bacaan dengan diniati
melakukan kewajiban yang diperintah Tuhan. Walau konsekwensinya aku harus
mengurangi wiridan. Menjalankan keduanya secara bersamaan sebenarnya bisa.
Hanya perlu mengurangi waktu istirahat dan tidur. Dan apalah aku ini? Tak ada
daya mengurangi tidur kalau Tuhan tak memberikan daya itu.
Aku kembali menyukai tidur. Aku lemah. Tuhan mungkin sedang
membuktikan kesalahan berpikirku kemarin. Bahwa peran Tuhan selalu ada, hanya
saja aku yang tak merasakan. Kemarin aku sakit perut. Dalam pada itu, aku
merasa nikmat sehatku tengah dicabut karena kurang syukur. Lalu nikmat ibadah
pun demikian. Sedikit tercerabut bersamaan dengan kekuatan untuk beribadah.
Aku perlu untuk memintanya lagi. Minta kekuatan dhahir
batin. Kembali melaksanakan aktifitas ibadah sunnah lagi. Apa aku terlalu takut
dengan cara berpikirku kemarin? Ah sudahlah. Hidup ini kan kompetisi, hidup ini
juga urusan pribadi. Ya walaupun ada banyak ayat dan hadis yang menganjurkan
berbuat baik dengan sesama. Intinya semua juga untuk kebutuhan pribadi. Pahala akan
dinikmati sendiri, dosa juga akan dirasakan sendiri.
Kala demikian adanya, kita hanya perlu melakukan reformasi terhadap
diri sendiri. Tak perlu ngoyo-ngoyo memikirkan kemajuan orang lain. Mau diajak melangkah
ya diajak, kalau tidak ya biarkan saja. Tak perlu memaksa.
Nah, kalau begitu, biarkan pengabdianku sekarang adalah
untuk ilmu, ilmu dan ilmu. Apapun ilmunya. Tapi kenapa ini banyak orang,
mungkin termasuk diriku yang hanya melulu belajar hal-hal itu saja. Masalah ketuhanan,
pemikiran dan yang berkutat dengan masalah itu.
Ada pendapat konyol dalam pikiranku. Tiba-tiba merasa bahwa
memang lebih baik orang yang susah diatur itu biarkan saja begitu. Lebih baik
dia jadi bodoh dari pada nanti di jadi orang tercerahkan, justru akan merusak
tatanan. Jadi lebih berbahaya.
Pemikiran itu tidaklah benar. Tuhan pasti punya rencana
sendiri. Katanya, hamba yang baik adalah yang khusnudhon. Dan para hamba sudah
tahu jalannya sendiri. Dulu aku juga begitu. Aku tahu jalan mana yang harus
kutempuh walau jelas-jelas melanggar mainstream. Jadi biar dengan jalan
sendiri-sendiri, semoga semuanya sukses sesuai dengan keinginan dan jalan yang
ditempuh.
Kalau begitu, terserah kau lah Tuhan. Aku hanya akan menjadi
pengabdi-Mu dan ilmu. Lebih asyik jadi begitu. Walau harus hidup
individualistis. Tapi tetap berusaha jadi teladan yang baik tanpa harus banyak
bicara.
Sejak kemarin aku baca autobiografi Karen Amstrong setelah menghatamkan
Larung. Secara beruntun aku membaca karya orang yang tak seagama denganku. Tak jadi
masalah. Sudah lama aku ingin memiliki buku itu. Sampai halaman enam puluh, aku
masih belum menemukan sesuatu yang menarik selain tentang kehidupan orang Barat
pada tahun enam puluhan. Ketika Karen masih muda.
Hubungan seksual pra nikah pun ternyata saat itu menjadi
persoalan orang-orang Inggris terutama kalangan Katolik dan generasi tua. Kini sudah
empat puluh tahun lebih dan bisa dilihat bahwa kumpul kebo sudah bukan hal tabu.
Bahkan bagi sebagian orang sudah menjadi kebanggaan.
Tentu akan muncul pikiran bahwa nanti Indonesia akan
mengalami hal yang sama. Sudah lama aku juga berpikiran demikian. Jauh sebelum
membaca buku ini, Menerobos Kegelapan. Dulu aku terpikir bahwa sewaktu kecil,
sepasang kekasih yang keluar berdua adalah aib besar. Kini sudah tidak lagi. Bahkan
orang tua sudah mengizinkan anaknya menjalin hubungan dengan teman lawan jenis.
Semakin kesini, hamil di luar nikah sudah bisa dijumpai
dimana-mana baik di kota maupun di desa. Perempuan-perempuan menjadi begitu
bodoh dengan menyerahkan harga dirinya. Atau mereka sebenarnya pintar hanya
lelaki saja yang terlalu pandai merayu. Ah sudahlah. Tak penting juga. Tinggal tunggu
saja manakah yang lebih kuat, peran agama yang membatasi hubungan laki-laki
perempuan atau semua akan dikalahkan oleh reformasi seksual dimana hubungan
badan pra nikah menjadi sebuah kebiasaan. Kira-kira berapa tahun lagi?
Tuhan juga sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia telah
mempersiapkan rangkaian cerita untuk menyusun peristiwa besar. Kiamat.
Oh, Tuhan aku merindukan kematian. Walaupun nanti harus kau
siksa di neraka dulu tak mengapa. Tapi apakah aku akan disiksa? Aku umat
Muhammad, umat istimewa yang diberi banyak privilege. Banyak bonus pahala dan
ampunan dengan melakukan amalan ini itu. Misal puasa hari kesembilan dan
kesepuluh pada bulan Muharram ini.
Ada satu lagi yang kuingat dari buku Karen yang belum khatam
kubaca. Ia mengakui pada tahu itu, ternyata uang sudah menjadi raja. Empat puluh
tahun lalu. Indonesia barangkali belum sampai sejauh itu. Kemungkinan besar
baru menguasai beberapa orang saja. Tidak sampai mayoritas penduduk seperti
yang terjadi di kampung halaman Karen.
Ternyata negaraku tertinggal empat puluh tahun lamanya. Sekarang
uang sudah jadi raja bagi siapapun, tak peduli ningrat atau bukan. Uang menjadi
raja, jadi penguasa. Tentu racun uang tak menjangkit seluruh masyarakat Inggris
saat itu. Aku yakin masih ada sekelompok manusia yang masih berpegang teguh
pada agama seperti Karen muda dan beberapa teman biarawatinya. Sekarang pun di
Indonesia masih belum semua yang menjadi hamba uang. Lalu aku sendiri
bagaimana? Aku tak bisa memastikan. Sudah jadi raja atau belum uang buatku.
No comments:
Post a Comment