Oleh: Rizal Mubit
Kau lebih suka pamit kepada orang asing yang tak sengaja kautemui
oleh nasib yang keterlaluan. Lalu kau terngiang oleh bola matanya yang sewarna
dengan lumpur sawah.
Ibumu pun kaulupakan saat kaujumpainya dalam warung soto ketika
hujan. Kau melirik, berbisik pada teman di sampingmu tentang alis tebal yang
basah oleh gerimis setelah derasnya hujan.
Orang asing yang banyak bicara itu kaupuji dalam keheningan sampai
kaulupa aroma subuh telah merangkul kedinginan.
“Tapi?”
Kau menjadi lengah hingga berani merumuskan tentang masa depan
tanpa melibatkan Tuhan yang menertawakan dirimu yang sok tahu.
Ah, sudah berulang kali kubilang padamu, cinta adalah yatim piatu
yang diadopsi oleh sepasang merpati. Manusia hanya memainkan perasaan, menghela
rindu pada sebuah gunung dan bukit.
“Tapi?”
Tak sadarkah kau adalah makhluk menggelikan yang masih bertahan
dalam peradaban. Lihatlah, matamu sudah lelah dengan harapan. Katamu kau sabar.
Padahal sabar hanyalah kompromi antara rasa sakit dan rasa malu yang kau
pendam.
Aku ingat, dengan tersenyum kaukatakan melihatnya dari kejauhan
adalah kebahagiaan yang sederhana. Kini, matamu dipenuhi kegetiran.
“Tapi?”
Maka, hal yang mengerikan bukanlah ancaman pembunuhan melainkan
ketika kauberani memasrahkan kesetiaan pada insan yang tak tentu punya
perasaan.
Salahmu juga menganggap perjumpaan sebagai peristiwa penting.
Sejatinya ia hanya persekongkolan waktu dan karma yang melahirkan berjuta
penafsiran.
“Tapi?”
Nasib tengah mempermainkanmu dalam belantara jagat raya yang ruwet
ini. Kau hanya akan mampu menyelami kegelisahan yang melelahkan. Jika pun
berhasil keluar, maka, doa atau usahakah yang berperan?
Mencoba bertahan sama halnya memelihara kepedihan, menyuburkan
trauma. Kepalamu tegak, tapi matamu sudah terlalu rabun karena terpaan harapan.
“Tapi?”
Tapi apa, heh? Kau mau bilang tapi aku mencintainya? Omong kosong
apalagi? Kau perlu belajar pada matahari yang mencintai bumi tanpa harus
menyentuh permukaannya. Kau tak perlu begitu. Mencintainya tak ada artinya
dibandingkan usahamu untuk tampil bahagia di hadapan orang-orang yang
menyayangimu. Apa kau masih mengagumi masa lalumu yang telah menjadi kenangan
yang memalukan jika masih diingat? Ketika kau rela basah menawari payung saat
hujan tak kunjung reda atau modus murahan untuk mendekatinya dengan pura-pura
berbaik hati mengerjakan tugas kuliah? Bodoh.
Barangkali kau memang ingin kembali ke masa lalu di saat masa depan
masih terlalu jauh. Tapi apa, di ujung sana masih ada belokan yang akan
kautempuh untuk kembali ke masa lalu. Suram.
“Tapi?”
Kau tak bisa memilikanya. Dia bukan benda mati yang seenaknya bisa
kau tawar. Dia subyek hidup yang bernyawa. Tak layak cemburu atau merasa kecewa
pada siapapun kecuali pada kekonyolanmu.
Bersahabat kariblah dengan duka! Peluklah dalam kesunyian malam
menuju pagi. Berdukalah sampai kamarmu penuh jaring laba-laba, sampai kau
bermimpi berjumpa dengan orang tua yang kau sia-sia.
Kesedihanmu tak lebih berarti dari mayat tertuduh PKI yang terapung
di lautan atau perempuan yang diperkosa karena dituduh Gerwani. Kesedihanmu
hanya keegoisan karena penuh sesak oleh kekecewaan.
Tak perlu ada drama berlebihan apalagi sampai kau tumpahkan
tangisan. Ini bukan perjuangan juga bukan tentang korban eksekusi dalam
pembunuhan massal. Ini hanya masa muda yang kaulalui dengan kepongahanmu akan
takdir Tuhan.
“Tapi?”
Aku tahu. Menjadi seseorang yang dilupakan adalah kutukan yang
menyakitkan setelah ditinggal karena kematian. Kau perlu belajar pada hujan
yang selalu dilupakan sesaat setelah sungai telah menggenang. Bahkan akan
dibenci saat banjir melanda perkampungan.
Itulah keangkuhan kehidupan yang selalu terselip dalam labirin
kebudayaan. Tidak ada kebahagiaan yang langgeng tanpa ada kekecewaan. Bahagia
adalah terjemahan tentang impian yang terwujud dalam sisa-sisa waktu.
“STOP! Terima kasih sudah berpanjang lebar. Aku tak soal jika
dianggap salah dalam peristiwa ini. Walau aku juga bukan seorang korban. Tak
kau lihatkah perut yang semakin membesar ini? Ini bukan barang mati. Ada ruh
kehidupan yang tak pernah diharapkan oleh siapapun kecuali Tuhan sendiri yang
menghendakinya.”
“Teori yang kauucapkan bak jampi-jampi yang menyemburkan mantra,
takkan bisa membunuh nyawa yang tertiup setelah sperma penghianat yang kusambut
dengan kenikmatan.”
“Ini bukan kasus Gerwani tahun 66, teror terhadap perempuan di Poso
atau pemerkosaan terhadap etnis China pada aksi 98. Aku anak manusia yang
menjadi bagian dari proses reformasi seksual. Ini trasformasi sosial, Bung.
Tranformasi gila tentang seksualitas yang pernah terjadi di Eropa empat puluh
tahun lalu. Kita sedang menuju kesana.”
“Kau menyinggung agama. Hei, justru ini pertaruhan agama. Sejauh
mana peran agama mampu menghentikan proses, atau justru tergerus dan mulai
ditinggalkan manusia. Kalau belajar dari Eropa, maka Katolik pun ditinggalkan
banyak orang demi pemuasan nafsu. Dimanakah norma religi?”
“Ini lebih kompleks dari sekedar isu hasrat yang berakhir dengan
hubungan badan. Tidak demikian, Bung. Semua ini berkelindan dengan dimensi lain
yang menggulat di sekeliling seksualitas bukan sekedar hubungan laki-laki
perempuan di luar pernikahan.”
“Bung, kita adalah saudara kandung. Aku adalah satu-satunya adik
perempuanmu. Tapi aku tahu, sejak sepuluh tahun lalu kita berpisah. Kau hidup
dengan duniamu. Kini kau seolah menjadi bijak penuh ungkapan filosofis, manusia
kenyang dengan teori-teori sosial. Tetapi, Bung. Ini kenyataan hidup yang tak
pernah kauinjak. Kau boleh membaca buku-buku antroprologi, metafisika maupun
logika. Tapi adakah yang lebih jujur dibanding fenomena sosial. Kau harus
setuju bahwa yang terjadi di negeri ini adalah reformasi seksual.
“Kekejaman yang kauucapkan dalam kata-katamu yang melangit, seperti
membaca sajak berbahasa planet. Tapi, Bung. Ini tentang pandangan dunia mapan
di zaman modern. Perhatianmu padaku tidak riil. Laki-laki lemah!”
“Apapun itu aku adalah adikmu yang dihakimi sebagai manusia tolol
yang telah menggoda lelaki alim yang berbuat zina hanya karena pria yang tidur
denganku adalah keturunan keluarga yang religius. Mau membelaku atau ikut
mengutukku, itu hakmu.”
“Sekarang, yang orang tahu hanyalah bahwa bayi ini adalah anak
kandungku. Aku tak malu. Bukankah sudah banyak yang seperti ini? Bung, kau
manusia kuno. Menyentuh perempuan kau tak mau kalau bukan muhrim. Kau masih
percaya dosa, kau masih percaya Tuhan menciptakan neraka?”
“Hei. Aku masih beragama. Aku percaya dengan neraka dan dosa. Tapi
inilah aku perempuan modern yang ikut andil besar dalam kelangsungan fenomena
reformasi seksual. Dan ketahuilah perempuan bukan lagi manusia cengeng. Akulah
hasil dari revolusi gender.”
Sudah-sudah! Cukup! Kata-katamu telah menerorku. Terserah apa maumu
sekarang. Semoga Tuhan mengampunimu.
“Amin.”
No comments:
Post a Comment