Monday, November 10, 2014

SEMOGA TUHAN MENGAMPUNIMU



Oleh: Rizal Mubit
Kau lebih suka pamit kepada orang asing yang tak sengaja kautemui oleh nasib yang keterlaluan. Lalu kau terngiang oleh bola matanya yang sewarna dengan lumpur sawah.

Ibumu pun kaulupakan saat kaujumpainya dalam warung soto ketika hujan. Kau melirik, berbisik pada teman di sampingmu tentang alis tebal yang basah oleh gerimis setelah derasnya hujan.

Orang asing yang banyak bicara itu kaupuji dalam keheningan sampai kaulupa aroma subuh telah merangkul kedinginan.

“Tapi?”

Kau menjadi lengah hingga berani merumuskan tentang masa depan tanpa melibatkan Tuhan yang menertawakan dirimu yang sok tahu.
Ah, sudah berulang kali kubilang padamu, cinta adalah yatim piatu yang diadopsi oleh sepasang merpati. Manusia hanya memainkan perasaan, menghela rindu pada sebuah gunung dan bukit.

“Tapi?”

Tak sadarkah kau adalah makhluk menggelikan yang masih bertahan dalam peradaban. Lihatlah, matamu sudah lelah dengan harapan. Katamu kau sabar. Padahal sabar hanyalah kompromi antara rasa sakit dan rasa malu yang kau pendam.

Aku ingat, dengan tersenyum kaukatakan melihatnya dari kejauhan adalah kebahagiaan yang sederhana. Kini, matamu dipenuhi kegetiran.

“Tapi?”
Maka, hal yang mengerikan bukanlah ancaman pembunuhan melainkan ketika kauberani memasrahkan kesetiaan pada insan yang tak tentu punya perasaan.

Salahmu juga menganggap perjumpaan sebagai peristiwa penting. Sejatinya ia hanya persekongkolan waktu dan karma yang melahirkan berjuta penafsiran.

“Tapi?”

Nasib tengah mempermainkanmu dalam belantara jagat raya yang ruwet ini. Kau hanya akan mampu menyelami kegelisahan yang melelahkan. Jika pun berhasil keluar, maka, doa atau usahakah yang berperan?

Mencoba bertahan sama halnya memelihara kepedihan, menyuburkan trauma. Kepalamu tegak, tapi matamu sudah terlalu rabun karena terpaan harapan.

“Tapi?”

Tapi apa, heh? Kau mau bilang tapi aku mencintainya? Omong kosong apalagi? Kau perlu belajar pada matahari yang mencintai bumi tanpa harus menyentuh permukaannya. Kau tak perlu begitu. Mencintainya tak ada artinya dibandingkan usahamu untuk tampil bahagia di hadapan orang-orang yang menyayangimu. Apa kau masih mengagumi masa lalumu yang telah menjadi kenangan yang memalukan jika masih diingat? Ketika kau rela basah menawari payung saat hujan tak kunjung reda atau modus murahan untuk mendekatinya dengan pura-pura berbaik hati mengerjakan tugas kuliah? Bodoh.

Barangkali kau memang ingin kembali ke masa lalu di saat masa depan masih terlalu jauh. Tapi apa, di ujung sana masih ada belokan yang akan kautempuh untuk kembali ke masa lalu. Suram.

“Tapi?”

Kau tak bisa memilikanya. Dia bukan benda mati yang seenaknya bisa kau tawar. Dia subyek hidup yang bernyawa. Tak layak cemburu atau merasa kecewa pada siapapun kecuali pada kekonyolanmu.

Bersahabat kariblah dengan duka! Peluklah dalam kesunyian malam menuju pagi. Berdukalah sampai kamarmu penuh jaring laba-laba, sampai kau bermimpi berjumpa dengan orang tua yang kau sia-sia.

Kesedihanmu tak lebih berarti dari mayat tertuduh PKI yang terapung di lautan atau perempuan yang diperkosa karena dituduh Gerwani. Kesedihanmu hanya keegoisan karena penuh sesak oleh kekecewaan.

Tak perlu ada drama berlebihan apalagi sampai kau tumpahkan tangisan. Ini bukan perjuangan juga bukan tentang korban eksekusi dalam pembunuhan massal. Ini hanya masa muda yang kaulalui dengan kepongahanmu akan takdir Tuhan.

“Tapi?”

Aku tahu. Menjadi seseorang yang dilupakan adalah kutukan yang menyakitkan setelah ditinggal karena kematian. Kau perlu belajar pada hujan yang selalu dilupakan sesaat setelah sungai telah menggenang. Bahkan akan dibenci saat banjir melanda perkampungan.

Itulah keangkuhan kehidupan yang selalu terselip dalam labirin kebudayaan. Tidak ada kebahagiaan yang langgeng tanpa ada kekecewaan. Bahagia adalah terjemahan tentang impian yang terwujud dalam sisa-sisa waktu.

“STOP! Terima kasih sudah berpanjang lebar. Aku tak soal jika dianggap salah dalam peristiwa ini. Walau aku juga bukan seorang korban. Tak kau lihatkah perut yang semakin membesar ini? Ini bukan barang mati. Ada ruh kehidupan yang tak pernah diharapkan oleh siapapun kecuali Tuhan sendiri yang menghendakinya.”

“Teori yang kauucapkan bak jampi-jampi yang menyemburkan mantra, takkan bisa membunuh nyawa yang tertiup setelah sperma penghianat yang kusambut dengan kenikmatan.”

“Ini bukan kasus Gerwani tahun 66, teror terhadap perempuan di Poso atau pemerkosaan terhadap etnis China pada aksi 98. Aku anak manusia yang menjadi bagian dari proses reformasi seksual. Ini trasformasi sosial, Bung. Tranformasi gila tentang seksualitas yang pernah terjadi di Eropa empat puluh tahun lalu. Kita sedang menuju kesana.”

“Kau menyinggung agama. Hei, justru ini pertaruhan agama. Sejauh mana peran agama mampu menghentikan proses, atau justru tergerus dan mulai ditinggalkan manusia. Kalau belajar dari Eropa, maka Katolik pun ditinggalkan banyak orang demi pemuasan nafsu. Dimanakah norma religi?”

“Ini lebih kompleks dari sekedar isu hasrat yang berakhir dengan hubungan badan. Tidak demikian, Bung. Semua ini berkelindan dengan dimensi lain yang menggulat di sekeliling seksualitas bukan sekedar hubungan laki-laki perempuan di luar pernikahan.”

“Bung, kita adalah saudara kandung. Aku adalah satu-satunya adik perempuanmu. Tapi aku tahu, sejak sepuluh tahun lalu kita berpisah. Kau hidup dengan duniamu. Kini kau seolah menjadi bijak penuh ungkapan filosofis, manusia kenyang dengan teori-teori sosial. Tetapi, Bung. Ini kenyataan hidup yang tak pernah kauinjak. Kau boleh membaca buku-buku antroprologi, metafisika maupun logika. Tapi adakah yang lebih jujur dibanding fenomena sosial. Kau harus setuju bahwa yang terjadi di negeri ini adalah reformasi seksual.

“Kekejaman yang kauucapkan dalam kata-katamu yang melangit, seperti membaca sajak berbahasa planet. Tapi, Bung. Ini tentang pandangan dunia mapan di zaman modern. Perhatianmu padaku tidak riil. Laki-laki lemah!”

“Apapun itu aku adalah adikmu yang dihakimi sebagai manusia tolol yang telah menggoda lelaki alim yang berbuat zina hanya karena pria yang tidur denganku adalah keturunan keluarga yang religius. Mau membelaku atau ikut mengutukku, itu hakmu.”

“Sekarang, yang orang tahu hanyalah bahwa bayi ini adalah anak kandungku. Aku tak malu. Bukankah sudah banyak yang seperti ini? Bung, kau manusia kuno. Menyentuh perempuan kau tak mau kalau bukan muhrim. Kau masih percaya dosa, kau masih percaya Tuhan menciptakan neraka?”

“Hei. Aku masih beragama. Aku percaya dengan neraka dan dosa. Tapi inilah aku perempuan modern yang ikut andil besar dalam kelangsungan fenomena reformasi seksual. Dan ketahuilah perempuan bukan lagi manusia cengeng. Akulah hasil dari revolusi gender.”

Sudah-sudah! Cukup! Kata-katamu telah menerorku. Terserah apa maumu sekarang. Semoga Tuhan mengampunimu.

“Amin.”

No comments:

Post a Comment