Jum’at, 17 Oktober 2014
Waktu luang adalah benda tak terlihat yang
berat untuk dibawa. Ketika ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,
kedatangan waktu luang bukannya membuat diri merasakan semangat untuk
menyelesaikan. Seringnya malah bingung apa dulu yang perlu diselesaikan hingga
akhirnya semua berlalu sia-sia. Allah
Sesudah beberapa hari aku merasakan sensasi
lain dalam hidupku akibat dosa yang tak kuistighfari secara rutin. Jika ini
diterus-teruskan akan mengakibatkan kondisi diri semakin terpuruk. Malas
ibadah, malas membaca, malas menulis dan semua waktu akan menjadi sia-sia. I
will waste time without important actifities.
Hanya aku masih heran, rasa-rasanya Allah
sering ‘absen’ dalam kehidupan manusia. Tentunya ada kebaikan tersembunyi yang
harus dikuak sendiri oleh manusia. Apa memang demikian? Atau Tuhan memang
benar-benar membiarkan manusia menentukan jalannya sendiri, mau berbuat apapun
terserah walaupun semuanya punya konsekwensi.
Aku lemah, Gusti. Masih tak dapat kupahami
maksudmu membiarkan keruwetan hidup yang dihadapi oleh manusia yang ada di
sekitarku termasuk keruwetanku. Padahal aku meminta petunjukmu setiap hari,
minta kekuatan agar jadi pengabdimu yang baik seperti yang Kau kehendaki.
Jika kemudian apa yang kupikirkan ini
dikembangkan dengan melakukan kontekstualisasi terhadap orang-orang yang
berbuat dosa. Apa benar kalau dosa itu datangnya dari orang itu sendiri. Tapi
kalau baik datangnya dari Allah. Kalau demikian adanya. Tuhan pilih kasih, tak
adil.
Tak mungkin Allah yang salah. Berarti konsep
teologi Imam Asy’ary perlu dikaji ulang. Atau jangan-jangan aku yang salah
paham. Muktazilah pun tidak bisa kuterima. Baik muktazilah maupun Asyary
semuanya diplomatis. Belum memuaskanku.
Ulama Syiah pun mengkritik kedua konsep
teologi tersebut seperti dalam buku Murthada Muthahari. Cuma aku masih belum
memahami bagaimana sebenarnya yang ada. Aku masih perlu membaca ulang. Pada
detik ini, aku belum tahu mana akidah siapa yang kuikuti. Tapi aku masih iman.
Percaya bahwa Allah ada.
Apa aku juga perlu memahami konsep takdir
sebagaimana filsuf memahami. Nampaknya sangat perlu. Aku tertarik untuk
mengkaji sejarah filsafat dulu biar nanti kutemukan sendiri pakem berpikir
tentang takdir yang bisa memuaskanku.
Aku kembali tertarik pada filsafat. Aku ingin
menguasai banyak Sains dengan menguasai filsafat dulu bukan pada stu ilmu saja.
Kalau dipikir-pikir juga, sejak dulu rasanya belum pernah membuat salah satu
pelajaran menjadi special. Kalau suka dengan salah satu pelajaran memang pernah
seperti cintaku pada MTK atau Ushul Fikh saat di pondok. Bukan berarti dengan
suka mata pelajaran tertentu lalu aku menafikan pelajaran lain. Tidak. Semuanya
nilaiku bagus.
No comments:
Post a Comment