Thursday, October 23, 2014

MERAGUKAN TEOLOGI SUNNI

Jum’at, 17 Oktober 2014
Waktu luang adalah benda tak terlihat yang berat untuk dibawa. Ketika ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kedatangan waktu luang bukannya membuat diri merasakan semangat untuk menyelesaikan. Seringnya malah bingung apa dulu yang perlu diselesaikan hingga akhirnya semua berlalu sia-sia. Allah
Sesudah beberapa hari aku merasakan sensasi lain dalam hidupku akibat dosa yang tak kuistighfari secara rutin. Jika ini diterus-teruskan akan mengakibatkan kondisi diri semakin terpuruk. Malas ibadah, malas membaca, malas menulis dan semua waktu akan menjadi sia-sia. I will waste time without important actifities.
Hanya aku masih heran, rasa-rasanya Allah sering ‘absen’ dalam kehidupan manusia. Tentunya ada kebaikan tersembunyi yang harus dikuak sendiri oleh manusia. Apa memang demikian? Atau Tuhan memang benar-benar membiarkan manusia menentukan jalannya sendiri, mau berbuat apapun terserah walaupun semuanya punya konsekwensi.
Aku lemah, Gusti. Masih tak dapat kupahami maksudmu membiarkan keruwetan hidup yang dihadapi oleh manusia yang ada di sekitarku termasuk keruwetanku. Padahal aku meminta petunjukmu setiap hari, minta kekuatan agar jadi pengabdimu yang baik seperti yang Kau kehendaki.
Jika kemudian apa yang kupikirkan ini dikembangkan dengan melakukan kontekstualisasi terhadap orang-orang yang berbuat dosa. Apa benar kalau dosa itu datangnya dari orang itu sendiri. Tapi kalau baik datangnya dari Allah. Kalau demikian adanya. Tuhan pilih kasih, tak adil.
Tak mungkin Allah yang salah. Berarti konsep teologi Imam Asy’ary perlu dikaji ulang. Atau jangan-jangan aku yang salah paham. Muktazilah pun tidak bisa kuterima. Baik muktazilah maupun Asyary semuanya diplomatis. Belum memuaskanku.
Ulama Syiah pun mengkritik kedua konsep teologi tersebut seperti dalam buku Murthada Muthahari. Cuma aku masih belum memahami bagaimana sebenarnya yang ada. Aku masih perlu membaca ulang. Pada detik ini, aku belum tahu mana akidah siapa yang kuikuti. Tapi aku masih iman. Percaya bahwa Allah ada.
Apa aku juga perlu memahami konsep takdir sebagaimana filsuf memahami. Nampaknya sangat perlu. Aku tertarik untuk mengkaji sejarah filsafat dulu biar nanti kutemukan sendiri pakem berpikir tentang takdir yang bisa memuaskanku.
Aku kembali tertarik pada filsafat. Aku ingin menguasai banyak Sains dengan menguasai filsafat dulu bukan pada stu ilmu saja. Kalau dipikir-pikir juga, sejak dulu rasanya belum pernah membuat salah satu pelajaran menjadi special. Kalau suka dengan salah satu pelajaran memang pernah seperti cintaku pada MTK atau Ushul Fikh saat di pondok. Bukan berarti dengan suka mata pelajaran tertentu lalu aku menafikan pelajaran lain. Tidak. Semuanya nilaiku bagus.


No comments:

Post a Comment