Selasa,
4 November 2014
Pertama,
aku minta maaf kepada para Kiai, Habaib, Ustadz, para guru agama dan para sufi
semua. Catatan ini kumulai bukan terinspirasi dari kalian semua melainkan dari
seseorang yang selama ini dianggap kafir. Bahkan aku juga menulis tidak dalam
kondisi mendengar sholawat. Justru aku mendengar musik pop dari grup band yang
vokalisnya pernah terkena kasus asusila. Maafku pada kalian semua. Aku masih
berharap syafaat kalian di hari akhir kelak. Aku masih percaya tanpa kalian aku
tak bisa selamat dari siksa neraka. Sementara kalian pun orang-orang yang
welas, penuh kasih sayang terhadap umat, terhadap santri tak tahu diri
sepertiku. Aku hanya ingin berusaha menjalankan kejujuran dalam berbuat
termasuk dalam menulis. Sekali lagi aku berusaha, bukan berarti segala tingkah
tingkahku dijiwai kejujuran seperti kalin. Tidak. Aku belum mampu sepertimu.
Aku
terhenyak sesaat ketika membaca Menerobos Kegelapan pada waktu Karen yang non
muslim itu menceritakan kehidupan seorang biara. Menjadi seorang biara harus
benar-benar menjalani aturan ketat. Awalnya aku membayangkan bahwa memillih
hidup menjadi seorang biara sama halnya ketika orang nyantri hingga nanti
akhirnya panji Islam.
Semakin
aku membaca kisah waktu muda Karen, aku tahu bahwa anggapanku salah. Menjadi
seorang biarawati diwajibkan untuk melaksanakan ajaran agama dengan sepenuhnya
dan meninggalkan kehidupan duniawi. Menikah pun tidak diperbolehkan bagi biara.
Belum
kuketahui secara pasti apa tugas seorang biarawati. Kalau ustadz, jelas, dia
harus menjadi pendakwah Islam. Barangkali biara pun demikian. Pakaiannya harus
mengikuti aturan gereja begitu pula cara berjalannya.
Setelah
tujuh tahun, Karen memutuskan menjadi orang awam dan meninggalkan kehidupan
dalam biara dengan alasan, agama yang dianutnya tak dapat membuatnya menemukan
Tuhan.
Bagaimana
dengan seorang ustadz? Terutama ustadz yang berada dalam pesantren NU? Akankah
ada yang mengalami hal yang sama dengan Karen. Saya rasa pasti ada walau
jumlahnya sedikit. Lebih banyak yang merasa aman dan sendiko dawuh kepada Kiai
walau tidak dapat diketahui secara pasti apakah dia benar-benar menemukan Tuhan
dengan menjalani hidup sebagai Ustadz.
Ustadz
ataupun ustadzah berbeda dengan biarawan. Dan dalam Islam, sepengetahuanku tak
ada proses kaderisasi seketat gereja dalam memilih seorang biara atau pastur.
Kesamaannya bahwa keduanya adalah pendakwah agama masing-masing. Keduanya pun
dianjurkan berpikir dogmatis. Tak banyak melakukan studi kritis terhadap ajaran
yang dipelajari.
Akankah
suatu suatu waktu nanti aku juga demikian. Merasa tak menemukan Tuhan lalu
mencari jalan di luar pesantren untuk mendekati Tuhan dengan jalan yang
berbeda. Inginku demikian. Walaupun tak lantas memilih jalan yang sama
sebagaimana Karen dengan melakukan pengkajian teologis terhadap agama-agama
lain.
Kalau
aku memilih jalan demikian apa nanti guru-guruku akan meridhai jalanku? Ridha?
Ah ridha. Kini banyak juga yang memainkan kata ridha untuk kepentingan pribadi.
Begitu ruwetnya umat Islam pada hari ini. Segala kesucian agama bisa
dipermainkan untuk kepentingan pribadi.
Pada
paragraf lain, aku merasa tergelitik ketika ternyata Karen pernah merasakan apa
yang pernah kurasakan ketika merasa bahwa Tuhan tidak hadir dalam banyak hal
walau Karen juga aku sudah jungkir balik melakukan penghambaan kepada Tuhan. Sayang
Dia biasa-biasa saja. Sama halnya sebelum atau sesudah melakukan pengbadian
kepada Tuhan. Karen merasa demikian. Aku agak berbeda. Ada ketenangan hati dan
semangat dalam beraktifitas. Sepertinya perasaan itu datang akibat ibadah yang
dilakukan.
Karen
pun merasa bahwa Tuhan tak hadir dalam hidupnya walau dia sudah berdoa. Aku
pernah mengalami kondisi yang sama beberapa hari lalu. Untungnya tiba-tiba
Tuhan langsung menyapaku dengan sakit yang kubenci. Perut kembung. Selama
kurang lebih tiga hari perut kembung itu menyadarkanku bahwa ada banyak peran
Tuhan yang sebenarnya tidak kurasa misalnya kesehatan badan.
Read!
ReplyDeleteJust so you. Keep thinking :)