Thursday, November 6, 2014

MENEROBOS KEGELAPAN 2

Selasa, 4 November 2014
Pertama, aku minta maaf kepada para Kiai, Habaib, Ustadz, para guru agama dan para sufi semua. Catatan ini kumulai bukan terinspirasi dari kalian semua melainkan dari seseorang yang selama ini dianggap kafir. Bahkan aku juga menulis tidak dalam kondisi mendengar sholawat. Justru aku mendengar musik pop dari grup band yang vokalisnya pernah terkena kasus asusila. Maafku pada kalian semua. Aku masih berharap syafaat kalian di hari akhir kelak. Aku masih percaya tanpa kalian aku tak bisa selamat dari siksa neraka. Sementara kalian pun orang-orang yang welas, penuh kasih sayang terhadap umat, terhadap santri tak tahu diri sepertiku. Aku hanya ingin berusaha menjalankan kejujuran dalam berbuat termasuk dalam menulis. Sekali lagi aku berusaha, bukan berarti segala tingkah tingkahku dijiwai kejujuran seperti kalin. Tidak. Aku belum mampu sepertimu.
Aku terhenyak sesaat ketika membaca Menerobos Kegelapan pada waktu Karen yang non muslim itu menceritakan kehidupan seorang biara. Menjadi seorang biara harus benar-benar menjalani aturan ketat. Awalnya aku membayangkan bahwa memillih hidup menjadi seorang biara sama halnya ketika orang nyantri hingga nanti akhirnya panji Islam.
Semakin aku membaca kisah waktu muda Karen, aku tahu bahwa anggapanku salah. Menjadi seorang biarawati diwajibkan untuk melaksanakan ajaran agama dengan sepenuhnya dan meninggalkan kehidupan duniawi. Menikah pun tidak diperbolehkan bagi biara.
Belum kuketahui secara pasti apa tugas seorang biarawati. Kalau ustadz, jelas, dia harus menjadi pendakwah Islam. Barangkali biara pun demikian. Pakaiannya harus mengikuti aturan gereja begitu pula cara berjalannya.
Setelah tujuh tahun, Karen memutuskan menjadi orang awam dan meninggalkan kehidupan dalam biara dengan alasan, agama yang dianutnya tak dapat membuatnya menemukan Tuhan.
Bagaimana dengan seorang ustadz? Terutama ustadz yang berada dalam pesantren NU? Akankah ada yang mengalami hal yang sama dengan Karen. Saya rasa pasti ada walau jumlahnya sedikit. Lebih banyak yang merasa aman dan sendiko dawuh kepada Kiai walau tidak dapat diketahui secara pasti apakah dia benar-benar menemukan Tuhan dengan menjalani hidup sebagai Ustadz.
Ustadz ataupun ustadzah berbeda dengan biarawan. Dan dalam Islam, sepengetahuanku tak ada proses kaderisasi seketat gereja dalam memilih seorang biara atau pastur. Kesamaannya bahwa keduanya adalah pendakwah agama masing-masing. Keduanya pun dianjurkan berpikir dogmatis. Tak banyak melakukan studi kritis terhadap ajaran yang dipelajari.
Akankah suatu suatu waktu nanti aku juga demikian. Merasa tak menemukan Tuhan lalu mencari jalan di luar pesantren untuk mendekati Tuhan dengan jalan yang berbeda. Inginku demikian. Walaupun tak lantas memilih jalan yang sama sebagaimana Karen dengan melakukan pengkajian teologis terhadap agama-agama lain.
Kalau aku memilih jalan demikian apa nanti guru-guruku akan meridhai jalanku? Ridha? Ah ridha. Kini banyak juga yang memainkan kata ridha untuk kepentingan pribadi. Begitu ruwetnya umat Islam pada hari ini. Segala kesucian agama bisa dipermainkan untuk kepentingan pribadi.
Pada paragraf lain, aku merasa tergelitik ketika ternyata Karen pernah merasakan apa yang pernah kurasakan ketika merasa bahwa Tuhan tidak hadir dalam banyak hal walau Karen juga aku sudah jungkir balik melakukan penghambaan kepada Tuhan. Sayang Dia biasa-biasa saja. Sama halnya sebelum atau sesudah melakukan pengbadian kepada Tuhan. Karen merasa demikian. Aku agak berbeda. Ada ketenangan hati dan semangat dalam beraktifitas. Sepertinya perasaan itu datang akibat ibadah yang dilakukan.
Karen pun merasa bahwa Tuhan tak hadir dalam hidupnya walau dia sudah berdoa. Aku pernah mengalami kondisi yang sama beberapa hari lalu. Untungnya tiba-tiba Tuhan langsung menyapaku dengan sakit yang kubenci. Perut kembung. Selama kurang lebih tiga hari perut kembung itu menyadarkanku bahwa ada banyak peran Tuhan yang sebenarnya tidak kurasa misalnya kesehatan badan.

1 comment: