Monday, November 10, 2014

DOAKAN AKU SEGERA MATI

 Oleh: Rizal Mubit
Kaumulai pandai berdandan. Tapi apalah arti dari keindahanmu jika kesucianmu sudah tergadaikan. Kau pasti mau bilang bahwa aku marah? Ya, aku selalu marah tapi tak pernah memarahimu bukan? Aku memarahi diri sendiri yang berani-beraninya menghabiskan malamku dengan kerisauan tentangmu.

Hahaha. Kau tak perlu kaget. Aku sudah tersadar. Kecantikan paras bukan lagi hal penting bagiku.

Jadi kau kesini untuk apa? Apa kita perlu membicarakan masa lalu?

“Ya.”

Ya katamu. Sebentar. Tolong ambilkan catatan harianku di rak itu. Aku perlu mengingat apa saja yang pernah kita jalani dulu.
Baiklah. Tapi jangan kau tuduh aku macam-macam. Aku hanya akan mengutarakan semua isi dalam otakku selama aku terbaring di gerbang menuju akhirat ini. Kau layak marah nanti. Aku minta kau diam saja. Tak perlu menanggapiku. Aku tahu tanggapanmu terhadap kata-kataku tak berkualitas. Yang penting kau paham dan mengerti maksudku.

Kau tak perlu menangis pula. Aku berbaring di sini bukan karenamu. Bodoh sekali jika aku berpikiran seperti itu. Ini semua karena Tuhan. Setelah aku bercerita, menangislah sesukamu. Tapi sekarang, jangan. Kau hanya boleh mengangguk dan berkata Ya. Selain itu tak boleh. Jika tak setuju, pergilah dari sini sekarang juga. Aku tak butuh kamu. Kedatangamu ke sini karena kau butuh aku kan?

Ya, beginilah aku sekarang kalau ingin tahu bagaimana kondisiku. Aku senang pada akhirnya keinginanku terwujud.
Hei, aku sama seperti dulu. Yang kaubilang pandai, pintar, berwibawa dan entah apalagi pujian-pujian yang pernah kausebutkan dulu. Aku merasa itu tak penting. Hanya gelar-gelar yang hanya terucap atau bahkan tertulis dalam catatan-catatan harianmu.

Baiklah, aku terlalu lama bertele-tele. Maaf.

Begini, Novita. Anak muda seusiamu, lebih tertarik membayangkan berzina dengan kekasihnya dari pada merajut hubungan dalam pernikahan. Aku pun sempat berpikir demikian. Dirimu juga begitu bukan? Siapa yang takut pada agama. Tuhan pun telah kita tantang, bukan?

Silakan kaulanjutkan kemahiranmu dalam bersolek. Tapi aku akan tetap dengan pendirianku. Bukan karena aku terlalu sakit olehmu. Tahukah kau? Setelah menjadi lelaki yang kaunikmati dalam khayalmu, aku telah memutuskan untuk mengekang sadarku.

Wanita yang amat menarik lelaki sepertimu sudah tak lagi mampu membuatku bertanya. Perempuan cerdas walau tua dan bertubuh gendut sekalipun adalah keindahan yang sebenarnya bukan yang berparas cantik tapi berotak tolol sepertimu.

Kau sendiri bukan yang mengakuinya? Kau sering menunjukkan kebodohan yang kau kristalkan dalam tingkah dan ucapmu.

"Aku tak sepandai kamu, Mas."

Stop. Jangan berkata. Kau hanya boleh bilang ya dan mengangguk. Aku sudah hafal itu. Itu kalimat yang sering kauucapkan. Berkali-kali aku mendengarnya sampai aku bosan.

Kata-kataku tak pernah menyihirmu untuk menjadi orang yang suka bercengkerama dengan buku. Sebaliknya kau begitu tertarik saat aku berkisah tentang kehidupan seksual manusia zaman dahulu bahkan kisah   Adam dan Hawa sewaktu berhubungan badan. Kau tertarik bagai anak kecil yang merindukan ibunya.

“Ya.”

Kau polos dalam banyak hal tapi tidak dalam urusan seksual. Walau usiamu sepuluh tahun di bawahku. Ah wajar. Kau dibesarkan saat dunia sudah tak pernah mempersoalkan etika sosial. Bahkan film kartun anak-anak pun sudah dibumbui unsur-unsur pornografi. Wajar jika pada akhirnya kau tumbuh seperti itu. Bodoh dalam ilmu tapi mengalami masalah akselerasi dalam masalah seks. Rasa-rasanya generasimu juga sama sepertimu.
Aku dulu juga memintamu pandai berdandan. Itu dulu saat kau tak menghiraukanku. "Aku tak pandai berdandan."

"Cobalah kau berusaha. Pasti bisa. Kau akan lebih cantik dari sekarang." Ucapku dulu.

Kau tak bergeming sampai aku lelah dan mengalah. Katamu lebih suka dengan kecantikan alami. Ya, alasanmu kuterima. Aku pun berusaha bisa hadir dalam kata-katamu.

Kini aku sudah tak tertarik oleh paras. Sama sekali tak tergoda. Kau tak tahu kan? aku lebih tertarik dengan perempuan yang berotak cerdas, mampu mendebatku dalam urusan politik, agama, sejarah bahkan filsafat pun. Aku telah menemukannya. Dia mampu menandingiku walaupun dia seorang saintis. Dia pandai dalam bidang astronomi. Kemarin dia membuatkanku teleskop yang dibuatnya sesuai dengan konsep astrofisika modern.

Dia yang merawatku di sini. Seorang janda. Banyaklah belajar darinya tentang hidup. Jangan jadi perempuan kuno yang menghabiskan uang demi penampilan dan pulsa. Kau akan tetap bodoh jika terus-terusan demikian.

Ahahahaha. Maaf aku baru menasehatimu sekarang. Aku adalah lelaki yang suka dengan perempuan bodoh. Perempuan yang hanya suka menghabiskan waktu di layar kecil tanpa hal-hal berarti. Perempuan seperti itu mudah dibodohi sepertimu. Sayang aku tak tega. Seandainya aku mau. Sudah kurenggut keperawananmu sejak dulu.

Aku lanjutkan tentang kedatangan orang asing itu sejak dua bulan lalu. Sampai sekarang di masih asing. Aku tak dapat membaca pikirannya. Dan aku tak perlu melakukan itu. Bisa berdiskusi dengannya pun aku sudah sangat senang. Tak perlu mengetahui urusan pribadinya, masa lalu atau bahkan cita-citanya. Dia adalah antitesis dari wujud makhluk sepertimu.

Kehadirannya dalam hidupku adalah sebuah nyala api di tengah pesimisme yang tertanam dalam otakku tentang generasi bodoh. Apa dia tak suka dengan seksualitas sepertimu? Ah sepertinya tidak juga. Dia sama seperti kita. Manusia yang tertarik membahas seks. Tapi dia cerdas sehingga sama sekali tak tertarik dengan seks di luar pernikahan.

Alasannya bukan karena agama. Kau lebih tahu agama dibanding dia. Kau sudah banyak belajar fikih, dari fikih ibadah sampai jinayah. Dia apa pernah belajar itu? Sepertinya tidak terlalu mendalam sepertimu. Kesadarannya terbentuk oleh pemikiran yang dibangun oleh filsafat dan sains yang dipelajarinya. Tidak melulu oleh agama.

Kaulihat tumpukan buku-buku di meja itu. Aku sudah menghabiskannya selama di sini. Aku sekarang tahu kenapa negara ini seperti dongeng tentang manusia-manusia bodoh yang berkumpul dalam keruwetan hidup. Hah, aku ingin tertawa ketika menyadari orang-orang sekang lebih bodoh dari nenek moyang.

Teknologi canggih sudah banyak ditemukan di masa lalu oleh moyang nusantara. Banyak makanan unik yang ditemukan orang dahulu. Kau tahu siapa orang yang menemukan ide membuat gula kelapa? Siapa penemu bumbu pecel? Ah mana kau tahu. Kau hanya tahu nama-nama artis sinetron dan boyband Korea yang berlenggak-lenggok itu bukan?

Generasi sekarang hanya bisa bikin runyam. Tak bisa berbuat apa-apa selain menjadi manusia-manusia manja dan pemalas. Dan aku adalah manusia yang tersisih karena harapan utopia. Aku menerimanya. Semua sudah kehendak Tuhan walau pada akhirnya beginilah aku. Manusia utopis yang terasingkan.

“Ya.”

Jadi kalau kau mau kembali seperti yang dulu. Sebaiknya urungkan niatmu. Aku sudah muak dengan perempuan cantik apalagi tak pandai sepertimu. Tapi jangan lupakah doakan aku sebelum kau meninggalkan tempat ini. Aku sebentar lagi meninggalkan dunia. Aku tak akan menikah dengan siapa pun di dunia ini. Aku akan menikahi bidadari langit. Sebentar lagi aku mati. Doakan aku segera mati. Aku tak ingin tua di dunia walaupun hartaku berlimpah.

“Ya.”

No comments:

Post a Comment