Oleh: Rizal Mubit
Kaumulai pandai berdandan. Tapi apalah arti
dari keindahanmu jika kesucianmu sudah tergadaikan. Kau pasti mau bilang
bahwa aku marah? Ya, aku selalu marah tapi tak pernah memarahimu bukan?
Aku memarahi diri sendiri yang berani-beraninya menghabiskan malamku
dengan kerisauan tentangmu.
Hahaha. Kau tak perlu kaget. Aku sudah tersadar. Kecantikan paras bukan lagi hal penting bagiku.
Jadi kau kesini untuk apa? Apa kita perlu membicarakan masa lalu?
“Ya.”
Ya katamu. Sebentar. Tolong ambilkan catatan harianku di rak itu. Aku perlu mengingat apa saja yang pernah kita jalani dulu.
Baiklah.
Tapi jangan kau tuduh aku macam-macam. Aku hanya akan mengutarakan
semua isi dalam otakku selama aku terbaring di gerbang menuju akhirat
ini. Kau layak marah nanti. Aku minta kau diam saja. Tak perlu
menanggapiku. Aku tahu tanggapanmu terhadap kata-kataku tak berkualitas.
Yang penting kau paham dan mengerti maksudku.
Kau tak
perlu menangis pula. Aku berbaring di sini bukan karenamu. Bodoh sekali
jika aku berpikiran seperti itu. Ini semua karena Tuhan. Setelah aku
bercerita, menangislah sesukamu. Tapi sekarang, jangan. Kau hanya boleh
mengangguk dan berkata Ya. Selain itu tak boleh. Jika tak setuju,
pergilah dari sini sekarang juga. Aku tak butuh kamu. Kedatangamu ke
sini karena kau butuh aku kan?
Ya, beginilah aku sekarang kalau ingin tahu bagaimana kondisiku. Aku senang pada akhirnya keinginanku terwujud.
Hei,
aku sama seperti dulu. Yang kaubilang pandai, pintar, berwibawa dan
entah apalagi pujian-pujian yang pernah kausebutkan dulu. Aku merasa itu
tak penting. Hanya gelar-gelar yang hanya terucap atau bahkan tertulis
dalam catatan-catatan harianmu.
Baiklah, aku terlalu lama bertele-tele. Maaf.
Begini,
Novita. Anak muda seusiamu, lebih tertarik membayangkan berzina dengan
kekasihnya dari pada merajut hubungan dalam pernikahan. Aku pun sempat
berpikir demikian. Dirimu juga begitu bukan? Siapa yang takut pada
agama. Tuhan pun telah kita tantang, bukan?
Silakan
kaulanjutkan kemahiranmu dalam bersolek. Tapi aku akan tetap dengan
pendirianku. Bukan karena aku terlalu sakit olehmu. Tahukah kau? Setelah
menjadi lelaki yang kaunikmati dalam khayalmu, aku telah memutuskan
untuk mengekang sadarku.
Wanita yang amat menarik
lelaki sepertimu sudah tak lagi mampu membuatku bertanya. Perempuan
cerdas walau tua dan bertubuh gendut sekalipun adalah keindahan yang
sebenarnya bukan yang berparas cantik tapi berotak tolol sepertimu.
Kau sendiri bukan yang mengakuinya? Kau sering menunjukkan kebodohan yang kau kristalkan dalam tingkah dan ucapmu.
"Aku tak sepandai kamu, Mas."
Stop.
Jangan berkata. Kau hanya boleh bilang ya dan mengangguk. Aku sudah
hafal itu. Itu kalimat yang sering kauucapkan. Berkali-kali aku
mendengarnya sampai aku bosan.
Kata-kataku tak pernah
menyihirmu untuk menjadi orang yang suka bercengkerama dengan buku.
Sebaliknya kau begitu tertarik saat aku berkisah tentang kehidupan
seksual manusia zaman dahulu bahkan kisah Adam dan Hawa sewaktu
berhubungan badan. Kau tertarik bagai anak kecil yang merindukan ibunya.
“Ya.”
Kau
polos dalam banyak hal tapi tidak dalam urusan seksual. Walau usiamu
sepuluh tahun di bawahku. Ah wajar. Kau dibesarkan saat dunia sudah tak
pernah mempersoalkan etika sosial. Bahkan film kartun anak-anak pun
sudah dibumbui unsur-unsur pornografi. Wajar jika pada akhirnya kau
tumbuh seperti itu. Bodoh dalam ilmu tapi mengalami masalah akselerasi
dalam masalah seks. Rasa-rasanya generasimu juga sama sepertimu.
Aku dulu juga memintamu pandai berdandan. Itu dulu saat kau tak menghiraukanku. "Aku tak pandai berdandan."
"Cobalah kau berusaha. Pasti bisa. Kau akan lebih cantik dari sekarang." Ucapku dulu.
Kau
tak bergeming sampai aku lelah dan mengalah. Katamu lebih suka dengan
kecantikan alami. Ya, alasanmu kuterima. Aku pun berusaha bisa hadir
dalam kata-katamu.
Kini aku sudah tak tertarik oleh
paras. Sama sekali tak tergoda. Kau tak tahu kan? aku lebih tertarik
dengan perempuan yang berotak cerdas, mampu mendebatku dalam urusan
politik, agama, sejarah bahkan filsafat pun. Aku telah menemukannya. Dia
mampu menandingiku walaupun dia seorang saintis. Dia pandai dalam
bidang astronomi. Kemarin dia membuatkanku teleskop yang dibuatnya
sesuai dengan konsep astrofisika modern.
Dia yang
merawatku di sini. Seorang janda. Banyaklah belajar darinya tentang
hidup. Jangan jadi perempuan kuno yang menghabiskan uang demi penampilan
dan pulsa. Kau akan tetap bodoh jika terus-terusan demikian.
Ahahahaha.
Maaf aku baru menasehatimu sekarang. Aku adalah lelaki yang suka dengan
perempuan bodoh. Perempuan yang hanya suka menghabiskan waktu di layar
kecil tanpa hal-hal berarti. Perempuan seperti itu mudah dibodohi
sepertimu. Sayang aku tak tega. Seandainya aku mau. Sudah kurenggut
keperawananmu sejak dulu.
Aku lanjutkan tentang
kedatangan orang asing itu sejak dua bulan lalu. Sampai sekarang di
masih asing. Aku tak dapat membaca pikirannya. Dan aku tak perlu
melakukan itu. Bisa berdiskusi dengannya pun aku sudah sangat senang.
Tak perlu mengetahui urusan pribadinya, masa lalu atau bahkan
cita-citanya. Dia adalah antitesis dari wujud makhluk sepertimu.
Kehadirannya
dalam hidupku adalah sebuah nyala api di tengah pesimisme yang tertanam
dalam otakku tentang generasi bodoh. Apa dia tak suka dengan
seksualitas sepertimu? Ah sepertinya tidak juga. Dia sama seperti kita.
Manusia yang tertarik membahas seks. Tapi dia cerdas sehingga sama
sekali tak tertarik dengan seks di luar pernikahan.
Alasannya
bukan karena agama. Kau lebih tahu agama dibanding dia. Kau sudah
banyak belajar fikih, dari fikih ibadah sampai jinayah. Dia apa pernah
belajar itu? Sepertinya tidak terlalu mendalam sepertimu. Kesadarannya
terbentuk oleh pemikiran yang dibangun oleh filsafat dan sains yang
dipelajarinya. Tidak melulu oleh agama.
Kaulihat
tumpukan buku-buku di meja itu. Aku sudah menghabiskannya selama di
sini. Aku sekarang tahu kenapa negara ini seperti dongeng tentang
manusia-manusia bodoh yang berkumpul dalam keruwetan hidup. Hah, aku
ingin tertawa ketika menyadari orang-orang sekang lebih bodoh dari nenek
moyang.
Teknologi canggih sudah banyak ditemukan di
masa lalu oleh moyang nusantara. Banyak makanan unik yang ditemukan
orang dahulu. Kau tahu siapa orang yang menemukan ide membuat gula
kelapa? Siapa penemu bumbu pecel? Ah mana kau tahu. Kau hanya tahu
nama-nama artis sinetron dan boyband Korea yang berlenggak-lenggok itu
bukan?
Generasi sekarang hanya bisa bikin runyam. Tak
bisa berbuat apa-apa selain menjadi manusia-manusia manja dan pemalas.
Dan aku adalah manusia yang tersisih karena harapan utopia. Aku
menerimanya. Semua sudah kehendak Tuhan walau pada akhirnya beginilah
aku. Manusia utopis yang terasingkan.
“Ya.”
Jadi
kalau kau mau kembali seperti yang dulu. Sebaiknya urungkan niatmu. Aku
sudah muak dengan perempuan cantik apalagi tak pandai sepertimu. Tapi
jangan lupakah doakan aku sebelum kau meninggalkan tempat ini. Aku
sebentar lagi meninggalkan dunia. Aku tak akan menikah dengan siapa pun
di dunia ini. Aku akan menikahi bidadari langit. Sebentar lagi aku mati.
Doakan aku segera mati. Aku tak ingin tua di dunia walaupun hartaku
berlimpah.
“Ya.”
Monday, November 10, 2014
DOAKAN AKU SEGERA MATI
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment