Jum'at, 28 November 2014
Kita perlu menjadikan semua yang
kita lihat sebagai sebuah fenomena. Meski kadang yang kaujalani tidak biasa.
Ada saat dimana apa yang kau lihat bertentangan dengan nuranimu tapi kau harus
terlibat di dalamnya seperti ketika temanmu tiba-tiba diam-diam mengajakmu ke
warung kopi remang-remang yang dijaga gadis-gadis seksi.
Betapa kamu pada akhirnya
merasakan detak nadimu berjalan tak seperti biasa ketika gadis itu datang
mendekati temanmu lalu menawarkan minum lalu duduk di dekatnya.
Ini budaya manusia kuno yang terbawa oleh nafsu manusia lalu ditambah kreatifitas dengan tambahan ruang karaoke.
Dalam hal ini perempuan lagi-lagi menjadi obyek kesenangan laki-laki. Tapi aku belum pernah mengalami hubungan dengan wanita seperti itu, sebab aku sudah membingkai diri dengan merasa bahwa tak mungkin aku menjadikannya kekasih seolah aku lebih baik darinya, lebih berhak masuk surge darinya sedang dia adalah perempuan kotor yang dibenci Tuhan.
Pasti banyak orang yang merasa demikian. Termasuk aku. Sekalipun dalam kepalaku muncul pertanyaan yang menusuk yang mengerucut pada satu Tanya.”Mengapa kamu berada di sini?”
Belum berani aku bertanya, jawaban sudah bermunculan.
Dia menjadi seperti ini karena keterpaksaan nasib.
Pekerjaan susah. Dia di sini untuk menyambung hidup.
Lagi pula siapa yang senang harus berpakaian minim malam-malam.
Dia pasti suka kalau ditawari pekerjaan yang lebih layak.
Mungkin karena orang tuanya salah mendidiknya.
Dia akan keluar dari dunia hitam jika ada yang menikahinya. Tapi siapa yang mau menikah dengannya?
Jawaban itu tak dapat
kuklarifikasi. Aku serba salah. Takut kalau pertanyaanku menyingungnya. Ya,
tahu apa aku tentang susahnya hidup. Takdir Tuhan yang diberikan padaku beda
dengan yang dipaksakan padanya.
Oh iya, dia mengenalkan namanya Rossi. Sejak awal senyumnya terlihat memaksa. Aku iba melihatnya. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk masa depannya. Aku hanya bisa mengawasinya diam-diam, dan mengakui bahwa dia terlahir jadi manusia cantik. Tapi entah mengapa, nasib telah mengantarnya jadi orang lain. Dipaksa berpakaian seksi untuk melayani tamu-tamu yang tak pernah dikenalinya.
Tak lama, datang temannya duduk agak jauh dariku. Aku bisa mengontrol diri dan detak jantungku untuk mendengarkannya berbicara sebagai manusia.
"Aku sudah bosan dengan tamu-tamu bodoh yang muntah. Apa mereka tak berpikir jika sudah tak kuat lagi untuk pergi. Merepotkan kita saja."
Aku tak tahu siapa nama gadis yang duduk di sampingku. Dia tak lebih cantik dari Rossi. Tapi aku bisa menilainya dia bukan orang berpunya. Dia hanya anak manusia yang terpaksa hidup dalam kekangan bos yang memaksa untuk begini begitu. Sama nasibnya dengan Rossi.
Hpnya murahan. Lalu muncul lagi pertanyaan. Siapa kira-kira yang disalahkan? Aduh. Tak perlu mencari kesalahan. Biar saja semua berjalan sebagaimana mestinya sambil berdoa dia akan mendapat hidayah.
Membicarakan hidayah di tempat nuansa mesum seperti ini tidak layak sama sepertiku yang dengan sengaja membawa buku kuliah untuk kubaca karena tak tahu kalau ternyata tempat ngopi tujuan temanku adalah warkop remang-remang yang diberi nama oleh pemiliknya dengan spanduk “Primadona”.
"Perempuan cantik, diapakan juga akan tetap cantik." kudengar Rossi berbicara lalu disambut dengan Toha, temanku.
"Masuk ya, Bro. Benar itu." katanya. Aku hanya tersenyum.
Aku mendengar Rossi bilang tak pernah keluar kemana-mana. Hanya di sini saja. Benar atau tidak ucapannya, muncul pemikiran bahwa dia tertekan di sini, dipaksa. Terpaksa.
Siapakah yang memaksa? Mau bilang bahwa ini adalah paksaan Tuhan atau orang lain yang juga dipaksa Tuhan? Ah, mbuh.
Lama-lama mendengar Rossi yang tak sengaja sering mengeluh berada di sana, aku jadi teringat temanku yang hafal Quran. Suaranya mirip dengannya. Nasibnya saja yang berbeda.
Aku tahu, dilihat dari sudut mana pun aku tak pantas berada di tempat ini. Apalagi ini malam Jum'at, waktunya berbuat taat dan banyak membaca sholawat. Aku jadi teringat dengan Mbah Jogo dalam kisah tulisan Gus Mus. Siapa yang lebih baik, gadis warung reman-remang itu, atau manusia yang diberi karomah wali seperti Gus Jafar? Rossi atau Toha, temanku yang juga putra Kiai Madura?
Rossi dan pramuniaga yang lain berada di sini karena Tuhan kah atau karena dirinya sendiri? Aku tak bisa menjawab.
"Sebentar, aku mau ngumpulkan hp."
"Buat apa?" tanya Toha.
"Kalau kerja begini, tak boleh bawa hp."
Tekanan itu semakin terlihat. Walau dia selalu mengelak bahwa di sini bebas. Barangkali hatinya sedang menjerit melawan kenyataan yang harus dijalaninya. Jiwanya terpasung, fisiknya butuh makan sementara tak ada orang yang memberinya pekerjaan yang layak dengan upah yang layak pula. Rossi, malang nian nasibmu. Kau cantik tapi harus hidup seperti ini. Aku juga lemah, tak punya keberanian untuk mengajakmu keluar dari sini, dengan menikah atau memberimu pekerjaan yang kausuka selain ini.
Rossi bercerita tentang protesnya tentang sistem pembagian uang karaoke. Dia tak setuju. Tapi apa daya, dia hanya budak di sana. Hanya bisa protes atau curhat pada pelanggannya.
“Di sini, ada tujuh cewek. Kalau misal sehari dapat seratus ribu dari hasil karaoke. Ya nanti dibagi sepuluh ribuan lalu lebihnya dikasihkan ke cewek yang bisa dapatkan pelanggan. Aku tak suka. Kasihan yang dapat pelanggan dan menemani karaoke.
“Belum lagi kalau sudah saingan. Walaupun tujuh orang, kita bersaing juga. Siapa yang bakal dapat pelanggan. Kami sama-sama berebut uang dari pelanggan. Kadang ada yang culas juga.”
“Misalnya?” Toha menyela.
“Ada pelanggan yang ingin karaoke denganku. Tapi dia sama cewek lain. Dan cewek itu berusaha bahkan sampai bohong agar si pelanggan tak kutemani tapi ditemani olehnya. Kan curang itu. Aku tak suka.”
Hah. Sampai akhirnya kita pulang pun aku tak berkata apa-apa. Hanya diam sambil membaca twitter dan menuliskan ini. Sementara lelaki hidung belang semakin banyak yang datang, semakin malam. Dari orang-orang seusiaku sampai bapak-bapak sesusia orang tuaku.
“Asem, Bro. Mahal amat. Dua minum dan satu pak rokok tiga puluh dua ribu. Asem-asem.” gerutu Toha.
Namanya juga warung
remang-remang. Walau baru pertama datang ke tempat seperti ini, aku juga bisa
menyimpulkan, harganya ya dimahalkan. Apalagi pelanggannya bawa mobil.
No comments:
Post a Comment