Sabtu, 1 November 2014
Kembali kutemukan buku Ayu Utami. Gairah membaca kembali
kurasakan. Hanya butuh waktu banyak untuk menyendiri tanpa harus memikirkan ini
itu yang justru membuang-buang waktu. Bukunya bajakan. Sudah lama aku ingin
memilikinya. Judulnya Larung.
Gaya bahasa Ayu, aku menyukainya. Isinya juga berbobot
menuntut untuk berpikir dan mengajak menjadi pemikir bebas. Dan lagi, ia tak
malu-malu menuliskan hal-hal yang bagi kebanyakan orang barangkali masih
dianggap tabu seperti masalah seks dan perselingkuhan.
Aku juga mendapat buku autobigrafi Karen Amstrong. Sudah
lama nian aku ingin memilikinya. Sayang harganya terlalu mahal. Untungnya
kemarin setelah hunting buku di Wilis, aku mendapatkannya terselip di antara
buku-buku murahan. Betapa bahagianya.
Aku juga mendapat buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan
harga yang miring. Kutaksir sekitar lima belas ribu saja. Aku harus membaca
semuanya. Melawan kantuk tentunya. Dan aku juga tak boleh meninggalkan
kewajiban sholat. Ibadah, baca, nulis. Sudah cukup itu saja yang jadi
prioritas. Lainnya biarlah jadi sampingan.
Menjadi orang yang keranjingan terhadap buku perlu
disyukuri. Tak banyak orang yang bisa jadi seperti itu. Di Indonesia, orang
yang seperti itu jumlahnya sedikit. Tak ada masalah. Memang fasilitas
perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan tak sebanyak jumlah minimarket.
Tapi aku kalah. Nuril sudah membacanya sewaktu masih SMP.
Aku tak bisa membayangkan anak gadis belia membaca karya Ayu Utami yang sedikit
banyak berbahasa vulgar. Katanya, dia dulu risih juga tapi suka dengan cara Ayu
dalam bercerita. Nuril bukan wanita sembarangan. Cerdas!
No comments:
Post a Comment