Saturday, July 16, 2011

SENIN, 11 JULI 2011

Saat ujian Qowaid Fiqhiyyah tadi pagi, kelasku dijaga oleh pengawas yang sama sekali tidak mendidik mahasiswa. Dengan enaknya tanpa merasa berdosa dia mempersilahkan mahasiswa untuk nyontek dan bekerja sama asal tidak rame di kelas. Dia mengatakan dengan bangga sambil bercerita tentang "prestasi"nya menjadi pengawas selama 20 tahun bekerja di IAIN.
Dengan bangga pengawas itu mengatakan dirinya beberapa kali dijadikan rebutan mahasiswa agar mengawasi kelasnya karena ia memberikan kebebasan dalam ujian sekalipun dalam soal tertulis "close book" dan larangan bekerja sama. Bagi mahasiswa yang curang, kehadiran pengawas sepertinya adalah anugerah. Namun bagi mahasiswa jujur, pengawas itu tak ubahnya sebagai simbol kebohongan yang hidup dan bisa berjalan. Mencontek adalah kebiasaan buruk orang-orang curang yang telah membudaya. Mereka tak malu melakukan ketidakjujuran dalam ujian.
Saat pengawas itu menceritakan keterbukaannya, aku memikirkan pak Ghozali, dosen Qowaid Fiqhiyyah yang santun dan selalu berpenampilan ala Kiai. Betapa kasihannya pak Ghozali yang sudah membuat soal ujian dengan harapan mahasiswa bisa mengerjakannya dengan jujur.
Memang tidak semua pengawas ujian di kampusku seperti itu, bayak juga pengawas yang terlalu protektif bahkan ada yang sangat normatif. Tipe-tipe pengawas model terakhir ini pasti dibenci mahasiswa. Telah menjadi fakta yang menyedihkan bahwa mahasiswa sudah malas belajar sehingga saat ujian mereka berharap nyontek. Apalagi sekarang hp bisa dimanfaatkan untuk membuka internet. Otomatis semua soal dalam ujian bisa dijawab dengan mencari di internet.
Pengawas yang normatif biasanya tak mau tahu alasan mahasiswa tak membawa syarat mengikuti ujian seperti kst (kartu studi tetap). Seringkali mahasiswa diusir gara-gara selembar kertas yang tak terbawa entah karena lupa atau hilang. Tujuan ujian tak bisa terlaksana hanya karena kertas. Bagi pengawas yang terbuka, semua itu bisa dimaklumi.
Tak ada yang disalahkan saat melihat fenomena itu. Banyak hal yang menjadikan praktek ketidakjujuran terjadi. Dan bagiku yang paling utama adalah cara penilaian dan sistem ujian yang sangat dimungkinkan untuk nyontek. Namun bagaimanapun sistem ujian dilaksanakan, jika tak ada kesadaran mahasiswa untuk berlaku jujur, sia-sia saja semuanya. Mahasiswa sekarang memiliki kecerdikan yang cenderung licik pada saat ujian.
Praktek contek-mencontek tak ubahnya seperti korupsi tingkat rendah bagi mahasiswa. Semoga aku terlindungi dari contek-mencontek. Bantulah aku Ya Allah. Untuk ujian saat ini aku bisa entah bagaimana ujian depan. Semoga aku masih berpegang pada prinsip "lebih baik tak diisi dari pada diisi dari hasil contekan. Cukup sampai disini, mataku sudah redup, besok aku juga harus pulang kampung jam lima pagi.

No comments:

Post a Comment