Monday, July 11, 2011

RABU, 6 JULI 2011

Akhirnya tadi sore aku bisa nonton setelah lama berazam nonton Serdadu Kumbang. Sebuah film yang menggambarkan tentang pendidikan, persahabatan, agama, moral, kebohongan, keluarga, budaya dan cinta.
Banyak pesan yang disampaikan oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Pesan yang masih kuingat sampai malam ini adalah tentang dialog yang menggambarkan antara Islam dan pengetahuan yang saling mendukung satu sama lain.
Tokoh Amek yang malang membuat semua orang yang melihatnya akan optimis dengan kekurangan yang dimilikinya. Sosok anak kecil yang tidak sempurna secara fisik harus mengalami kehidupan yang pahit. Pertama, dia rindu akan kedatangan ayahnya dari Malaisia, dia tak naik kelas, dan terakhir harus ditinggal mati kakaknya yang sangat mencintainya. Melihatnya, air mataku tak terbendung. Boleh dibilang Serdadu Kumbang menguras air mataku lebih banyak dari pada film-film yang kulihat sebelumnya.
Potret buram Indonesia dapat dilihat dari film itu. Terutama dalam pendidikan. Guru-guru bahkan kepala sekolah memiliki niat baik untuk meluluskan semua muridnya tapi caranya yang kurang tepat. Atas nama kedisiplinan para guru menghukum muridnya seperti latihan tentara.
Sebenarnya masih banyak yang bisa kutulis hari ini tentang Serdadu Kumbang dan siapa yang menemaniku. Tapi sayang, mata ini berat karena aktifitas yang belum kumanjakan dengan istirahat. Aku mau tidur dulu.

No comments:

Post a Comment