Monday, July 11, 2011

KAMIS, 7 JULI 2011

Lima dari Sembilan Kiai pendiri PKNU berhijrah ke PPP. Diantaranya, KH Abdullah Faqih Langitan, KH Mas Subadar Pasuruan, KH Idris Marzuki Lirboyo, almarhum KH Abdurrahman Khudlori Magelang dan KH Nawawi Abdul Jalil Sidogiri. Mereka adalah kiai yang kharismatik sekali dan memiliki "massa santri" yang banyak.
Sekilas para kiai terkesan tidak istiqomah dengan partainya. Atau jangan-jangan mereka memiliki pemahaman tentang istiqomah yang sempit sehingga dulu waktu aku di pesantren, seringkali santri mengatakan bahwa tempat duduk yang tepat adalah bentuk terjemahan istiqomah. Sholat berjama'ah tiap hari dan membaca wirid-wirid tertentu secara rutin tiap hari adalah istiqomah. Bisa dibilang bahwa bagi mereka istiqomah cukup dipahami melakukan aktifitas secara rutin. Sekedar itu saja.
Contoh yang disebutkan di atas mengindikasikan bahwa istiqomah bagi sebagian kalangan kiai santri hanya sebagai istiqomah dalam amalan individual saja. Untuk berpolitik dan berideologi mereka tidak bisa istiqomah tapi terombang-ambing oleh retorika para politisi yang mendekati.
Contohnya dengan para kiai di atas. Sebelum reformasi mereka bersatu dala wadah PPP, kemudian Gus Dur membuat partai baru bernama PKB, banyak kiai di Indonesia berpaling dari PPP dan masuk PKB. Kemudian setelah terjadi "pertiakian" internal di PBK, para kiai mengalami frustasi dan mendirikan PKNU dengan motor Khoirul Anam yang kalah dalam muktamar PKB.
Setelah suara PKNU tidak sesuai harapan dan tidak bisa menembus parlemen, PPP melalui menteri agama, Suryadharma Ali, kembali membujuk kiai agar berhijrah ke PPP. Malang nian nasib para kiai. Mereka tak bisa istiqomah dalam berpolitik. Wawasan tentang politik yang kurang memadai mengakibatkan mereka tak bisa seperti Gus Dur yang berjalan lurus.
Sebenarnya tak ada salahnya kiai untuk berpolitik tapi mereka harus memiliki pandangan fikh siyasah (ideologi politik) yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing. Sebab jika hanya ikut-ikutan, kasihan santri dan para pengikutnya. Selama ini banyak sekali orang-orang yang sendiko dawuh pada kiai bahkan dalam berpolitik dengan mengatasnamakan tabarruk.

No comments:

Post a Comment