Sunday, July 3, 2011

SABTU, 2 JULI 2011

MUALLIF, HAVI DAN AKU
Aku teringat peristiwa lima tahun lalu. Sebuah peristiwa yang dialami oleh tiga santri. Ketiga aktor itu adalah aku, Havi dan Muallif. Bukan cerita yang penting tapi hanya sebuah refleksi untuk diriku sendiri. Sepertinya aku pernah menyindir dalam ceritaku sebelumnya.
Suatu malam aku dan Havi mengalami kegalauan di pondok. Kami memutuskan untuk berkontemplasi bersama di ruang osis yang suram, gelap dan sempit. Kami mengambil kunci osis dari lemari sekretaris osis tanpa izin. Aku dan Havi merasa memiliki hak atas fasilitas ruang osis karena kami juga pengurus osis.
Dalam ruang osis kami bermain-main dengan komputer tua dengan aplikasi yang sangat terbatas. Banyak nyamuk kelaparan yang menjengkelkan. Tapi kami bisa menikmatinya karena tiada hiburan yang sanggup menyegarkan pikiran selain komputer tua itu. Seingatku waktu itu malam sudah larut. Pondok sudah sepi.
Kami menutup ruang osis dari dalam takut ketahuan pengurus pondok atau santri-santri lain. Meskipun bukan maksiat, kami malu jika menggunakan komputer hanya untuk main-main saja. Sudah beberapa kali aku melakukan hal itu.
Namun malam itu cukup sial. Di saat kami sedang asyik bermain komputer, kudengar suara aneh dari pintu luar. Sepertinya ada yang mau menggoda kami entah manusia atau bukan. Kami merasa cemas dengan suara itu. Akupun mengecek pintu. Sial, ternyata ada yang mengunci kami dari luar. Entah siapa, kami tak tahu. Karena kekhawatiran itu, kami berfikir mencari jalan keluar. Untungnya kudapati jendela kecil yang bisa dilewati oleh badanku yang kecil. Aku bisa keluar. Alhamdulillah
Setelah keluar, kami mencoba berspekulasi siapa gerangan yang mengunci kami. Spekulasiku dan Havi menemukan kesepakatan bahwa Muallif, ketua umum osis lah yang mengunci kami. Dan spekulasi kami benar. Agar Muallif tidak tahu bahwa aku dan Havi yang berada di dalam, kami pun berjalan diam-diam untuk menghindari pandangan Muallif yang sedang berkontemplasi di lantai dua gedung sekolah. Tapi usaha kami gagal. Muallif tahu bahwa kami lah yang berada dalam ruang osis itu. Kami malu tapi apa boleh buat. Muallif hanya menyindir kami dan akhirnya kita bertiga berbincang-bincang ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas. Ya, saat itu kami memang manusia-manusia malam yang tidur di waktu siang.
Aku tak tahu jalan pikiran Muallif. Dia manusia cerdas, supel dan memiliki emosional yang bagus. Wajar jika akhirnya dia terpilih menjadi ketua osis. Sedang Havi, dia manusia unik, aneh, inovatif dan antikemapanan yang tak kuketahui cara berpikirnya. Hanya saja Havi memang ringan tangan, suka membantu dan sedikit bicara. Jika sudah bicara, pasti menimbulkan gelak tawa. Itulah Havi.
Lima tahun kemudian jalan kami berbeda. Setelah keluar dari pondok, aku tak tahu kabar Muallif, dia pulang kampung ke Pekalongan. Pernah suatu saat dia mengutarakan niatnya untuk melanjutkan kuliah di Semarang. Tapi setelah lama kutunggu kabarnya, malah kumendengar berita bahwa dia sedang sakit parah. Kabar terakhir dan paling akhir, beberapa bulan yang lalu Allah memanggilnya untuk menghadapnya.
Lalu Havi. Dia memilih melanjutkan karirnya di pondok. Dia berhasil menjadi operator tetap MBS FM, bahkan sesekali dia menjadi penyiar di MBS FM. Setiap kali aku ke pondok, pasti aku mencarinya sebab letak studio radio berada di samping gerbang masuk pondok. Dia memang teman yang egaliter, bisa berteman dengan siapapun tanpa pandang bulu. Aku pun bisa akrab dengannya. Seringkali dia menceritakan keberhasilannya menjadi blogger, mengkisahkan tentang cintanya dan semua keberhasilan yang membanggakan seorang Havi.
Dengan sikap dan komitmennya itu, dia berhasil menarik perhatian sebagian besar santri hingga diapun menjadi presiden fakultas dakwah di Inkafa. Namun, hari ini dia telah meninggalkan cerita tak penting yang kutulis di atas untuk selamanya. Dia menjadi kenangan bagi orang-orang yang pernah mendapatkan perbuatan baiknya.
Dan kini, dari ketiga aktor yang bermain dalam skenario pendek di atas, hanya tinggal Rizal Mubit yang masih bermain dalam skenario kehidupan. Episode Havi dan Muallif sudah selesai. Entah kapan penulis skenario akhirnya mengutus izrail untuk mencabut nyawa aktor terakhir itu. Bagaimanapun, Rizal Mubit harus bersiap-siap untuk menunggu jemputan Izrail. Entah bagaimana cara Pencabut nyawa itu melaksanakan tugasnya mengantarkan aktor terakhir itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Yang terpenting bagi aktor terakhir adalah persiapan matang untuk melaporkan pertanggungjawabannya atas nafas yang dihirupnya, atas darah yang mengalir di tubuhnya, atas jantung yang berdetak setiap detikya, atas langkah kaki dan semuanya. Wa ila Allahi turja'ul umur.

No comments:

Post a Comment