Dalam suasana LK 2 di Surabaya, aku merasa malas menulis. Harus memaksa diri untuk bisa menuangkan pikiran-pikiran ke dalam tulisan. Pertama yang ingin kutulis adalah tentang kualitas mahasiswa yang mmeprihatinkan. Ternyata masih banyak yang baca Quran plegak-pleguk. Tak tahu bacaan-bacaanya. Dalam hal ini aku harus bersyukur sebesar-besarnya dilahirkan di desa dukuan. Sejak kecil sudah diajari baca tulis Quran.
Masalah wawasan keislaman pun sangat memprihatinkan. Masalah rukun iman dan islam saja masih kebingungan padahal sudah mahasiswa. Berapa juta mahasiswa yang tak tahu dan tak mau tahu dasar-dasar keislaman. Kasihan sekali Indonesia. Generasinya masih belum bisa mementingkan kebutuhan spiritual.
Di sela-sela waktu, aku sempat diskusi dengan cak Zainuri, alumni mambaus Sholihin yang sedang menempuh S2 di IAIN sunan ampel. Setelah dia puas bercerita tentang kekasihnya dia menceritakan tentang salah seorang kakak kelasku di Semarang, penerima beasiswa santri berprestasi sepertiku. Dia mengeluhkan tentang pikirannya yang tak bisa dewasa. Cak Zain berpikir penyebabnya karena dia lulus prematur. Hanya tujuh semester.
Sebelumnya, saat tasyakuran wisuda, aku sudah menyindirnya dalam catatanku, bahwa lulus cepat bukanlah prestasi. Dan sekarang terbukti, ternyata pikiran belum matang ketika sudah lulus. Berulang kali harus kuakui, bahwa secara prosedural semua orang bisa menjadi sarjana yang bisa lulus dengancepat. Tapi secara kualitas dan kapasitas, perlu dipertanyakan. Tergantung bagaimana dia mengisi waktu-waktunya selama kuliah. Selagi mahasiswa sering diskusi, membaca dan mengikuti dinamika kemahasiswaan dalam sebuah oganisasi atau masyarakat, aku yakin dia akan bisa berpikir dewasa. Bukan malah menjadi orang yang lari dari kenyataan. Cukup sampai disini catatan hari ini. Surabaya banyak nyamuknya.
Saturday, July 30, 2011
SABTU, 23 JULI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment