Perjalanan menuju rumah yang biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Naik kereta ekonomi sampai Bojonegoro terus dilanjutkan kereta jurusan Surabaya turun Gembong.
Suasana kereta yang semakin akrab denganku. Pedagang asongan yang gemuk-gemuk, penjual nasi pecel, penumpang sesak dan yang paling kubenci, asap rokok. Semuanya bersatu membuat sebuah simphoni cinta yang indah. "Es....aqua....mizone, rokok...tisu....pecel....kripik tempe....sale...kipas....air....." Kata-kata itu seolah menjadi zikir yang dibaca berulang-ulang. Pembacanya berharap agar zikir itu menghasilkan rezeki halal dari kantong penumpang yang bermacam-macam. Ada mahasiswa sepertiku, ada petani, pegawai, pekerja srabutan, dan manusia-manusia Indonesia yang ingin masih setia dengan transportasi murah meski tak nyaman.
Itulah salah satu drama kehidupan di Indonesia. Sebuah drama Yang tiap hari, episode-episodenya menayangkan tentang kehidupan yang susah, kehidupan yang payah, kehidupan yang jauh dari sejahtera. Entah siapa yang jadi tokoh utama dalam drama itu. Yang pasti tokoh antagonis dan protagonis pasti ada meskipun sulit mendeteksinya.
Gaya bicara orang Jawa Tengah memang lebih lembut daripada Jawa Timur, tapi wataknya tak berbeda. Penjahat, preman, dan sifat antagonis lainnya masih bisa bertahan dalam tiap episode. Tapi hari ini untuk segmen Semarang-Bojonegoro tak ada konflik. Hanya asap rokok saja yang masih tak bisa dihindari. Para perokok yang tak bisa dideteksi masuk kategori penokohan baik atau jahat.
Berbeda dengan segmen Bojonegoro-Gembong, pengamen-pengamen bermental preman dan sok artis seringkali bikin ulah dan membuat kondisi tak nyaman. Mereka seolah memaksa penumpang untuk memberinya upah atas lagu tak jelas yang dinyanyikannya.
Salah satu rombongan pengamen membuatku tercengang. Dia memakai kaos Cressida yang harganya saja sama dengan jatah makanku lebih dari seminggu. Tadi malam aku hanya bisa memegang-megang kainnya. Aku tak "mampu" membelinya.
Lalu, saat aku singgah di musholla kampung dekat stasiun, aku harus sedikit kecewa. Renovasi yang tlah dilakukan mulai beberapa bulan yang lalu masih belum selesai. Entah karena kendala biaya atau apa. Tak jauh dari musholla itu, berdiri distro baru yang sebelumnya saat musholla mulai direnovasi, tak pernah kulihat fondasi dari distro itu. Entah kenapa episode seperti itu masih dimainkan.
Saturday, July 16, 2011
SELASA, 12 JULI 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment