Oleh: Rizal Mubit
Aku sudah terlatih untuk tidak merawat harapan pada
wanita cantik yang baru kutemui. Tapi, untuk tidak melestarikan
keinginan kepada seorang hafidah berkacamata sepertimu? Aku bagai
seorang mahasiswa baru yang harus diplonco oleh senior dalam agenda
ospek. Daif sekali diri ini, lemah tak berdaya. Segala kepongahanku
selaksa dicincang oleh warna coklat lumpur matamu.
Aku sadar, membiarkan diri berharap sama halnya
mematikan rokok dengan menusukkan baranya ke telapak tangan. Ada perih
tertahan demi api yang harus diredupkan. Sedang baranya, suatu saat
akan menyala-nyala, boleh membakar walau kadang pula menghangatkan.
Duhai hafidah, harapan adalah energi yang membuat
manusia bertahan hidup. Sedang harapanku tak serumit keinginan Hitler
untuk menguasai dunia dengan alasan yang mengada-ada, terlahir sebagai
ras Arya. Harapanku sederhana, ingin tahu bagaimana reaksimu setelah
kita bertemu pada suatu malam di bawah suara ritmis gerimis yang tak
kunjung terang.
Aku harus menerima dengan lapang dada bahwa
perjumpaan singkat ini bukan salah security yang menghalangi kita
berbincang lebih lama. Dia menjalankan tugasnya dengan baik. Ini hanya
karena aku yang kepalang lancang datang malam-malam ke pesantren putri.
Tapi aku percaya, perjumpaan yang berlangsung tak lebih dari semenit
tadi adalah semacam rangkaian takdir yang sudah diatur semenjak zaman
azali.
Aku datang dengan kondisi yang tak istimewa, dengan
jaket hitam dan bersarung putih. Maaf aku lupa tak melepas helm
sehingga kamu tak leluasa membandingkan antara fotoku di dunia maya dan
rupaku di kehidupan nyata. Bagaimanapun aku menebak kau juga ingin
melihatku dari jarak dekat, sama sepertiku.
Barangkali kedatanganku menerjang genangan air pada
lubang-lubang aspal di jalur perbatasan Blitar-Malang dan menahan rem
di jalan naik turun berkelok selama dua jam adalah hasil dari
persekongkolan antara takdir dan keinginanku untuk melihatmu sejenak.
Walau sebelum aku berangkat, kau mengungkap kata yang membuatku
bimbang.
"Maaf tak bisa menemui. Titipkan saja bukunya di Security."
Adalah ragu yang menjadi lawan terberatku, untuk
tetap pergi di musim hujan atau berbalik arah, bercengkerama dengan
buku di dalam kamar. Yang memantapkanku ialah amunisi yang membuatku
seolah berhasrat untuk melengkapi sajak-sajak yang tak selesai, dimana
bait terakhirnya adalah kamu yang harus kutemui malam ini.
Puisi yang kutulis bermula saat kamu bercerita,
pernah mencoba menjadi sahabat dekat setia, tapi itu bukan untukku,
untuk orang lain yang kausangka menyayangimu. Walau pada akhirnya kau
harus mendapatkan pelajaran, yang menakutkan bukanlah teror bom
melainkan memelihara harapan pada seorang penghianat. Hatimu ditikam
tanpa senjata di saat ada begitu banyak tugas menunggu untuk
diselesaikan.
Kau memang berhasil untuk pura-pura tegar, tetap
mengumbar senyuman di hadapan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang
penderitaan. Tapi kegetiran serupa bom waktu, meledak di saat kau tak
siap bertahan sampai kau pun melarikan diri demi menjaga jarak tanpa
pamitan.
"Itu sudah terjadi lama sekali. Aku sudah memaafkannya." katamu.
Ya. Barangkali karena kau juga menyadari, tak ada
artinya membiarkan sesak di hati karena sejatinya tak ada yang lebih
kesepian dan menahan dongkol dibandingkan Tuhan yang Maha Sendiri.
Kau lupa bahwa perjumpaan selalu memberikan buku
panduan untuk menjalani perpisahan. Kita harus membacanya sejak awal
sebab kehilangan adalah keniscayaan yang akan melahirkan keresahan.
Awalnya aku tak ingin membacamu seperti orang-orang
yang pernah baru kutemui. Aku ingin terus membiarkanmu menjadi
teka-teki walaupun gara-gara tulisanku, kita sudah pernah berdebat
tentang manakah yang lebih humanis di antara negara-negara yang
terlibat perang dunia kedua. Jepang atau Amerika?
“Sangat tak setuju kaubilang Amerika ngajari Jepang
pasca World War 2. Dia tetap materialisme saat itu. Kau bisa ganti
Amerika dengan Jepang. Kau bisa lihat dia waktu jajah Indonesia.
Menurutku itu lebih tepat,” katamu.
Apanya yang humanis? Jepang itu tega bunuhin orang-orang kita.
“Baca dulu sejarahnya. Tulisanmu itu tak berdasar.
Jepang mengembangkan teknologi karena memang itu yang secara independen
bisa dikembangkan bukan karena dia diajari Amerika. Tapi pangkalan
militernya, Okinawa diambil alih sekutu sebagai tumbal kalah perang
untuk ngawasi Asia tenggara biar Uni Soviet terhambat perkembangannya.
Sementara Jepang sudah ngajari petinggi Indonesia, beda dengan Belanda.
Masyumi itu kan juga lahir pada zaman Jepang. Intinya semua Negara
waktu itu pasti bunuh-bunuhan, termasuk Amerika. Tinggal bedanya mereka
memberi mata kail atau ikan pada negara jajahannya.”
Kau menusukku dengan buku sejarah versimu. Aku punya
versi sendiri dari buku-buku sejarah yang kubaca. Sampai akhirnya kau
pun kesal.
"Kau lupa, aku sarjana hubungan internasional." katamu.
Aku ingat kalau aku sudah terlalu percaya diri,
berani berdebat dengan sarjna Hubungan Internasional tentang kebijakan
politik pada perang dunia dua. Tapi aku masih tetap dengan pendirianku.
"Sesekali bacalah media agar tahu kebijakan politik negara maju." lanjutmu.
Ah, maaf. Aku sudah tak bisa percaya dengan media
apapun. Aku tak mau setuju denganmu. Ada belasan buku yang menjadikan
kita semakin berbeda pandangan pada sejarah. Sampai kita berada pada
simpulan bahwa berita dan sejarah tak lebih jujur dari pada bait-bait
puisi.
Siapa yang lebih benar di antara kita, Tuhan yang
lebih tahu, Wallahu a’lam bis showab. Tentunya, siapa pun yang lebih
humanis, penjajahan tetaplah perbuatan keji. Serupa kekejian penghianat
yang masih tega meminjam uang padamu untuk biaya lamaran.
Satu yang kita sepakati, perdebatan ini tak lebih
penting dari pada memikirkan nasib para bujang di desaku yang tak
kunjung beristri atau tentang padi yang tak berdaya melawan hama.
Hanya aku memendam rasa penasaran. Mengapa kau begitu
enggan membicarakan tujuan hidupmu. Apa kamu takut ada satu setan
menguntit, ikut mendengarkan perbicangan tentang cita-cita yang maha
mulia? Itu rahasiamu.
Adakah sesuatu di kemudian hari menjadikan kita tak
percaya bahwa manusia punya derajat berbeda di hadapan duka? Atau
datang suatu perkara yang secara tiba-tiba membuat kamu merasa lebih
tahu kehendak Tuhan dengan mengatakan.
“Berjodohkah kita?”
Seperti dulu saat kau tiba-tiba menodongku dengan
lagu-lagu berbahasa Perancis yang jangankan kupahami, mengeja liriknya
pun aku tak bisa. Hanya nama penyanyinya yang kutahu, Carla Bruni dan
Christophe Mae. Atau waktu kamu menyerangku dengan pertanyaan, adakah
mesin penenun hujan seperti judul lagu Frau?
Ah, biar itu tidak pernah terjawab hari ini. Kelak
satu diantara kita akan tahu sebagaimana kita dulu tak pernah tahu jadi
apa kita hari ini. Kau jadi hafidah dan aku tetap begini, jadi lelaki
gegabah dalam menjawab segala pertanyaan. Seperti pertemuan ini yang
kuberi nama, ta’aruf di luar standar manusia modern.
Ya, kita bukan manusia primitif. Tapi kita pasti tak
setuju dengan perlakuan belasan pasang kekasih yang thawaf sambil
bergandeng tangan di alun-alun kota Batu seraya melirik hiasan pada
lampu bianglala.
Aku jadi berpikir, jika Malang berhias mantan, maka
Batu berhati tenteram. Itu pun jika kau mau menerima kedaifanku yang
tak mampu menyingkirkan harapan untuk mengajakmu menjadi teman hidup
yang mengakrabiku saat malam bergerimis dan membangunkanku dengan
senyuman yang manis. Lalu kita berjalan ke musholla untuk sebuah
aktifitas yang dilakukan oleh sedikit pasangan di dunia. Kamu menghafal
Quran sedang aku menjelaskan isinya.
Jika itu tak terjadi, maka aku dengan segala yang fana
di alam semesta harus mampu memukul mundur keegoisanku yang berganti
nama menjadi rasa cemburu. Lalu aku untuk kesekian kali harus insaf
bahwa kebaikan tidak selamanya dibalas dengan hal serupa, begitu pula
perasaan yang kekanak-kanakan ini takkan selalu linear dengan keluhuran
harapan untuk memilikimu. Walau demikian aku tetap harus mengutarakan
bahwa yang kuinginkan adalah kamu.
Sumber, 13 Desember 2014
Monday, December 15, 2014
YANG KUINGINKAN ADALAH KAMU (86)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
ehemmmm,,,,,,,,,,,,,
ReplyDeleteSeorang hafidhoh bagi seseorang sungguh mulya adanya
Dapatkan demi sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya