Monday, December 15, 2014

YANG KUINGINKAN ADALAH KAMU (86)

Oleh: Rizal Mubit

Aku sudah terlatih untuk tidak merawat harapan pada wanita cantik yang baru kutemui. Tapi, untuk tidak melestarikan keinginan kepada seorang hafidah berkacamata sepertimu? Aku bagai seorang mahasiswa baru yang harus diplonco oleh senior dalam agenda ospek. Daif sekali diri ini, lemah tak berdaya. Segala kepongahanku selaksa dicincang oleh warna coklat lumpur matamu.

Aku sadar, membiarkan diri berharap sama halnya mematikan rokok dengan menusukkan baranya ke telapak tangan. Ada perih tertahan demi api yang harus diredupkan. Sedang baranya, suatu saat akan menyala-nyala, boleh membakar walau kadang pula menghangatkan.

Duhai hafidah, harapan adalah energi yang membuat manusia bertahan hidup. Sedang harapanku tak serumit keinginan Hitler untuk menguasai dunia dengan alasan yang mengada-ada, terlahir sebagai ras Arya. Harapanku sederhana, ingin tahu bagaimana reaksimu setelah kita bertemu pada suatu malam di bawah suara ritmis gerimis yang tak kunjung terang.

Aku harus menerima dengan lapang dada bahwa perjumpaan singkat ini bukan salah security yang menghalangi kita berbincang lebih lama. Dia menjalankan tugasnya dengan baik. Ini hanya karena aku yang kepalang lancang datang malam-malam ke pesantren putri. Tapi aku percaya, perjumpaan yang berlangsung tak lebih dari semenit tadi adalah semacam rangkaian takdir yang sudah diatur semenjak zaman azali.

Aku datang dengan kondisi yang tak istimewa, dengan jaket hitam dan bersarung putih. Maaf aku lupa tak melepas helm sehingga kamu tak leluasa membandingkan antara fotoku di dunia maya dan rupaku di kehidupan nyata. Bagaimanapun aku menebak kau juga ingin melihatku dari jarak dekat, sama sepertiku.

Barangkali kedatanganku menerjang genangan air pada lubang-lubang aspal di jalur perbatasan Blitar-Malang dan menahan rem di jalan naik turun berkelok selama dua jam adalah hasil dari persekongkolan antara takdir dan keinginanku untuk melihatmu sejenak. Walau sebelum aku berangkat, kau mengungkap kata yang membuatku bimbang.

"Maaf tak bisa menemui. Titipkan saja bukunya di Security."

Adalah ragu yang menjadi lawan terberatku, untuk tetap pergi di musim hujan atau berbalik arah, bercengkerama dengan buku di dalam kamar. Yang memantapkanku ialah amunisi yang membuatku seolah berhasrat untuk melengkapi sajak-sajak yang tak selesai, dimana bait terakhirnya adalah kamu yang harus kutemui malam ini.

Puisi yang kutulis bermula saat kamu bercerita, pernah mencoba menjadi sahabat dekat setia, tapi itu bukan untukku, untuk orang lain yang kausangka menyayangimu. Walau pada akhirnya kau harus mendapatkan pelajaran, yang menakutkan bukanlah teror bom melainkan memelihara harapan pada seorang penghianat. Hatimu ditikam tanpa senjata di saat ada begitu banyak tugas menunggu untuk diselesaikan.

Kau memang berhasil untuk pura-pura tegar, tetap mengumbar senyuman di hadapan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang penderitaan. Tapi kegetiran serupa bom waktu, meledak di saat kau tak siap bertahan sampai kau pun melarikan diri demi menjaga jarak tanpa pamitan.

"Itu sudah terjadi lama sekali. Aku sudah memaafkannya." katamu.

Ya. Barangkali karena kau juga menyadari, tak ada artinya membiarkan sesak di hati karena sejatinya tak ada yang lebih kesepian dan menahan dongkol dibandingkan Tuhan yang Maha Sendiri.

Kau lupa bahwa perjumpaan selalu memberikan buku panduan untuk menjalani perpisahan. Kita harus membacanya sejak awal sebab kehilangan adalah keniscayaan yang akan melahirkan keresahan.

Awalnya aku tak ingin membacamu seperti orang-orang yang pernah baru kutemui. Aku ingin terus membiarkanmu menjadi teka-teki walaupun gara-gara tulisanku, kita sudah pernah berdebat tentang manakah yang lebih humanis di antara negara-negara yang terlibat perang dunia kedua. Jepang atau Amerika?

“Sangat tak setuju kaubilang Amerika ngajari Jepang pasca World War 2. Dia tetap materialisme saat itu. Kau bisa ganti Amerika dengan Jepang. Kau bisa lihat dia waktu jajah Indonesia. Menurutku itu lebih tepat,” katamu.

Apanya yang humanis? Jepang itu tega bunuhin orang-orang kita.

“Baca dulu sejarahnya. Tulisanmu itu tak berdasar. Jepang mengembangkan teknologi karena memang itu yang secara independen bisa dikembangkan bukan karena dia diajari Amerika. Tapi pangkalan militernya, Okinawa diambil alih sekutu sebagai tumbal kalah perang untuk ngawasi Asia tenggara biar Uni Soviet terhambat perkembangannya. Sementara Jepang sudah ngajari petinggi Indonesia, beda dengan Belanda. Masyumi itu kan juga lahir pada zaman Jepang. Intinya semua Negara waktu itu pasti bunuh-bunuhan, termasuk Amerika. Tinggal bedanya mereka memberi mata kail atau ikan pada negara jajahannya.”

Kau menusukku dengan buku sejarah versimu. Aku punya versi sendiri dari buku-buku sejarah yang kubaca. Sampai akhirnya kau pun kesal.

"Kau lupa, aku sarjana hubungan internasional." katamu.

Aku ingat kalau aku sudah terlalu percaya diri, berani berdebat dengan sarjna Hubungan Internasional tentang kebijakan politik pada perang dunia dua. Tapi aku masih tetap dengan pendirianku.

"Sesekali bacalah media agar tahu kebijakan politik negara maju." lanjutmu.

Ah, maaf. Aku sudah tak bisa percaya dengan media apapun. Aku tak mau setuju denganmu. Ada belasan buku yang menjadikan kita semakin berbeda pandangan pada sejarah. Sampai kita berada pada simpulan bahwa berita dan sejarah tak lebih jujur dari pada bait-bait puisi.

Siapa yang lebih benar di antara kita, Tuhan yang lebih tahu, Wallahu a’lam bis showab. Tentunya, siapa pun yang lebih humanis, penjajahan tetaplah perbuatan keji. Serupa kekejian penghianat yang masih tega meminjam uang padamu untuk biaya lamaran.

Satu yang kita sepakati, perdebatan ini tak lebih penting dari pada memikirkan nasib para bujang di desaku yang tak kunjung beristri atau tentang padi yang tak berdaya melawan hama.

Hanya aku memendam rasa penasaran. Mengapa kau begitu enggan membicarakan tujuan hidupmu. Apa kamu takut ada satu setan menguntit, ikut mendengarkan perbicangan tentang cita-cita yang maha mulia? Itu rahasiamu.

Adakah sesuatu di kemudian hari menjadikan kita tak percaya bahwa manusia punya derajat berbeda di hadapan duka? Atau datang suatu perkara yang secara tiba-tiba membuat kamu merasa lebih tahu kehendak Tuhan dengan mengatakan.

“Berjodohkah kita?”

Seperti dulu saat kau tiba-tiba menodongku dengan lagu-lagu berbahasa Perancis yang jangankan kupahami, mengeja liriknya pun aku tak bisa. Hanya nama penyanyinya yang kutahu, Carla Bruni dan Christophe Mae. Atau waktu kamu menyerangku dengan pertanyaan, adakah mesin penenun hujan seperti judul lagu Frau?

Ah, biar itu tidak pernah terjawab hari ini. Kelak satu diantara kita akan tahu sebagaimana kita dulu tak pernah tahu jadi apa kita hari ini. Kau jadi hafidah dan aku tetap begini, jadi lelaki gegabah dalam menjawab segala pertanyaan. Seperti pertemuan ini yang kuberi nama, ta’aruf di luar standar manusia modern.

Ya, kita bukan manusia primitif. Tapi kita pasti tak setuju dengan perlakuan belasan pasang kekasih yang thawaf sambil bergandeng tangan di alun-alun kota Batu seraya melirik hiasan pada lampu bianglala.

Aku jadi berpikir, jika Malang berhias mantan, maka Batu berhati tenteram. Itu pun jika kau mau menerima kedaifanku yang tak mampu menyingkirkan harapan untuk mengajakmu menjadi teman hidup yang mengakrabiku saat malam bergerimis dan membangunkanku dengan senyuman yang manis. Lalu kita berjalan ke musholla untuk sebuah aktifitas yang dilakukan oleh sedikit pasangan di dunia. Kamu menghafal Quran sedang aku menjelaskan isinya.

Jika itu tak terjadi, maka aku dengan segala yang fana di alam semesta harus mampu memukul mundur keegoisanku yang berganti nama menjadi rasa cemburu. Lalu aku untuk kesekian kali harus insaf bahwa kebaikan tidak selamanya dibalas dengan hal serupa, begitu pula perasaan yang kekanak-kanakan ini takkan selalu linear dengan keluhuran harapan untuk memilikimu. Walau demikian aku tetap harus mengutarakan bahwa yang kuinginkan adalah kamu.

Sumber, 13 Desember 2014

1 comment:

  1. ehemmmm,,,,,,,,,,,,,
    Seorang hafidhoh bagi seseorang sungguh mulya adanya
    Dapatkan demi sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya

    ReplyDelete