15 Januari 2015
Sampai kapan aku berpikir begini? Menganggap setia adalah suatu yang fana, kecuali pada Tuhan yang kuagungkan dan agama yang kutakutkan. Pada selainnya, tak pernah ada yang disebut setia.
Sampai kapan aku berpikir begini? Menganggap setia adalah suatu yang fana, kecuali pada Tuhan yang kuagungkan dan agama yang kutakutkan. Pada selainnya, tak pernah ada yang disebut setia.
Apa mungkin nikah mut'ah itu sebagai sebuah solusi bagi
orang-orang yang tak mampu setia dalam kurun waktu yang lama sepertiku? Kata
temanku tidak. Dia bilang masih ada psikiater. Kesimpulannya aku ini tengah
sakit jiwa yang bisa disembuhkan. Tapi aku merasa sehat-sehat saja. Kejiwaanku
selama ini kuanggap normal.
Ah, ada-ada saja aku ini. Jelas pernikahan mut'ah itu hanya
dibenarkan oleh sekte syi'ah. Selainnya, tidak pernah ada. Justru malah
mengharamkan dengan dalil-dalil naqli dan aqli.
Akhir-akhir ini, aku pun merasakan ketidaksetiaanku kepada
aliran agama yang kuanut. Sepertinya sudah bosan dengan pemikiran keagamaan
yang kuikuti. Ingin rasanya pindah aliran. Bukan pindah agama atau ganti
kekasih.
Semoga nanti ada sesuatu yang membuat cara berpikirku berubah.
Yang penting sekarang adalah mempertanyakan sejarah. Mengapa di
buku-buku sejarah sekolah tak ada kerajaan Malwapati? Apa Angling Dharma itu
cuma mitos? Kenapa juga pada zaman kerajaan di Nusantara tak ada kisah tentang
lembaga pendidikan? Adanya candi-candi dan perluasan wilayah. Sementara pada
waktu dinasti Seljuk ada madrasah Nidhomiyah yang menghasilkan ulama keren
seperti Imam Ghozali dan Al Qusyairi? Atau pada masa Fatimiah muncul Al Azhar.
Terus bagaimana kurikulum di Madrasah
Nidhamiyah itu sehingga bisa melahirkan ulama sekaliber mereka?
Aku membaca lagi buku Murtadha
Muthahari. Sudah sampai pada bab yang menjelaskan persoalan takdir Tuhan. Ada pandangan
berbeda antara pemikiran asyary yang selama ini kupelajari dengan pemikiran
filsafat Muthahari.
Sebagai orang yang terlahir di
lingkungan Asy’ary dan pernah juga mengajar akidah asyariyah, justru aku tak
menemukan kepuasan argumentasi takdir yang disampaikan Syaikh Nawawi dalam
kitab nurud dholam dan Fathul Madjid. Kepuasan itu muncul saat aku membaca
filsafat Syiah yang ada dalam buku Murtadha Muthahari.
Apa ini aku berarti aku perlu untuk
pindah mazhab syiah?
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteTidak adil mengatakan "Setia itu Fana" hanya gara-gara sering dikhianati. Apalagi hingga sembrono berpindah keyakinan
ReplyDeleteTerdengar Liberal...
Masak kalah sama anjingnya Ashabul Kahfi.
Aku percaya kesetiaan itu bukan fatamorgana dan bualan belaka. Hanya saja butuh darah juang yang arif untuk membuatnya menjadi kepribadiaan kita. :)
bukan karena dikhianati saja itu....
ReplyDelete