Wednesday, December 10, 2014

SIAPA PUN KAMU, AKU AKAN MENCINTAIMU (85)

Oleh: Rizal Mubit

Siapapun kamu, hari ini kita masih merasa asing satu sama lain. Seasing Jack saat pertama memandangi Rose di dek kapal. Aku belum tahu namamu, begitu juga kamu. Tapi Jack pada akhirnya berkenalan dalam adegan dramatis saat Rose membatalkan diri untuk mengakhiri hidupnya.

“I’m Jack Dawson.”

“Rose Dewitt Bukater.”

“I’m going to write your name.”

Kira-kira begitu mereka berkenalan. Tentu kita punya cerita yang berbeda. Yang boleh jadi disebabkan oleh perkenalan yang biasa-biasa saja.

Aku mengerti itu tak penting. Hanya aku berpikir bagaimana kelak kita akan berebut menu makanan apa yang kita hidangkan di waktu pagi. Aku suka sambal trasi dan kamu suka nasi goreng. Lalu kau merajuk kesekian kali agar aku mengalah dan memintaku membuat segelas teh tanpa gula.

Siapa pun kamu, nanti akan kuminta untuk membaca tulisan-tulisanku sebelum dibaca anak-anak kita yang beranjak dewasa. Tiap bulan kita ke toko buku bersama , emlihat anak-anak kita yang kembar memilih bacaan ensiklopedia.

Pada suatu waktu kau akan jengah membujukku agar mau mencuci baju sampai kau tahu bahwa aku memang malas bersih-bersih. Tapi aku takkan bosan menemanimu di depan mesin cuci sambil membuat sebuah puisi tentang istri yang tangannya penuh busa sabun cuci.

Kau pun akhirnya terbiasa melihatku diam di depan layar sementara kau sendiri sudah cukup terlena bersandar di pundakku. Jika malam datang, kau akan mendebatku untuk berhenti mengkonsumsi mie instan secara berlebihan. Sedang kamu sendiri kuminta untuk tidak lagi suka makan sereal. Kemudian kita berdamai sebab anak kita datang bertanya tentang siapa itu Imam Ghozali.

Siapapun kamu, apakah kamu tahu bahwa memasak adalah perkara penting yang harus dikuasai istri, bukan tentang kemampuanmu dalam berdiskusi atau menggunjingkan pemimpin yang tidak islami. Juga bukan keahlianmu menjual barang-barang murahan yang dihargai mahal karena sistem MLM, sembari menjanjikan sekarung harapan bahwa pembeli kelak bisa punya kapal pesiar.

Siapa pun kamu, nanti kau akan tertawa saat aku selalu menolak ajakanmu nonton film horror. Aku takut makhluk halus, aku benci suara teriakan orang ketakutan. Tapi kamu justru suka itu. Tak apa. Aku lebih suka kau begitu dari pada harus melihatmu manyun atau merengut karena tak kuberi uang belanja.

Siapapun kamu, yang mungkin masih sangat asing untukku. Kelak kau akan bertanya, mengapa memilih istri yang tak berpendidikan tinggi atau mengapa aku membuat tulisan ini? Nanti kau akan tahu jawabannya.

Yang perlu kita tahu, penderitaan tidak mengenal pangkat. Dia datang tanpa dinyana. Saat kau sedang memandikan bayi kita atau saat aku mencangkul tanah di sawah. Apa pun itu, aku adalah suamimu yang siap berkelahi dengan segala ancaman yang ingin merebut kebahagiaan.

Seperti halnya hidup. Terkadang kelak harus melakukan hal-hal yang kita benci demi membahagiakan orang-orang yang tak kita sukai. Kita perlu mempersiapkan semua. Bukan menyiapkan kapal besar untuk menerjang banjir, bukan pula menyiapkan uang berlimpah untuk menyuap takdir.

Kita hanya perlu keluasan dada untuk memahami bahwa kebahagiaan kita berbeda dengan standar mereka. Bahagia adalah tidur pulas setelah berjam-jam membaca buku, bahagia adalah kelelahan bekerja untukmu dan anak-anakku.

Siapapun dirimu, sejak sekarang kita harus sadar. Bahwa berumah tangga tidak melulu soal cinta. Hati kita boleh menyala-nyala. Namun kita tak perlu berlebihan dengan berkata, "Yang kita kerjakan harus didasari cinta."

Dua puluh tahun setelah pernikahan kau pasti tak lagi menarik seperti saat pertama jumpa, saat kita berhaha-hihi menerima ajakan foto handai taulan setelah resepsi.

Sedang hasratku sebagai lelaki akan tetap sama. Pada waktu itu kita akan berdebat soal poligami, saat anak-anak kita sedang berada di pondok.

"Aku setuju dengan poligami tapi tak mau dipoligami." jawabanmu mungkin begitu.

Tapi itu biasa saja. Yang tak boleh ada diantara kita adalah penghianatan. Aku sudah pernah dikhianati. Aku yakin kamu juga. Dan sekuat apapun manusia, sesabar apapun dia. Takkan ada yang berkata lantang sambil mendongakkan badan."Aku siap dihianati."

Aku pun demikian. Aku siap menjalani penderitaan apapun. Tapi aku tak siap dikhianati olehmu.

Kesetiaan harus dirawat, seperti merawat anak-anak kita sampai mereka dewasa,sampai ajal menjemput satu diantara kita. Tapi siapa pun kamu, saat ujian mendera aku ingin jadi alasanmu kembali bercahaya dan aku ingin menjadi alasanmu untuk tak tunduk pada duka.

Siapapun dirimu, kita belum pernah bertemu. Tapi aku percaya kalau kau juga sepakat untuk tidak menganggap hidup ini sederhana. Semua yang terjadi bahkan alasan mengapa kita tidak bertemu adalah akibat dari segala jenis keruwetan yang terjadi di alam semesta.

Boleh jadi ini juga diakibatkan oleh sesuatu yang sama sekali tak kita duga. Seperti kepak sayap kupu-kupu di belantara Afrika atau mayat-mayat yang dibunuh aparat di Papua.

Suatu hari nanti, satu diantara kita akan berkata, "Aku cinta kamu." dan satu yang lain mengatakan, "Aku tidak." Tapi pada akhirnya aku atau mungkin kamu merasakan kehilangan saat aku atau kamu pergi ke luar kota.

Siapapun kamu, aku percaya kelak akan mengalami susah fokus saat bekerja karena melihatmu yang tiba-tiba merias wajah. Kau datang dengan aroma harum bersandar di punggungku kemudian memberi kabar bahagia tentang anak-anak kita yang mewarisi sifat bapaknya.

Lantas aku menutup laptopku mendengarkanmu membacakanku buku baru sampai tertidur di pangkuanmu.

Siapapun kamu, aku akan mencintaimu.


Sumber, 10 Desember 2014

No comments:

Post a Comment