Oleh: Rizal Mubit
Siapapun kamu, hari ini kita masih merasa asing satu
sama lain. Seasing Jack saat pertama memandangi Rose di dek kapal. Aku
belum tahu namamu, begitu juga kamu. Tapi Jack pada akhirnya berkenalan
dalam adegan dramatis saat Rose membatalkan diri untuk mengakhiri
hidupnya.
“I’m Jack Dawson.”
“Rose Dewitt Bukater.”
“I’m going to write your name.”
Kira-kira begitu mereka berkenalan. Tentu kita punya
cerita yang berbeda. Yang boleh jadi disebabkan oleh perkenalan yang
biasa-biasa saja.
Aku mengerti itu tak penting. Hanya aku berpikir
bagaimana kelak kita akan berebut menu makanan apa yang kita hidangkan
di waktu pagi. Aku suka sambal trasi dan kamu suka nasi goreng. Lalu kau
merajuk kesekian kali agar aku mengalah dan memintaku membuat segelas
teh tanpa gula.
Siapa pun kamu, nanti akan kuminta untuk membaca
tulisan-tulisanku sebelum dibaca anak-anak kita yang beranjak dewasa.
Tiap bulan kita ke toko buku bersama , emlihat anak-anak kita yang
kembar memilih bacaan ensiklopedia.
Pada suatu waktu kau akan jengah membujukku agar mau
mencuci baju sampai kau tahu bahwa aku memang malas bersih-bersih. Tapi
aku takkan bosan menemanimu di depan mesin cuci sambil membuat sebuah
puisi tentang istri yang tangannya penuh busa sabun cuci.
Kau pun akhirnya terbiasa melihatku diam di depan
layar sementara kau sendiri sudah cukup terlena bersandar di pundakku.
Jika malam datang, kau akan mendebatku untuk berhenti mengkonsumsi mie
instan secara berlebihan. Sedang kamu sendiri kuminta untuk tidak lagi
suka makan sereal. Kemudian kita berdamai sebab anak kita datang
bertanya tentang siapa itu Imam Ghozali.
Siapapun kamu, apakah kamu tahu bahwa memasak adalah
perkara penting yang harus dikuasai istri, bukan tentang kemampuanmu
dalam berdiskusi atau menggunjingkan pemimpin yang tidak islami. Juga
bukan keahlianmu menjual barang-barang murahan yang dihargai mahal
karena sistem MLM, sembari menjanjikan sekarung harapan bahwa pembeli
kelak bisa punya kapal pesiar.
Siapa pun kamu, nanti kau akan tertawa saat aku selalu
menolak ajakanmu nonton film horror. Aku takut makhluk halus, aku benci
suara teriakan orang ketakutan. Tapi kamu justru suka itu. Tak apa. Aku
lebih suka kau begitu dari pada harus melihatmu manyun atau merengut
karena tak kuberi uang belanja.
Siapapun kamu, yang mungkin masih sangat asing
untukku. Kelak kau akan bertanya, mengapa memilih istri yang tak
berpendidikan tinggi atau mengapa aku membuat tulisan ini? Nanti kau
akan tahu jawabannya.
Yang perlu kita tahu, penderitaan tidak mengenal
pangkat. Dia datang tanpa dinyana. Saat kau sedang memandikan bayi kita
atau saat aku mencangkul tanah di sawah. Apa pun itu, aku adalah suamimu
yang siap berkelahi dengan segala ancaman yang ingin merebut
kebahagiaan.
Seperti halnya hidup. Terkadang kelak harus melakukan
hal-hal yang kita benci demi membahagiakan orang-orang yang tak kita
sukai. Kita perlu mempersiapkan semua. Bukan menyiapkan kapal besar
untuk menerjang banjir, bukan pula menyiapkan uang berlimpah untuk
menyuap takdir.
Kita hanya perlu keluasan dada untuk memahami bahwa
kebahagiaan kita berbeda dengan standar mereka. Bahagia adalah tidur
pulas setelah berjam-jam membaca buku, bahagia adalah kelelahan bekerja
untukmu dan anak-anakku.
Siapapun dirimu, sejak sekarang kita harus sadar.
Bahwa berumah tangga tidak melulu soal cinta. Hati kita boleh
menyala-nyala. Namun kita tak perlu berlebihan dengan berkata, "Yang
kita kerjakan harus didasari cinta."
Dua puluh tahun setelah pernikahan kau pasti tak lagi
menarik seperti saat pertama jumpa, saat kita berhaha-hihi menerima
ajakan foto handai taulan setelah resepsi.
Sedang hasratku sebagai lelaki akan tetap sama. Pada
waktu itu kita akan berdebat soal poligami, saat anak-anak kita sedang
berada di pondok.
"Aku setuju dengan poligami tapi tak mau dipoligami." jawabanmu mungkin begitu.
Tapi itu biasa saja. Yang tak boleh ada diantara kita
adalah penghianatan. Aku sudah pernah dikhianati. Aku yakin kamu juga.
Dan sekuat apapun manusia, sesabar apapun dia. Takkan ada yang berkata
lantang sambil mendongakkan badan."Aku siap dihianati."
Aku pun demikian. Aku siap menjalani penderitaan apapun. Tapi aku tak siap dikhianati olehmu.
Kesetiaan harus dirawat, seperti merawat anak-anak
kita sampai mereka dewasa,sampai ajal menjemput satu diantara kita. Tapi
siapa pun kamu, saat ujian mendera aku ingin jadi alasanmu kembali
bercahaya dan aku ingin menjadi alasanmu untuk tak tunduk pada duka.
Siapapun dirimu, kita belum pernah bertemu. Tapi aku
percaya kalau kau juga sepakat untuk tidak menganggap hidup ini
sederhana. Semua yang terjadi bahkan alasan mengapa kita tidak bertemu
adalah akibat dari segala jenis keruwetan yang terjadi di alam semesta.
Boleh jadi ini juga diakibatkan oleh sesuatu yang sama
sekali tak kita duga. Seperti kepak sayap kupu-kupu di belantara Afrika
atau mayat-mayat yang dibunuh aparat di Papua.
Suatu hari nanti, satu diantara kita akan berkata,
"Aku cinta kamu." dan satu yang lain mengatakan, "Aku tidak." Tapi pada
akhirnya aku atau mungkin kamu merasakan kehilangan saat aku atau kamu
pergi ke luar kota.
Siapapun kamu, aku percaya kelak akan mengalami susah
fokus saat bekerja karena melihatmu yang tiba-tiba merias wajah. Kau
datang dengan aroma harum bersandar di punggungku kemudian memberi kabar
bahagia tentang anak-anak kita yang mewarisi sifat bapaknya.
Lantas aku menutup laptopku mendengarkanmu membacakanku buku baru sampai tertidur di pangkuanmu.
Siapapun kamu, aku akan mencintaimu.
Sumber, 10 Desember 2014
Wednesday, December 10, 2014
SIAPA PUN KAMU, AKU AKAN MENCINTAIMU (85)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment