Oleh: Rizal Mubit
KEPADA KAMU YANG NINGGAL AKU RABI
Ada gelak tawamu pada tiap sudut kota Malang. Pada spanduk tepi jalan, tong sampah terminal, air wudhu bau di Wilis, trotoar depan kampus bahkan pada tiap dedaunan yang berserakan di kuburan.
Singkatnya, Malang berhias mantan. Saya tak perlu gengsi dan mengeluarkan banyak tenaga untuk move on. Apalagi bersikap melankolis untuk hal yang remeh temeh semacam ini. Sekalipun sampai detik ini saya masih berpikir untuk mencari alasan menghindar dari ritual pernikahanmu.
Kamu sudah tak di sini, tak lagi mengirimkan nyanyian sendu lewat whatsapp. Sedang saya akhirnya hanya menghitung usaha yang telah saya lakukan untuk membuat kenangan. Maka, bagi saya melupakan mantan adalah pemborosan. Olehnya, saya tak perlu mencari alasan-alasan klise untuk mengubur kisah lalu yang penuh kegetiran.
Sekali lagi saya katakan, Malang berhias mantan. Sayang kamu tak ada disini. Di saat ada kopi yang tak lagi berasap karena sudah lama saya memutar ingatan yang sederhana, tentang kamu yang dilarang ibumu makan di warung.
Saya tak perlu mendatangi tempat-tempat penting, karena sejatinya setiap tempat mampu mengurai kenangan. Saya bisa mengingatmu tanpa harus mengendus harum parfum penjaga minimarket atau membeli tiket masuk Selecta. Pada setiap genangan air di selokan pun ada kamu.
Ah, benar kata orang. Ketika seorang mantan sudah melupakan, saya akan menjadi seperti sisa cabe gorengan yang tak termakan. Atau bungkus kentang pedas yang lupa tak kaubuang di tong sampah food court.
Tapi saya punya sesuatu yang tak dimiliki suamimu. Saya lihai bernyanyi yang bisa mengimbangi suaramu. Ya, walaupun kau pernah jadi anggota grup vokal dan aku hanya penyanyi gagal.
Saya pun sadar banyak hal yang tak kupunya, tapi dimiliki suamimu. Tapi dia tak pernah menuliskan puisi untukmu dan ngobrol berjam-jam di toko buku. Dia juga tak pernah menyanyikan lagu-lagu sendu untuk menafikan kedinginan malam.
“Suatu hari nanti, kamu akan melupakanku.” katamu.
Wahai, gagal move on bukanlah perkara keji yang harus dibenci. Justru dia memberi saya tenaga untuk mencipta puisi dan menyusun tulisan ini dengan seizinmu. Sementara ada banyak hal yang lebih mulia dibanding berbelit-belit untuk melupakanmu.
Saya bisa saja menyimpan rapat kenangan walaupun saya tahu, kadang saya begitu kagum untuk bercerita tentangmu, yang kuanggap sebuah pencapaian dan takkan pernah hilang. Ya, bisa duduk di sampingmu dalam bis atau memboncengmu sampai gerbang kota adalah sebuah prestasi.
Saya ingin bilang padamu, mengingat mantan bukan sekedar melihat foto saat kita masih berleha-leha di sebuah tempat wisata. Sekalipun terkadang ada tragedi yang tersimpan dalam komedi. Dan hanya kita berdua yang mampu memahami.
Mengingatmu tak butuh perenungan sebagaimana mengingat kematian. Mengingatmu hanyalah mengingat orang yang kita rindukan keberadannya. Walau terselip luka bernada pilu saat muncul bayang sosok penelikung yang membuatku disesaki rasa cemburu. Akan lebih rumit jika penelikung itu adalah seorang teman, sekalipun hanya teman jauhku.
Dan sepertinya kamu juga masih setia menyimpan semuanya dalam samudera hati seorang perempuan. Barangkali calon suamimu takkan pernah tahu sampai dia mati.
Dia pasti tahu kalau kau suka pedas. Tapi dia tak mungkin tahu bahwa kau pernah tak menghabiskan bakso kikil lalu sisanya kumakan. Dia tahu kalau makanan favoritmu adalah kepala ayam, tapi dia takkan tahu kita pernah berkisah tentang relief-relief sambil berjalan menyusuri reruntuhan candi Penataran.
Ya, saya mengajakmu ke sana seminggu setelah banyak kalimat-kalimat yang saya kirimkan lewat pesan singkat sambil senyum-senyum sendiri. Kamu pun demikian, tiba-tiba menyapaku lewat whatsapp dan mengirimkan nyanyian sendu tentang kehilangan dan tentang bagaimana cara cinta diucapkan.
Dia juga takkan pernah tahu bahwa kita pernah duduk berdampingan di gedung bioskop sambil berbisik membicarakan film horror Hollywood yang kita saksikan, lalu saya menyuruhmu membawa tas berisi buku-buku yang kita belanjakan di Wilis.
Dia pasti tahu warna kesukaanmu, tapi dia takkan tahu bahwa saya pernah mencubit lengamu dalam angkot menuju Arjosari, saat baju dan jilbabmu berwarna serupa, tosca.
Dia juga takkan pernah tahu, saya memanggilmu dengan nama yang bakal kuberikan pada anakku kelak dan sampai sekarang, kamu memanggilku dengan nama asing. Dan hanya kita yang mengerti. Suamimu pun takkan pernah tahu.
Betapa saat itu kamu masih susah melupakan masa lalumu, tentang kekasihmu yang berbeda agama. Apa kau sudah menceritakannya kepada suamimu? Atau kau sudah mengundang mantan-mantanmu yang lain untuk datang pada pernikahanmu?
Saya masih suka ke Malang, menawar buku di Wilis dan tertawa di dalam gedung bioskop sambil membayangkan ada kamu di sisiku. Sambil meratapi kisah saat di dalam bis menuju pulang yang tak banyak percakapan setelah kamu tersedu mendengarkan lagu-lagu yang mengkisahkan cita beda agama.
Saya, barangkali juga kamu, akhirnya sama-sama menyadari untuk tidak melanjutkan kebersamaan. Ada perbedaan yang tak bisa saya tolelir sampai akhirnya aku memutuskan untuk mundur. Mungkin juga kamu merasakan hal yang sama.
Darimu aku belajar, mantan adalah tentang kegagalan hubungan sampai pernikahan, lalu saya menghibur diri dengan mengatakan “Bahwa takdir Tuhan tidak menghendakimu di pelaminan,” lantas saya diam-diam merestui kebiadaban perselingkuhan.
Ingatan tentang mantan tak perlu saya perindah atau sederhanakan apalagi sampai dilembagakan seperti hari pahlawan yang diperingati dengan upacara dan orkesan. Saya akan tetap membiarkan kenangan itu menjadi hal sederhana yang kuberi nama kegelisahan.
Di kota ini, kamu pernah belajar, pernah terpaksa tidur di asrama mahasiswi yang baru saja kaukenal untuk menghemat uang penginapan setelah makan nasi goreng murahan di pinggir jalan.
Saya takkan menagih kebahagiaan padamu, sebab saya tahu kamu harus mulai belajar memasak untuk suamimu sementara saya masih teringat awal mula perjumpaan kita yang bersekongkol dengan pikiran-pikiran untuk menjadi dekat denganmu.
Biarkan saya bersahabat dengan kesunyian yang bengis, seperti dulu sebelum mengenalmu. Tak perlu lagi saya mengingat tanggal-tanggal kita bertemu untuk kujadikan hari raya. Karena sejatinya saya tahu, kita takkan pernah pergi dan akan tetap bertemu setiap hari kecuali perasaanmu, ia sudah lama berhijrah dari sini juga lokermu yang menjadi saksi bahwa saya pernah diam-diam memberimu kue murahan untuk makan siang.
Belajarlah memasak untuk suamimu.
Sumber, 29 November 2014
No comments:
Post a Comment