29 November 2014
Lha ini
tiba-tiba saya semakin tertarik dengan Barat setelah kemarin sempat
menghinanya. Ini gara-gara belajar filsafat. Dulu suka baca buku-buku filsafat
tapi tak paham-paham. Alhamdulillah waktu kuliah jadi semakin tahu. Khususnya
persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Rasanya riang gembira hati ini
sudah sedikit mampu memahaminya.
Dosen Filsafat
Ilmu yang awalnya kuragukan kapasitasnya semakin hari menunjukkan bahwa aku
salah. Justru kini Pak Rizqon jadi dosen kedua yang bisa jadi orang yang kutanyai,
terutama di bidang filsafat.
Ini juga gara-gara
baca Habis Gelap Terbitlah Terang. Tentang tulisan Kartini yang melampaui batas
usia orang-orang yang hidup sezamannya. Ia pun tertarik dengan kehidupan Eropa.
Penyebabnya ya mungkin sama dengan yang kupikirkan. Bagaimana lagi kalau ingin
jadi orang yang benci pada keterlambatan, kemalasan, kebodohan ya jangan hidup
di sini. Kalau tidak demikian, lama-lama saya harus memaklumi ketertinggalan
bangsa ini, khususnya dalam hal berpikir dan hal-hal negatif lainnya.
Waktu lalu, aku
presentasi tentang aksiologi dan musytarak. Lumayan memuaskan karena mampu
menjelaskan dengan baik dan dapat sanjungan dosen. Tapi bukan itu yang
membuatku senang. Yang terpenting adalah pemahamanku tentang aksiologi, pilar
terakhir dalam filsafat. Aku jadi tahu nilai yang dijadikan acuan oleh orang
Barat, khusunya Amerika adalah humanisme bukan agama.
Setelah perang
dunia pertama, negara pemenang menjajah negara yang kalah. Begitu perang negara
kedua, Amerika menang tapi justru dia mengajari Jepang, negara yang
dikalahkannya bukan malah dijajah.
Memang kata
dosen itu disebabkan oleh humanisme tapi saya berpikir bahwa cara menaklukkan
musuh ya begitu. Diajari untuk dijadikan sekutu. Sedikit banyak akan takluk
walaupun resikonya tinggi. Bisa jadi yang diajari akan membangkang seperti
Usama bin Laden dan kawan-kawannya yang akhirnya menentang.
Tapi berpikir
humanis memang asyik. Hanya saja aku masih bingung meletakkan posisi agama dan
Tuhan. Di sisi lain, humanisme bisa bersahabat dengan hedonisme dan
syahwatisme. Aduh masih bingung aku. Perlu belajar lagi.
Beberapa hari,
semangat menulis begitu tinggi dan seperti mudah sekali menuangkan sesuatu
dalam tulisan. Ada banyak ide yang tiba-tiba muncul ketika berada di depan
layar. Asyik rasanya. Alhamdulillah.
Masih ada cerita
yang perlu kutulis lagi, tentang temanku yang cantik. Kehidupannya keras sejak
kecil walaupun wajahnya tak sedikitpun menyiratkan kerasnya hidup yang
dialaminya semenjak kecil.
Ah, dia. Sayang
sudah akan menikah dengan seorang duda. Mudah-mudahan kerasnya hidup yang
dialaminya sejak kecil selesai dengan pernikahannya.
No comments:
Post a Comment