Tuesday, December 9, 2014

HUMANISME ATAU SYAHWATISME?

29 November 2014
Lha ini tiba-tiba saya semakin tertarik dengan Barat setelah kemarin sempat menghinanya. Ini gara-gara belajar filsafat. Dulu suka baca buku-buku filsafat tapi tak paham-paham. Alhamdulillah waktu kuliah jadi semakin tahu. Khususnya persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Rasanya riang gembira hati ini sudah sedikit mampu memahaminya.
Dosen Filsafat Ilmu yang awalnya kuragukan kapasitasnya semakin hari menunjukkan bahwa aku salah. Justru kini Pak Rizqon jadi dosen kedua yang bisa jadi orang yang kutanyai, terutama di bidang filsafat.
Ini juga gara-gara baca Habis Gelap Terbitlah Terang. Tentang tulisan Kartini yang melampaui batas usia orang-orang yang hidup sezamannya. Ia pun tertarik dengan kehidupan Eropa. Penyebabnya ya mungkin sama dengan yang kupikirkan. Bagaimana lagi kalau ingin jadi orang yang benci pada keterlambatan, kemalasan, kebodohan ya jangan hidup di sini. Kalau tidak demikian, lama-lama saya harus memaklumi ketertinggalan bangsa ini, khususnya dalam hal berpikir dan hal-hal negatif lainnya.
Waktu lalu, aku presentasi tentang aksiologi dan musytarak. Lumayan memuaskan karena mampu menjelaskan dengan baik dan dapat sanjungan dosen. Tapi bukan itu yang membuatku senang. Yang terpenting adalah pemahamanku tentang aksiologi, pilar terakhir dalam filsafat. Aku jadi tahu nilai yang dijadikan acuan oleh orang Barat, khusunya Amerika adalah humanisme bukan agama.
Setelah perang dunia pertama, negara pemenang menjajah negara yang kalah. Begitu perang negara kedua, Amerika menang tapi justru dia mengajari Jepang, negara yang dikalahkannya bukan malah dijajah.
Memang kata dosen itu disebabkan oleh humanisme tapi saya berpikir bahwa cara menaklukkan musuh ya begitu. Diajari untuk dijadikan sekutu. Sedikit banyak akan takluk walaupun resikonya tinggi. Bisa jadi yang diajari akan membangkang seperti Usama bin Laden dan kawan-kawannya yang akhirnya menentang.
Tapi berpikir humanis memang asyik. Hanya saja aku masih bingung meletakkan posisi agama dan Tuhan. Di sisi lain, humanisme bisa bersahabat dengan hedonisme dan syahwatisme. Aduh masih bingung aku. Perlu belajar lagi.
Beberapa hari, semangat menulis begitu tinggi dan seperti mudah sekali menuangkan sesuatu dalam tulisan. Ada banyak ide yang tiba-tiba muncul ketika berada di depan layar. Asyik rasanya. Alhamdulillah.
Masih ada cerita yang perlu kutulis lagi, tentang temanku yang cantik. Kehidupannya keras sejak kecil walaupun wajahnya tak sedikitpun menyiratkan kerasnya hidup yang dialaminya semenjak kecil.
Ah, dia. Sayang sudah akan menikah dengan seorang duda. Mudah-mudahan kerasnya hidup yang dialaminya sejak kecil selesai dengan pernikahannya.

No comments:

Post a Comment