Oleh: Rizal Mubit
Adikku, ada tanggal yang selalu kauingat, tanggal lahirmu dan tanggal lahir ibumu. Ada tanggal yang tak akan pernah kauketahui, tanggal kematianmu. Ada tanggal yang direncanakan oleh dua keluarga, tanggal yang ditentukan sambil kau pura-pura tertawa.
Kau pasti tahu tanggal apa itu. Tanggal yang nanti menjadi awal pembuktian. Apakah jargon trisno jalaran soko kulino itu nyata atau hanya sekedar omong kosong yang terucap karena kedaifan. Aku tak tahu. Yang jelas, sampai detik ini tak ada cinta yang menyayat rindu dalam dirimu.
Hubungan ini belum sampai pada tahap melankolis. Kita masih belum bisa mendefinisikannya menjadi satu istilah rasional, mewakili perasaan orang-orang yang kita lukai.
Aku terpikir untuk menghentikan perasaan ini, Adikku. Tapi apa yang dihentikan? kita belum memulai. Bodohnya, tak ada yang bisa dilanjutkan. Dua keluarga sudah menentukan tanggal. Ah, biarkan nanti Tuhan yang mengatur. Perjumpaan ini diatur oleh-Nya, termasuk perjodohanmu.
Mantra apalagi yang pantas terucap jika bukan,”Kita harus berbaik sangka pada Tuhan.” kalimat yang katanya pantas diucapkan oleh manusia bertuhan sebagai wujud rasa tawakkal. Tawakkal macam apa yang menghendaki pemakaman rasa sakit untuk berpura-pura mengabadikan kegembiraan.
Adikku, aku sudah terbiasa seperti ini. Bahkan lebih dari ini. Dicintai orang yang sudah bertunangan dan dicintai oleh orang yang sudah menikah. Tapi aku belum dicintai olehmu. Kita baru sekedar berhaha hihi di puncak gunung Kelud. Lalu menghentikan pendakian, menuruni bukit berpayung jaket biru karena gerimis.
Kita sadar telah menciptakan tragedi untuk memenuhi jagat kesedihan sambil menggali samudera kebahagiaan dengan berjalan tanpa sandal di tepi pantai, setelah melewati jalan yang lebih pantas untuk lintasan kuda. Aku sadar, Perasaan ini takkan abadi, sama seperti nenekmu, takkan selamanya mengendap di kamar rumah sakit.
Apa ini hanya persoalan cinta yang tak tumbuh dalam dirimu. Lantas kau mengucap, “Tuhan memberi yang terbaik untuk hamba-Nya.” sedang kau pada saatnya nanti berusaha mati-matian untuk mencintainya dan anak tirimu.
Sementara aku hanya berkata sinis,”Tidak selamanya humor Tuhan mengasyikkan.”
Adikku, kita takkan pernah tahu hakikat maksud Tuhan. Kita hanya bisa menterjemahkan semuanya sebagai kegilaan masa muda, walau nanti akan ada rasa ngilu saat mengingat kamu meminta difoto sambil memainkan ombak dan pasir.
“Kamu akan menemukan yang lebih baik dariku.” ucapmu padaku.
Iya, tapi aku masih butuh waktu untuk menitipkan rindu, pada sisa tisu yang terbuang di bawah jendela, jaring laba-laba di pojok musholla, atau pada kenari milik kepala desa.
Sedang nanti kau tak sendiri, Adikku. Di saat aku mencari alasan bagaimana agar tidak membenci perpisahan dan tak meramu dendam, kamu sedang mencuci baju suamimu atau memberi makan anak tirimu.
Iya benar. Aku tak rela. Aku tak ikhlas. Sebab kejujuran akan mengatakan bahwa ikhlas hanya sebuah proses adaptasi antara hati yang tersakiti dengan kenyataan yang tak bisa dihindari.
Adikku, aku berhak bahagia, juga kamu. Walau pada akhirnya akan ada sunyi yang datang merenggut kebahagiaan itu, saat kenangan tentangmu berebut untuk memenuhi bagian lain dari kehidupanku. Lalu tiba-tiba aku menyadari bahwa diri ini hanya sosok pandir yang tak pernah kumaafkan.
Akan lebih mudah mengingat saat aku lupa tak menawarimu minum dari pada teringat masa kecilku yang hobbi mengumpulkan rongsokan dari tong sampah belakang rumah keluarga kaya.
Aku tak pernah meminta bertemu lakon sepertimu dalam pentas hidup ini. Tapi Zat yang Maha telah menentukan lain. Kita dipertemukan karena kita sama-sama suka menulis puisi sedu sedan.
Barangkali nanti akan ada rindu yang tak bisa kita ungkapkan. Lalu diam-diam saling mengintip aktifitas masing-masing lewat tulisan-tulisan yang telah jadi buku. Lalu kita mendengarkan lagu yang sama di tempat berbeda.
Kau takkan menungguku lagi di depan gerbang desa dekat tempatmu bekerja. Dan aku takkan lagi sembunyi-sembunyi menurunkanmu di tengah jalan. Tapi kita masih bisa bertemu, saat halaman samping rumahmu becek oleh hujan atau saat senja perlahan menghitam.
Aku sedang menunggu dimana kau membatalkan semua janji dan tiba-tiba tak ada lagi whatsapp, pesan masuk atau apapun yang membuat kita komunikasi. Tentu dengan alasan logis, bahwa kamu akan menikah.
Adikku, kau harus tahu bahwa tak ada yang memakai akal sehat saat patah hati. Tapi aku akan menggunakannya. Aku sudah menyiapkan ruang luas untuk menempatkan kekecewaan.
Dimulai dua minggu ke depan, akan ada sosok yang mengejarmu ketika lari, akan ada yang selalu mendengarmu walau kau berbicara lirih. Akan ada yang menghampirimu saat kau sendiri. Tapi itu bukan aku. Dialah suamimu, duda yang dipilihkan nenekmu.
“Hidup ini tak adil.” katamu.
Benar adanya. Kita hanya bisa menterjemahkan ketidakadilan itu dengan keluhan. Perempuan takkan bisa apa-apa. Kartini sudah mendebatnya ratusan tahun lalu. Dan dia pun pada akhirnya tak kuasa akan titah bapaknya.
Sedang dirimu, sejak kecil tak pernah mengenal sosok yang penuh kasih. Kau dibesarkan dengan kebencian oleh manusia yang mengaku punya otak dan hati, dibiarkan mencari makan dengan mengamen di lampu merah tiap pagi.
Barangkali kau ingin kembali ke masa itu. Masa dima kau tak pernah malu memakai baju kumuh sambil bermain layang-layang, saat kau sudah merasa kenyang hanya dengan makan sepotong roti keju dan masa dimana tak ada yang merebutkanmu.
Kini, ada banyak orang yang menawarimu berlindung, termasuk aku. Dengan janji yang kualitasnya seperti sumpah setia pegawai rendahan. Beribu sayang, ketika tanggal ditentukan tanpa adanya keterlibatan rasa cinta, aku datang tanpa janji, tanpa rayu, tanpa sumpah yang justru mampu mengajarimu arti kepedihan.
Akan ada sesal saat kita memutar waktu, Adikku. Langkah kita tertahan di saat pikiran kita bertaruh dengan masa silam. Tanpa kita sadari, naluri merasa bahwa hidup ini tak adil karena kita tak bisa memiliki semua. Maka adikku, kita harus sepakat, menilik masa silam adalah mengerikan.
Sumber, 2 Desember 2014
No comments:
Post a Comment