Oleh: Rizal Mubit
Pada akhirnya, kita harus nonton AADC, di rumah sepi tak berpenghuni samping makam tua, setelah membincangkan Ushul Fikih, Epistemologi, sastra, pendidikan, misogini, empirisme Imam Bukhori dan tak lupa menertawakan masa silam.
Kita setuju, Cinta gengsinya terlampau tinggi. Padahal dalam banyak hal, sifat itu merugikan dirinya. Gara-gara gengsinya dia tak sadar sudah menuangkan saos dalam bakso melebihi porsi. Dia lebih memilih berkelahi dengan perasaan gengsi dan cintanya dari pada bicara kepada teman-temannya.
Untung ada Alya, tokoh paling kalem dalam film. Dialah yang paling tahu perasaan Cinta dibanding sahabatnya yang lain. Kataku, itulah salah satu ciri kebanyakan manusia cerdas. Ah, yang pintar ini ya Riri Reza dan Mira Lesmana. Bisa menciptakan tokoh semacam Cinta.
Dulu kita juga seperti mereka, Cak. Sama-sama suka baca dan nulis. Kita santri denganmu. Kau berkali-kali mengkhatamkan Ayat-Ayat Cinta, aku sekali menyelesaikan Harry Potter seri 5 yang tebalnya sekitar 1400 halaman.
Tapi, kita juga hobby mendiskusikan kitab kuning di sela kesibukan menghafal nadhom-nadhom alfiyah. Ya, walau tema diskusi waktu itu tak semenarik apa yang kita bicarakan malam ini. Hanya diskusi ecek-ecek di emper kamar atau di kantor majalah.
Diantara kita ada obsesi anak-anak beranjak dewasa, ingin jadi ahli tafsir yang suka menulis sastra seperti Buya Hamka, tokoh yang karyanya pernah kaujadikan naskah drama bahasa Arab, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Drama yang takkan pernah terlupa sepanjang hidup walaupun kita hanya jadi nomor dua waktu itu.
Entah sudah berapa kali kita nonton AADC ini. Kita hafal pada hampir tiap dialog yang diucapkan oleh Rangga dan Cinta. Tak hanya hafal puisi berjelaga bila kusendiri.
Yang selalu ada dalam obrolan kita berdua adalah, komedi yang seraingkali hanya kita berdua yang bisa memahami. Selalu. Inilah yang kita rindu. Aku bisa memastikan, mencari teman bicara memang mudah, mencari kekasih juga mudah. Yang susah adalah mencari teman becanda yang memiliki satu mindset. Sama susahnya dengan mencari jodoh.
Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu.
Begitu kalimat pertama dalam mini drama AADC 2014. Kita tak banyak membahas kalimat itu. Tapi masalah waktu, kita pernah terpisah lima tahun lamanya. Kita mulai berbeda dalam banyak hal. Bahkan di awal tahun, kita sudah mulai berdebat dalam masalah fikh. Pada tiga tahun terakhir, kita mulai punya kesamaan berpikir.
Kita bukan manusia lebai yang mengatakan, kita adalah teman baik sahabat baik yang punya prinsip seperti Cinta dan keempat kawannya. Justru Rangga bilang, pertemanan Cinta tak punya prinsip, mengorbankan kepentingan pribadi untuk sesuatu yang tak prinsipil. Ah, tahu apa mereka waktu itu tentang yang mereka bicarakan.
Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab.
Kalimat terakhir Rangga itu saja memunculkan pertanyaan. Tapi tak penting untuk dibahas. Banyak pertanyaan dalam diri kita sendiri. Pertanyaan sederhana saja seperti siapa diantara kita berdua yang lebih dulu menikah? kemana nanti kita lanjutkan studi setelah selesai magister? Pertanyaan simpel yang tak berani kita jawab secara terang-terangan.
Bukan karena kita ini tak berani rabi atau takut masa depan. Ini masalah kesepakatan teologis, bahwa membiarkan hidup ini berjalan sebagaimana mestinya lebih menyenangkan dari pada sok tahu tentang takdir Tuhan.
"Kita tak perlu takut mengkaji Marx atau bahkan Niestche. Semua manusia pasti punya sisi baik dan buruk. Asal tak mengagungkan saja." katamu.
"Ya. Asal tidak fanatik. Tak perlu picik dalam beragama." aku menambahi. Entah nyambung atau tidak kalimatku dengan yang dibicarakannya.
Membicarakan tokoh atheis yang sempat menghina agama memang agak tabu bagi alumni universitas yang berada di negeri Yaman sepertimu, Cak. Dan jadi lebih asyik juga karena kita tak lupa kehebatan para habaib dalam berislam. Kita sama-sama mengakui kredibilitas beberapa habaib baik secara moral sosial dan kesalehan individual.
Kita sepaham dalam banyak hal, termasuk Ladya Cherryl, tokoh Alya dalam AADC adalah yang tercantik diantara para gadis pemain AADC. Memang dia yang paling tua diantara Dian Sastro dan kawan-kawannya. Sayang, dia sudah menikah.
Yang tak biasa dalam diskusi malam ini adalah kita bicara ngelantur tanpa kopi. Hanya jahe yang kautuangkan dalam gelas plastik air mineral. Sesuai kesepakatan, kita menutup nostalgia tak sampai pagi. Jam dua belas kita sudah terkalahkan oleh kantuk demi hal penting yang harus kita lalui besok. Kata Cinta, dan pagi selalu menawarkan cerita baru.
Esok hari kita berpisah lagi, mengumpulkan cerita-cerita baru seperti yang ditawarkan Cinta kepada Rangga. Rasa-rasanya kisah kita akan tetap sama, tentang mahasiswa pascasarjana yang membawa bertumpuk buku. Mahasiswa pascasarjana yang kepalang edealis padahal di dalam hatinya tersimpan harapan ada mahasiswi S1 yang diam-diam melirik kita karena keaktifan kita saat diskusi.
“Cobaan mencari ilmu itu banyak. Termasuk mahasiswi-mahasiswi S1 yang modis itu. Memang tak ada masalah kalau nikah sambil kuliah. Tapi ya konsentrasi bakal terbagi. Lagian. . . Mbok ya kita nyadar diri dengan muka pas-pasan ini. Ini bukan roman tahun tujuh puluhan yang bisa diawali dengan buku lalu berlanjut ke malam Minggu. Sudah tak zaman lagi mendebatkan buku-buku sejarah. Tentu akan lebih menarik membahas mengapa film Hollywood selalu happy ending dibanding berlama-lama duduk di perpustakaan.” katamu.
Iya, Cak. Tapi mereka rabiable. Lumayan juga membicarakan film dengan mereka. Setidaknya film-film Hollywood itu banyak yang didasarkan pada sains modern, tidak melulu melibatkan perasaan seperti AADC yang kadang justru memunculkan banyak tanya.
Kalau dikaji secara filsafat. Film seperti Angels and Demons itu atau Ghost Protocol. Dari sana kita bisa belajar kedisiplinan dan kecerdasan berpikir seorang Agent Ethan yang diperankan oleh Tom Cruise.
Ya, aku sadar membandingkan film-film Barat dengan sinetron Indonesia memang tak fair. Adilnya kita bandingkan saja AADC dengan gaya sinetron cinta-cintaan sekarang yang miskin makna.
Sosok Rangga dan Cinta itu menggambarkan anak-anak sekolah yang keranjingan dengan buku. Walaupun ada Sissy Pricilia yang memerankan tokoh tulalit, dia tak terlalu berlebihan, tidak ndeso. Malah dia aktif dalam ekstra jurnalis. Walaupun kadang disuruh-suruh Cinta seperti menulis kekesalannya walaupun pertama bertemu Rangga.
Artinya ada energi positif yang ditawarkan oleh sutradara agar yang menonton juga terobsesi untuk suka baca dan menulis. Seperti kita, walau tak setampan Rangga, tanpa kita sadari, ternyata jadi sosok yang suka menyendiri, baca buku dan begitu gemar menulis puisi.
Sumber 30 November 2014
Kita setuju, Cinta gengsinya terlampau tinggi. Padahal dalam banyak hal, sifat itu merugikan dirinya. Gara-gara gengsinya dia tak sadar sudah menuangkan saos dalam bakso melebihi porsi. Dia lebih memilih berkelahi dengan perasaan gengsi dan cintanya dari pada bicara kepada teman-temannya.
Untung ada Alya, tokoh paling kalem dalam film. Dialah yang paling tahu perasaan Cinta dibanding sahabatnya yang lain. Kataku, itulah salah satu ciri kebanyakan manusia cerdas. Ah, yang pintar ini ya Riri Reza dan Mira Lesmana. Bisa menciptakan tokoh semacam Cinta.
Dulu kita juga seperti mereka, Cak. Sama-sama suka baca dan nulis. Kita santri denganmu. Kau berkali-kali mengkhatamkan Ayat-Ayat Cinta, aku sekali menyelesaikan Harry Potter seri 5 yang tebalnya sekitar 1400 halaman.
Tapi, kita juga hobby mendiskusikan kitab kuning di sela kesibukan menghafal nadhom-nadhom alfiyah. Ya, walau tema diskusi waktu itu tak semenarik apa yang kita bicarakan malam ini. Hanya diskusi ecek-ecek di emper kamar atau di kantor majalah.
Diantara kita ada obsesi anak-anak beranjak dewasa, ingin jadi ahli tafsir yang suka menulis sastra seperti Buya Hamka, tokoh yang karyanya pernah kaujadikan naskah drama bahasa Arab, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Drama yang takkan pernah terlupa sepanjang hidup walaupun kita hanya jadi nomor dua waktu itu.
Entah sudah berapa kali kita nonton AADC ini. Kita hafal pada hampir tiap dialog yang diucapkan oleh Rangga dan Cinta. Tak hanya hafal puisi berjelaga bila kusendiri.
Yang selalu ada dalam obrolan kita berdua adalah, komedi yang seraingkali hanya kita berdua yang bisa memahami. Selalu. Inilah yang kita rindu. Aku bisa memastikan, mencari teman bicara memang mudah, mencari kekasih juga mudah. Yang susah adalah mencari teman becanda yang memiliki satu mindset. Sama susahnya dengan mencari jodoh.
Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu.
Begitu kalimat pertama dalam mini drama AADC 2014. Kita tak banyak membahas kalimat itu. Tapi masalah waktu, kita pernah terpisah lima tahun lamanya. Kita mulai berbeda dalam banyak hal. Bahkan di awal tahun, kita sudah mulai berdebat dalam masalah fikh. Pada tiga tahun terakhir, kita mulai punya kesamaan berpikir.
Kita bukan manusia lebai yang mengatakan, kita adalah teman baik sahabat baik yang punya prinsip seperti Cinta dan keempat kawannya. Justru Rangga bilang, pertemanan Cinta tak punya prinsip, mengorbankan kepentingan pribadi untuk sesuatu yang tak prinsipil. Ah, tahu apa mereka waktu itu tentang yang mereka bicarakan.
Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab.
Kalimat terakhir Rangga itu saja memunculkan pertanyaan. Tapi tak penting untuk dibahas. Banyak pertanyaan dalam diri kita sendiri. Pertanyaan sederhana saja seperti siapa diantara kita berdua yang lebih dulu menikah? kemana nanti kita lanjutkan studi setelah selesai magister? Pertanyaan simpel yang tak berani kita jawab secara terang-terangan.
Bukan karena kita ini tak berani rabi atau takut masa depan. Ini masalah kesepakatan teologis, bahwa membiarkan hidup ini berjalan sebagaimana mestinya lebih menyenangkan dari pada sok tahu tentang takdir Tuhan.
"Kita tak perlu takut mengkaji Marx atau bahkan Niestche. Semua manusia pasti punya sisi baik dan buruk. Asal tak mengagungkan saja." katamu.
"Ya. Asal tidak fanatik. Tak perlu picik dalam beragama." aku menambahi. Entah nyambung atau tidak kalimatku dengan yang dibicarakannya.
Membicarakan tokoh atheis yang sempat menghina agama memang agak tabu bagi alumni universitas yang berada di negeri Yaman sepertimu, Cak. Dan jadi lebih asyik juga karena kita tak lupa kehebatan para habaib dalam berislam. Kita sama-sama mengakui kredibilitas beberapa habaib baik secara moral sosial dan kesalehan individual.
Kita sepaham dalam banyak hal, termasuk Ladya Cherryl, tokoh Alya dalam AADC adalah yang tercantik diantara para gadis pemain AADC. Memang dia yang paling tua diantara Dian Sastro dan kawan-kawannya. Sayang, dia sudah menikah.
Yang tak biasa dalam diskusi malam ini adalah kita bicara ngelantur tanpa kopi. Hanya jahe yang kautuangkan dalam gelas plastik air mineral. Sesuai kesepakatan, kita menutup nostalgia tak sampai pagi. Jam dua belas kita sudah terkalahkan oleh kantuk demi hal penting yang harus kita lalui besok. Kata Cinta, dan pagi selalu menawarkan cerita baru.
Esok hari kita berpisah lagi, mengumpulkan cerita-cerita baru seperti yang ditawarkan Cinta kepada Rangga. Rasa-rasanya kisah kita akan tetap sama, tentang mahasiswa pascasarjana yang membawa bertumpuk buku. Mahasiswa pascasarjana yang kepalang edealis padahal di dalam hatinya tersimpan harapan ada mahasiswi S1 yang diam-diam melirik kita karena keaktifan kita saat diskusi.
“Cobaan mencari ilmu itu banyak. Termasuk mahasiswi-mahasiswi S1 yang modis itu. Memang tak ada masalah kalau nikah sambil kuliah. Tapi ya konsentrasi bakal terbagi. Lagian. . . Mbok ya kita nyadar diri dengan muka pas-pasan ini. Ini bukan roman tahun tujuh puluhan yang bisa diawali dengan buku lalu berlanjut ke malam Minggu. Sudah tak zaman lagi mendebatkan buku-buku sejarah. Tentu akan lebih menarik membahas mengapa film Hollywood selalu happy ending dibanding berlama-lama duduk di perpustakaan.” katamu.
Iya, Cak. Tapi mereka rabiable. Lumayan juga membicarakan film dengan mereka. Setidaknya film-film Hollywood itu banyak yang didasarkan pada sains modern, tidak melulu melibatkan perasaan seperti AADC yang kadang justru memunculkan banyak tanya.
Kalau dikaji secara filsafat. Film seperti Angels and Demons itu atau Ghost Protocol. Dari sana kita bisa belajar kedisiplinan dan kecerdasan berpikir seorang Agent Ethan yang diperankan oleh Tom Cruise.
Ya, aku sadar membandingkan film-film Barat dengan sinetron Indonesia memang tak fair. Adilnya kita bandingkan saja AADC dengan gaya sinetron cinta-cintaan sekarang yang miskin makna.
Sosok Rangga dan Cinta itu menggambarkan anak-anak sekolah yang keranjingan dengan buku. Walaupun ada Sissy Pricilia yang memerankan tokoh tulalit, dia tak terlalu berlebihan, tidak ndeso. Malah dia aktif dalam ekstra jurnalis. Walaupun kadang disuruh-suruh Cinta seperti menulis kekesalannya walaupun pertama bertemu Rangga.
Artinya ada energi positif yang ditawarkan oleh sutradara agar yang menonton juga terobsesi untuk suka baca dan menulis. Seperti kita, walau tak setampan Rangga, tanpa kita sadari, ternyata jadi sosok yang suka menyendiri, baca buku dan begitu gemar menulis puisi.
Sumber 30 November 2014
No comments:
Post a Comment